Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Aku memperhatikan laki-laki yang sedang menyantap makanannya itu dengan lahap. Dia tak sadar kalau aku memperhatikannya. Hingga kini, setelah setahun pernikahanku, aku masih tak bisa menerima kenyataan tentang statusku yang telah menjadi seorang istri. Aku bukan istri yang baik karena sampai kini aku masih tak bisa menjalankan kewajibanku sebagai istri. Aku mengurusi keperluanku dan dia mengurusi dirinya sendiri. Kami memang tinggal serumah tapi tidur di kamar yang berbeda dengan kata lain kalau kami tak pernah bersentuhan layaknya suami istri.

Tak ada yang tahu tentang kehidupan rumah tanggaku karena kami sepakat menutupnya rapat-rapat. Sebisa mungkin aku berusaha tampil tertutup di depannya agar tak mengusik nalurinya sebagai lelaki yang konon gampang tergoda hanya dengan melihat saja. Ia tak pernah memintaku apalagi memaksaku untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Ia menghargai apapun keputusanku karena ia tahu ini adalah pernikahan yang tak pernah kuinginkan.

Pernikahanku memang bukan karena cinta bukan pula karena umurku yang telah menginjak kepala tiga tapi karena aku terjebak dalam rasa terpaksa dan ingin menjaga nama baik keluarga. Saat itu kakak perempuanku yang telah bertunangan, pergi dengan laki-laki lain tepat menjelang hari pernikahannya. Kami semua panik dan mencarinya kemana-mana tapi tak juga menemukannya. Beberapa jam menjelang pernikahan sang calon mempelai datang menghampiriku dan tertunduk di hadapanku. Aku terkejut ketika mendengar permintaannya. Ia memintaku untuk menggantikan posisi Rifa kakakku sebagai mempelai perempuan.

Mulanya aku marah, marah akan kelancangan kak Rifa yang seolah-olah telah menjebakku seperti ini. Aku juga kecewa pada orang tuaku yang juga menginginkan hal yang sama, menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak pernah kuimpikan hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarga. Dan tentu saja marah pada laki-laki yang tiba-tiba saja datang memintaku untuk menjadi istrinya. Sama sekali tak ada yang mendukungku untuk menolak pinangan itu, pun dengan alasan kalau aku tak mencintainya. Bagi mereka cinta bisa datang karena kebersamaan. Sungguh aku merasa hidupku seolah hancur berantakan, tak mampu membayangkan hidup bersama laki-laki yang tak kucintai sama sekali. Aku tak punya pilihan lain, rasanya aku ingin melarikan diri dari tempat itu tapi aku tak mampu melakukannya. Aku hanya bisa pasrah, pasrah pada takdir yang telah membuatku seperti itu.

Detik-detik menjelang pernikahan itu seperti mimpi buruk bagiku. Aku tak kuasa melawannya terlebih mengingat kedua orang tuaku yang akan menanggung malu jika pernikahan ini batal. Para undangan mulai berdatangan dan akad nikah pun dimulai. Tubuhku serasa kaku sedang hatiku dingin seperti tersiram air es. Kulihat laki-laki itu dengan lancar mengucapkan ijab kabul. Aku sendiri duduk terpaku dengan mulut terkunci sambil terus meneteskan air mata.

Babak baru kehidupan pernikahanpun dimulai. Tak ada malam pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Yang ada hanya gambaran kehidupan antara dua orang asing yang hidup serumah tanpa ikatan cinta. Masih kuingat dengan jelas hari-hari pertama pernikahan kami ketika masih tinggal di rumah orang tuaku. Setiap malam menjelang, aku akan menaruh pisau lipat, gunting dan barang tajam lainnya di dekat tempat tidurku dan aku selalu mengancam laki-laki itu jika dia berani macam-macam padaku.

Beberapa kali aku memintanya untuk menikah lagi dan meninggalkanku tapi Ia selalu menjawab kalau Ia belum siap. Dan bagiku jawabannya itu sangat menyiksaku karena aku benar-benar ingin lepas darinya. Lepas dari kehidupan pernikahan tanpa cinta yang membuatku seakan kehilangan gairah hidup.

Hidup di rumah laki-laki yang tak kucintai seperti penjara bagiku meski Ia tak pernah melarangku untuk keluar rumah dan bergaul dengan teman-temanku. Tak ada istilah rumahku surgaku seperti impianku dulu, yang ada hanyalah rumah yang asing, dingin dan hambar. Rasanya aku ingin pergi dari rumah itu tapi tak tahu harus kemana. Aku tak mungkin kembali ke rumah orang tuaku atau ke rumah famili yang lain.

Hingga suatu hari aku keluar kota karena ada acara reuni bersama teman-teman semasa kuliah dulu. Aku merasakan perasaan yang lain ketika jauh dari rumah suamiku. Seminggu lamanya aku tak berada di rumah itu dan entah kenapa aku ingin sekali pulang. Rasa kesepian yang kerap kurasakan jika berada di rumah laki-laki itu seolah-olah memanggilku untuk pulang.

Tak lama kemudian aku mendapat telepon dari ibuku untuk segera pulang tapi anehnya beliau menyuruhku untuk pulang ke rumah ibu bukannya ke rumah suamiku. Aku langsung menuju rumah ibuku. Disitu kulihat ibu sedang termenung, kutatap matanya ada kelabu disana. Ibu menarik lenganku dan mengatakan kalau Ia ingin mengajakku ke suatu tempat. Aku heran tidak biasanya ibu seperti itu.

Aku merasakan dadaku sesak dan pandanganku kabur oleh pedihnya air mata ketika kulihat gundukan tanah merah dengan nisan yang bertuliskan nama suamiku. Kanker otak yang lama dideritanya telah membawanya pergi untuk selama-lamanya. Aku sendiri tak pernah tahu tentang sakit yang dideritanya itu. Dan catatan terakhir dari suamiku membuatku tak sadarkan diri.

Maafkan aku yang telah memaksamu menjadi istriku. Mungkin kau tak pernah tahu kalau aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Namun rupanya hatimu terlalu beku untuk kusentuh hingga rasa bersalah terus menghujamku. Aku hanya ingin kau bahagia….bahagia dengan ketiadaanku.
Selengkapnya.....

Hamparan biru gelap terlihat samar menjadikan laut dan langit bersatu dalam garis horison. Di ufuk barat sana, senja mulai tampak dengan sinar lembayungnya menuntun hari beranjak malam. Angin dingin yang menusuk kulit tak juga membuatku beranjak dari tempat itu. Di geladak kapal yang sunyi tempatku berdiri sejak sore tadi, Aku kembali mengenang apa yang kulewati beberapa hari yang lalu. Dan KM. Kerinci yang kutumpangi saat ini tengah membawaku berlayar mengarungi samudera dengan tujuan pelabuhan Semayang, Balikpapan. Mulanya aku tidak mempunyai keberanian untuk melakukan tindakan nekad seperti ini namun keadaan memaksaku untuk melakukan semuanya. Sungguh, rencana perjodohan yang diinginkan oleh kedua orang tuaku teramat berat untuk kujalani. Mereka memaksaku untuk menikah dengan anak seorang kerabat dekat Ibu. Bagi keluargaku dialah laki-laki yang cocok buatku, sudah mapan katanya. Mapan yang bagi kebanyakan orang tua diukur dengan statusnya sebagai seorang pegawai negeri sipil alias punya NIP padahal NIP tidak bisa menjadi jaminan akan kebahagiaan seseorang. Bayangkan aku harus menikah dengan seseorang yang sangat asing bagiku hanya karena jaminan kemapanan padahal Aku sama sekali tak mengenal orang itu. Jangankan mengenal, melihatnyapun Aku tak pernah jadi bagaimana mungkin aku menjatuhkan pilihan pada orang yang sama sekali asing bagiku. Dan pertemuanku kemarin dengan laki-laki pilihan Ibu membuatku yakin akan keputusanku untuk tidak menerimanya. Bagaimana mungkin aku menikah dengan laki-laki yang hampir seumur dengan ayahku. Apalagi aku tak mengenalnya dan tak tahu akan ahlak dan kualitas keimanannya. Penolakanku akan perjodohan itu membuat Ayah naik pitam. Ia tetap berkeras dengan keinginannya dan aku tak punya pilihan lain selain menikah atau keluar dari rumah. Dan aku memilih keluar dari rumah. Aku tahu aku salah tapi aku tak mungkin menikah karena terpaksa. Yang kutahu Islampun mengajarkan bahwa seorang gadis memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri dalam masalah nikah dan tidak sah pernikahan yang dilangsungkan karena paksaan dan tanpa meminta persetujuan dari calon mempelai. Dengan argumen itu aku mencoba meyakinkan kedua orang tuaku tapi mereka tak peduli maka dengan berat hati aku terpaksa angkat kaki dari rumah.

Kapal mulai merapat perlahan di pelabuhan itu. Buih ombak memutih menari-nari tersapu angin seakan menyambut kedatanganku. Aku menghentikan lamunan dan segera menyatukan diri dengan kerumunan para penumpang yang hendak turun. Dengan bermodalkan secarik kertas yang berisi alamat seorang kerabat jauh dan sepenggal ingatan tentang kota yang pernah kukunjungi sepuluh tahun yang lalu, Aku mulai mencari angkutan dengan jurusan Sepinggan. Hari beranjak senja ketika aku menemukan alamat yang kucari dan Aku hampir tak percaya ketika mendapati rumah itu ternyata telah kosong. Sepertinya rumah itu sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya karena nampak debu yang melekat tebal di kusen jendela. Aku panik dibuatnya kemana aku mencari mereka sedang aku belum menguasai daerah itu. Dan di kota itu, merekalah satu-satunya saudara yang kukenal. Dalam kebingunganku yang teramat sangat tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang yang menyapaku. Seorang perempuan tua yang menjinjing sehelai tikar pandan. Aku menjelaskan tentang kesulitanku padanya, tentang rumah kosong milik kerabatku itu. Perempuan itu tersenyum mendengar penuturanku dan mengatakan kalau penghuni rumah itu sudah pindah sejak tiga bulan yang lalu. Dengan ramah Ia mengajakku untuk ikut dengannya kerumahnya yang berada di pinggiran kota. Aku menurut saja mengikuti langkah perempuan yang tertatih-tatih itu.

Nenek Sani, nama seorang perempuan tua yang telah berbaik hati mau menampungku di rumahnya. Ia tinggal seorang diri di rumah panggung yang luas itu. Tiap hari wanita itu menganyam tikar pandan, pekerjaan yang ditekuninya sejak puluhan tahun silam. Suaminya yang seorang penjaga sekolah telah lama meninggal sejak sepuluh tahun yang lalu sedang anak laki-lakinya yang hanya seorang itu merantau ke Malaysia dan hampir dua puluh tahun tak pernah pulang. Gurat-gurat kerinduan akan anak tunggalnya itu terlihat jelas di wajahnya ketika untuk kesekian kalinya nenek Sani menceritakan anaknya yang tak pernah pulang. Meskipun kerap nenek Sani menerima kiriman dari putranya itu tapi Ia tetap saja tak merasa bahagia. Ia ingin anaknya itu pulang sekedar untuk menawarkan kerinduannya sebagai seorang Ibu. Dan di usianya yang semakin senja Ia sangat mengharapkan pertemuan itu sebelum ajal menjemputnya. Aku terharu mendengar keinginan yang sangat sederhana itu.

Seperti biasa aku kembali duduk di dekat jendela rumah panggung itu sambil menatap bocah-bocah yang tengah bermain di bawah rinai hujan yang semakin deras. Aku tersenyum melihat wajah lugu mereka yang tanpa beban tidak seperti aku yang selalu berwajah muram, begitu kata nenek. Meskipun aku tak semuram ketika seperti kedatanganku pertama kali di tempat ini tapi tetap saja masih terlihat sisa-sisa kesedihanku. Dan untuk menghilangkan kesedihanku, Aku menyibukkan diri membimbing lisan-lisan anak lima tahunan itu dengan belajar sambil bermain di sebuah taman kanak-kanak. Kecintaanku pada anak-anak membuatku betah bersama mereka dan sedikit menghilangkan kesedihanku selama ini. Seperti hari-hari kemarin, setiap kali aku menatap bocah-bocah itu, aku kembali disergap oleh perasaan rindu tanpa mampu ku bendung. Rindu yang semakin mengakar pada orang tuaku, saudara-saudaraku, kampung halamanku dan pada dia yang kini entah seperti apa. Sejak kepergianku tempo hari aku sama sekali tak pernah mendengar kabarnya. Suara nenek yang menyapaku langsung membuyarkan lamunanku yang sedang dihinggap kerinduan. Kebiasaanku duduk di dekat jendela seperti itu membuat nenek menjuluki aku dengan sebutan gadis jendela. Panggilan yang sangat unik tapi aku tahu nenek tak ingin aku benar-benar menjadi seorang gadis jendela yang selalu merenungi nasib dan selalu menutup diri seperti itu.

Senja temaram di belakang kota. Sayup-sayup terdengar lagu sendu yang dilantunkan oleh penyanyi legendaris Ebit G. Ade. Aku kembali menemukan diriku sebagai seorang gadis jendela, duduk termenung seorang diri. Setahun sudah aku tinggal di rumah panggung milik Nenek Sani tapi kali ini aku merasakan suasana yang teramat lain. Ada perih menoreh amat dalam. Rasa sepi yang ada seakan mengurungku dalam jeruji ketidakberdayaan akan takdir Sang Kuasa. Ragaku seakan terpasung dalam ruang kehampaan. Hampa tanpa kehadiran nenek Sani disampingku sebab seminggu yang lalu Nenek telah berpulang sebelum sempat mengobati kerinduannya akan anaknya yang tak kunjung datang. Seperti Nenek Sani, rasa rindu itu kembali menyeruak menembus dinding keterdiamanku. Rasa yang lama ku buang dalam ruang kelupaan itu kini hadir begitu saja. Rindu itu hadir bersamaan dengan rasa sepi yang menusuk-nusuk, hanya saja kini aku tak tahu rindu itu untuk siapa.
Selengkapnya.....


”Hikmah dan Qudrah takkan sempurna melainkan dengan menciptakan lawannya agar masing-masing diketahui dari pasangannya. Cahaya diketahui dengan adanya kegelapan, ilmu diketahui dengan adanya kebodohan, kebaikan diketahui dengan adanya keburukan, kemanfaatan diketahui dengan adanya kemudharatan dan rasa manis dikatahui dengan adanya rasa pahit”

Itulah penggalan nasehat yang diberikan oleh perempuan setengah baya yang sejak tadi duduk disampingku. Entah kenapa perempuan itu begitu perhatian padaku padahal aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah seorang pendatang yang baru saja bekerja ditempat itu. Mungkin Ia prihatin dengan keadaanku yang sampai kini masih sendiri sedang umurku sudah tidak muda lagi. Nalurinya sebagai seorang Ibu membuatnya memperlakukanku seperti putrinya sendiri. Aku tak tahu banyak tentang dirinya namun kedekatanku dengannya membuatku terbuka untuk menceritakan kisah hidupku sesungguhnya. Karena itulah Ia begitu rajin memberikan nasehat-nasehatnya padaku. Nasehat yang intinya bahwa aku tak boleh mengabaikan sebuah pernikahan apapun alasannya. Ia juga memaparkan kalau islam menganjurkan agar seseorang segera mengakhiri kesendiriannya dengan menyempurnakan sebagian agamanya dengan jalan menikah. Aku sangat paham akan hal itu, hanya saja kegagalanku tempo hari membuatku pesimis apalagi mengingat usiaku yang kini sudah kepala tiga.

Masih kuingat kejadian lima tahun silam ketika seseorang menemui ayahku untuk melamarku. Ayah menerimanya dengan senang hati karena Ia begitu mengenalnya. Bagi ayah dialah orang yang pantas bersanding denganku. Seorang laki-laki yang baik dan berpendidikan. Aku setuju dengan keputusan ayah karena aku ridha dengan ahlak dan agamanya. Hari yang kunantikan pun tiba. Janur kuning melengkung menghiasi gapura rumahku dengan dekorasi yang bagiku sangat sempurna hingga menjadikan rumahku bak istana kecil di negeri dongeng. Para undangan mulai berdatangan ingin menyaksikan akad nikah yang sebentar lagi akan berlangsung. Dalam penantian itu, aku dikejutkan oleh berita yang membuat duniaku seakan runtuh. Laki-laki yang sebentar lagi menjadi suamiku itu tak akan pernah hadir ditempat itu. Sebuah truk dengan kecepatan tinggi menghantam mobil yang ditumpanginya hingga Ia menghembuskan napasnya yang terakhir tepat pada saat jarum jam menunjukkan waktu dimulainya prosesi akad nikah. Hatiku hancur karenanya, benar-benar hancur. Dan Ayahku shock dibuatnya. Penyakit jantung yang dideritanya sejak beberapa tahun lalu membuatnya tak sadarkan diri hingga ajal menjemputnya. Dua orang yang kukasihi meninggalkanku bersamaan tanpa memberi kesempatan padaku untuk menyempurnakan kebahagiaan keduanya.

Sejak saat itu aku tak pernah lagi berpikir untuk menikah karena kupikir jodohku sudah mati. Sebuah pemikiran yang bodoh tentunya tapi aku tak peduli karena orang kuharapkan telah meninggalkanku. Kesibukanku melanjutkan kuliah sambil bekerja membuatku lupa akan sunah rasul itu hingga umurku genap tiga puluh lima tahun. Usia yang makin bertambah menyadarkanku akan fitrah sebagai mahluk Tuhan yang beragama. Dan kehadiran perempuan paruh baya teman sekantorku itu cukup merubah pandanganku tentang arti sebuah pernikahan. Bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan dan tiap orang punya jodohnya masing-masing. Bisa jadi Tuhan mengambil laki-laki yang kupikir jodohku itu tapi sudah mempersiapkan rencana lain dengan menggantinya dengan seorang yang jauh lebih baik. Dengan keyakinan itulah aku mencoba membuka diri meskipun mungkin sudah sangat terlambat. Hingga suatu hari seorang teman mengenalkanku pada seorang laki-laki pendiam itu. Aku terkesima...bukan karena wajahnya tapi karena tutur katanya yang halus dan sikapnya yang sopan. Sepertinya Ia seorang yang cerdas karena Ia memiliki wawasan yang sangat luas.

Aku bukanlah orang yang gampang menyukai sesuatu. Apalagi pada sesesorang yang baru kukenal seperti pada laki-laki pendiam itu. Meskipun tampangnya diatas rata-rata dan sudah mapan tapi aku belum mampu membuka hatiku sepenuhnya untuk seseorang yang baru kukenal. Desakan ibulah yang membuatku tak berpikir panjang dan memutuskan untuk menerima pinangannya. Dan tentu saja usiaku yang memantapkan hatiku untuk menerimanya. Ibu begitu antusias menyambut hari pernikahanku. Sakit yang dideritanya belakangan ini mendadak sembuh begitu saja. Aku tersenyum melihat rona bahagia diwajah Ibu. Aku sangat memahami perasaannya. Sebagai seorang Ibu, Ia sangat khawatir anak perempuan satu-satunya belum juga berkeluarga, ditambah gunjingan para tetangga yang membuat Ibu tertekan.

Waktu menjadi saksi akan hari bersejarah itu. Sinar matahari pagi mulai memanggang dahan-dahan ranting yang masih diselimuti sisa embun semalam. Ketika ijab qabul akan terucap, tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dari arah luar. Seorang perempuan masuk dan bersujud di depanku. Aku terkejut. Dengan terisak-isak Ia mengatakan bahwa laki-laki yang akan menikahiku itu adalah suaminya. Laki-laki yang meninggalkannya ketika usia kandungannya genap enam bulan. Tulangku seakan lepas satu persatu, mataku seakan tak bisa melihat dan napasku seakan lepas dari ragaku mengetahui kenyataan itu. Dengan suara serak aku meminta pada semuanya untuk membatalkan pernikahan itu. Aku tak mau membangun kebahagiaan diatas penderitaan orang lain. Dalam tangisku aku melihat laki-laki itu berdiri dengan wajah memerah menahan marah dan malu. Dengan kasar ditariknya perempuan yang tengah hamil itu. Ia berlalu diiringi tatapan tak percaya dari setiap orang yang ada ditempat itu. Kulihat Ibu jatuh tak sadarkan diri. Aku panik menyaksikan Ibu yang terbaring lemas disisiku. Aku tak mau kegagalanku kali ini kembali merenggut nyawa orang yang kuncintai. Hatiku hancur untuk yang kedua kalinya. Tuhan telah mengujiku dengan ujian yang betul-betul sungguh aku tak sanggup untuk melewatinya. Rasanya aku ingin menghilang pergi ketempat yang sangat jauh hingga tak seorangpun menemukanku.

Dalam himpitan perasaan yang teramat sangat aku menemukan diriku berada dalam rangkulan seorang perempuan separuh baya yang berusaha menenangkanku. Matanya berkaca-kaca seolah ikut merasakan kepedihan yang kualami. Dengan sayang Ia membelai rambutku lalu mengatakan kalau Tuhan itu Maha Pengasih dan Dia tidak akan membebani hambaNya diluar batas kemampuannya. Dan aku percaya itu hanya saja aku belum bisa berpikir jernih dan belum bisa menerima kenyataan yang ada. Dengan sisa tangis yang tertahan, wanita itu mengajakku memasuki kembali ruangan yang tadi kutinggalkan. Aku tak mengerti mengapa Ia memintaku kembali ke tempat itu padahal aku sudah meminta untuk membatalkan semuanya. Aku heran menyaksikan pemandangan di ruangan itu. Disitu duduk seorang wali nikah, saksi dan seorang laki-laki berkopiah. Tidak hanya itu, para undangan yang kusangka sudah membubarkan diri ternyata masih ada disitu. Aku seakan tak percaya melihat Ibu yang tersenyum sumringah melihat kedatanganku. Perempuan yang tadi menuntunku membisikkan sesuatu padaku. Aku terkejut, bagaimana mungkin dalam waktu singkat takdir berubah seratus delapan puluh derajat. Tuhan Maha Besar, Dia memperlihatkan kekuasaanNya dengan membalik kenyataan yang tadinya kacau balau menjadi tenang kembali hanya dalam hitungan menit saja. Aku seakan terhipnotis oleh suasana yang sungguh diluar dugaanku. Baru ku tahu kalau laki-laki berkopiah itu adalah anak dari perempuan yang belakangan ini dekat denganku. Aku sama sekali tak mengenalnya jadi bagaimana mungkin aku akan menikah dengan seseorang yang baru pertama kali kulihat. Aku pasrah. Pasrah pada skenario Tuhan yang tengah kulakoni. Kulihat laki-laki berkopiah itu tersenyum menatapku. Aku teringat sesuatu. Dia...dia adalah laki-laki bercahaya bak malaikat yang masuk ke dalam rumahku dalam mimpiku semalam. Mimpi yang terjadi berulangkali menjelang azan subuh sejak beberapa hari yang lalu. Dan subhanallah...Dia ada disini duduk tepat disampingku. Aku hampir tak percaya ketika laki-laki itu memanggilku lembut dengan sebutan : Istriku.

Selengkapnya.....


"Renungkanlah dan waspadalah. Sesungguhnya perselingkuhan itu bagaikan utang. Jika engkau melakukan hal itu maka istri dan anak-anakmu yang akan membayarnya"


Nasehat itu sangat tepat ditujukan pada seorang laki-laki yang menamakan dirinya sebagai Arjuna. Bagi wanita dia memang seperti Arjuna karena hampir semua yang didambakan oleh kaum hawa ada padanya. Wajahnya yang menawan membuat orang tertawan hatinya untuk jatuh cinta padanya. Karena itulah Ia menjadi seorang petualang yang merajut kisahnya dari hati ke hati. Entah sudah berapa banyak hati yang berderak patah karenanya. Ia tak peduli sebab baginya cinta adalah seni.

Ia memang terlahir dengan wajah yang sangat indah. Namun tidak dengan perangainya. Ia memanfaatkan anugerah keindahan itu untuk kepentingan yang sungguh tidak pantas dilakukan yakni untuk menjerat hati wanita-wanita yang lemah imannya dan gampang terpesona oleh keindahan fisik semata.

Petualangan Arjuna akhirnya berujung jua. Ia telah menemukan pelabuhan hatinya. Seorang perempuan cantik yang menurutnya hanya pantas bersanding dengan dirinya. Bagi sang Arjuna dialah Cleopatra pujaan hati yang lama dicarinya. Maka tak heran ia begitu bahagia dengan pernikahannya apalagi beberapa tahun setelahnya mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik.

Waktu terus berjalan menggenapkan hari menjadi tahun. Tak ada yang bisa menjamin hati manusia kecuali Dia Sang Pemilik hati sebab hati manusia adalah tempat yang paling mudah goyah. Kadang lurus namun tidak jarang ia berkelok-kelok bahkan bercabang-cabang. Hanya orang-orang terpilih saja yang bisa mempertahankan kondisi hatinya dalam keadaan lurus. Dan Arjuna bukanlah orang yang termasuk dalam golongan itu. Laki-laki itu seperti pohon angsana. Semakin Tinggi dan berumur pohon itu maka semakin banyak pula rantingnya. Begitu pula dengan Arjuna. Jiwa petualangannya kembali muncul di usianya yang sudah setengah baya. Istrinya yang cantik dan penurut tak tahu kelakuan suaminya diluar rumah. Ia juga tak tahu kalau Arjuna tuanya bermain api diluar sana karena laki-laki arjuna itu tak pernah menampakkan perubahan sikap yang mencurigakan. Hanya saja belakangan laki-laki itu teramat rajin berdiri di depan cermin sambil memandangi wajahnya seakan-akan mengukur diri apakah Ia masih pantas disebut Arjuna atau tidak lagi.

Bagi sang Arjuna uang dan jabatan adalah modal baginya dan Ia merasa sudah memiliki keduanya. Apalagi ditunjang oleh penampilan yang kharismatik dan modal tampang diatas rata-rata. Meski usianya sudah tidak muda lagi tapi Ia merasa masih sama seperti Arjuna dua puluh tahun lalu. Uang juga yang mendukung hobinya untuk tinggal lama di luar rumah. Ia nyaris lupa akan anak dan istrinya. Lupa akan dirinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek sebab anak tunggalnya itu sedang mengandung. Dan seperti biasa laki-laki itu kembali menyusuri gelapnya malam seorang diri. Ia menghentikan kendaraannya di depan sebuah hotel mewah. Langkahnya terhenti tatkala matanya tertumbuk pada sosok laki-laki di depannya. Dengan mata kepalanya sendiri Ia melihat menantunya sedang menggandeng seorang perempuan. Jantungnya seakan berhenti berdetak karena perempuan yang dilihatnya bergandengan mesra dengan menantunya itu adalah istrinya sendiri. Tuhan telah menghukumnya. Perselingkuhan yang dilakoninya selama belasan tahun telah dibayar lunas oleh anak dan istrinya. Ia hampir gila karenanya. Ia merasa dunia seakan runtuh ketika Ia teringat kembali akan sebuah buku yang pernah dibacanya beberapa tahun silam. Buku yang didalamnya berisi nasehat yang baginya sangat tak masuk akal. Kini nasehat itu seakan menamparnya lalu membuang harga dirinya ke dalam ruang kehinaan hingga membuatnya tak sadarkan diri berhari-hari.

"Sesungguhnya perselingkuhan itu bagaikan utang. Jika engkau melakukan hal itu maka istri dan anak-anakmu yang akan membayarnya"
Selengkapnya.....


Banyak orang bilang rumahku adalah surgaku. Pepatah yang mempunyai makna yang sangat dalam sebab di dalam rumahlah ditemukan ketenangan dan kedamaian nan indah. Di dalam rumah pula hidup seorang ratu bagi istana kecil dunia. Pun didalamnya hadir kesejukan dengan memandang bocah-bocah kecil yang lugu hingga hilanglah kerpenatan selama di luar rumah. Demikianlah sepotong kisah tentang indahnya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Tiga kata yang menjadi penggalan doa setiap orang ketika akad berkumandang. Seperti itulah gambaran yang dapat kusimpulkan dari pernikahan Kania, seorang perempuan muda yang tinggal tepat disamping rumahku. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri karena aku begitu dekat dengannya. Seorang perempuan cantik yang sangat bersahaja dan memiliki seorang pendamping hidup yang sepadan dengannya. Laki-laki yang baik tentunya. Dan perempuan itu pula yang selalu mengatakan padaku bahwa rumah adalah surga karena di rumahlah tempat terbahagia di dunia.


Rumahnya adalah madrasah ilmu bagi kedua anaknya yang masih kecil itu. Sebab dari lisan mungil mereka keluar lantunan kepatuhan akan ajaran sang Bunda. Sedang ayah dan ibunya adalah guru bagi keduanya. Hal yang paling menarik adalah rumah yang mereka tempati. Entah siapa yang mendesain rumah itu hingga tampak memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Aku bisa menjamin hampir semua orang yang lewat di depan rumah itu pasti akan menoleh karenanya sebab rumah mungil itu selalu tampak asri dengan taman bunga beraneka warna. Batu-batu kali yang ditata begitu apik membuat rumah itu terlihat anggun bersanding dengan sebatang pohon palem yang tumbuh menyepi di sudut taman lengkap dengan tanaman rambat yang berlomba menjulurkan daunnya mengambil tempat sepanjang pagar. Bagiku itu adalah rumah idaman. Terlalu sederhana memang tapi menurutku itu sudah cukup mewakili istana kecil dalam khayalanku. Tak pernah lelah mataku memandang rumah itu karena penghuninya tak pernah membiarkan seonggok sampah singgah di halaman rumahnya. Tangannya yang cekatan sigap merapikan tangkai-tangkai tanaman yang tumbuh liar sepanjang taman.

Untuk kesekian kalinya aku kembali memandang rumah itu dari jendela kamarku namun tatapan kekagumanku seketika berubah sendu. Samar-samar aku mendengar tangisan seorang perempuan. Ia terisak-isak. Meski aku tak melihatnya tapi aku mengenal suaranya. Itu suara Kania. Belakangan aku sering mendengar Ia menangis entah apa sebabnya. Rupanya ketenangan di dalam rumah itu pelan-pelan terkikis. Hingga usia pernikahan Kania genap delapan tahun aku mulai melihat perubahan itu. Tak kudengar lagi senandung ayat-ayat suci Al Quran yang selalu berkumandang merdu di rumahnya hingga menembus dinding-dinding kamarku.

Hari beranjak sore ketika tiba-tiba pintu rumahku diketuk orang dengan sedikit tergesa-gesa. Aku terkejut melihat Kania meghambur dalam pelukanku. Perempuan itu menangis sesenggukan. Napasnya satu-satu seakan menahan perasaan yang teramat berat dipikulnya. Wajahnya kuyu menyiratkan duka yang dalam. Ia mengungkapkan semua kepedihan jiwanya yang disimpannya sejak lama. Hatiku miris mendengarnya. Sesuatu telah merubah perangai laki-laki yang dinikahinya itu. Memang tak jarang aku mendengar ia membentak istrinya yang sabar itu dengan kata-kata yang sungguh tidak pantas ditujukan kepada siapapun. Dan bukan rahasia lagi ketika dalam keadaan mabuk ia sering memukul Kania hingga menyisakan lebam di wajah teduhnya. Pergaulan telah banyak merubahnya dan jabatan sebagai orang penting membuatnya lupa diri, lupa akan anak dan istrinya. Tanpa rasa sungkan laki-laki itu menyatukan diri dalam pergaulan malam bersama rekan-rekan kerjanya. Ia mulai menggemari minuman keras dan memilih kesenangan diluar rumah. Kesenangan yang dibeli dengan kekuasaan dan uang tentunya. Tidak jarang ia membawa perempuan lain ke dalam rumahnya sendiri dan di depan istrinya ia mengakui bahwa perempuan itu adalah simpanannya.Astaghfirullah.

Penderitaan yang lama disimpannya membuat kesehatan Kania semakin menurun. Aku tak menyangka kalau ia mengidap penyakit kronis. Penyakit yang bertambah-tambah seiring keresahannya menghadapi tingkah laku suaminya yang makin menggila. Entah setan apa yang sudah merasuki pikiran laki-laki itu hingga merubah sosoknya yang begitu berwibawa dan penyayang itu menjadi sosok yang entah masih pantas disebut manusia atau tidak. Dan di senja yang dingin perempuan itu menutup mata selamanya diatas pangkuanku. Hatiku pilu mengenang penderitaannya. Aku tak bisa menahan keharuanku tatkala kedua bocah yang ditinggalkannya membelai rambut ibunya seakan turut merasakan penderitaan itu. Aku tak mampu menahan air mata ketika memandang mata lugu mereka. Kurengkuh kedua anak itu.
***
Rumahku adalah surgaku. Pepatah singkat yang sarat akan makna tentang indahnya dunia. Namun kini tak kutemukan lagi pada sosok bangunan disamping rumahku sebab rumah itu sudah lama kosong. Hanya debu dan rayap yang jadi penghuninya. Aku hanya bisa menatap taman yang meranggas dari balik jendela kamarku. Sejak kematian Kania rumah itu sudah tak terurus lagi. Kedua anak Kania diasuh oleh neneknya di kampung. Dan suaminya, laki-laki brengsek yang menjadikan rumahnya sendiri sebagai tempat maksiat itu entah ada dimana. Mungkin dia sudah ditelan bumi sebab sampai kini tak ada kabar tentangnya. Sayup-sayup kudengar lantunan Surah Al Jaatsiyah : 23 mengalun merdu.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan
hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? maka siapakah
Yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?

Selengkapnya.....


Bintang...dia seperti bintang. Jauh ....seakan jauh untuk kugapai dengan tanganku sendiri. Aku tak pernah tahu mungkin bintang itu akan tetap jauh dalam pandanganku ataukah dia akan turun untukku. Sebab aku tak punya kuasa untuk menentukan semuanya. Aku juga tak mampu memintanya untuk menjadi meteor yang melesat turun ke bumi untuk hadir di depanku. Dia memang seperti bintang jauh namun tetap bercahaya.

Entah kenapa aku tak pernah jenuh memandangnya dari jendela kamarku, menatapnya berdampingan dengan bulan sepotong di langit hitam. Aku tersenyum padanya walau aku tahu dia tak pernah melihatnya. Senyuman yang terukir sebagai pengantar surat-suratku. Seperti saat ini aku kembali bercerita lewat lembaran kertas lusuh di depanku. Surat keenam puluh yang kutulis sejak lima tahun lalu. Surat yang untuk kesekian kalinya tak terbalas sebab aku tak pernah mengirimkannya. Perasaan malu melebihi segalanya hingga keberanian pun menciut karenanya.

Bintang...dia seperti bintang. Jauh sejauh langkah detik berlari meninggalkan waktu yang bernama masa lalu. Ia memang masa laluku karena dia pernah ada untukku. Bagi orang lain mengingat dan mengenang masa lalu kemudian bersedih atas kegagalan di dalamnya adalah tindakan bodoh. Tapi tidak demikian denganku karena bagiku masa lalu adalah bagian dari masa depan meski terpisah ruang dan waktu. Masa lalulah yang membuat kita semakin dewasa meski kebanyakan masa lalu pula yang membuat kita salah melangkah dalam mengambil keputusan hingga penyesalan menjadi ujungnya. Seperti saat ini entah kenapa aku menyesal mengukir namanya dalam-dalam di hatiku padahal tak sepotong kabarpun kudengar tentangnya. Aku tetap bertahan hanya karena sebuah cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin itulah yang menyuruhku untuk senantiasa percaya. Percaya akan apa yang disebut jodoh meski cincin itu sendiri tak pernah bisa jadi jaminan.

Dan tragedi penghianatan yang tak berujung tak pula membuatku jera tersenyum diam-diam untuknya. Penghianatan yang meluluhlantakkan dinding kesetiaan hingga banyak air mata berjatuhan karenanya. Aku sadar bisa jadi aku telah menjadi bagian dari lingkar merah penghianatan itu sebab sampai kini aku tak yakin dengan kesetiaan yang kurajut untuknya. Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku bukanlah perempuan yang tidak sabar menunggu kekasihnya pulang meski mungkin saja dia sudah memasukkanku dalam ruang kelupaan di dalam hatinya atau telah membuangku jauh di dalam bilik ketidakpedulian. Aku tak tahu.

Rupanya ini harus menjadi surat yang terakhir bagiku, surat terakhir yang kutulis untuknya sebab realita telah membawanya pulang. Dia sudah teramat dekat denganku jadi buat apalagi aku menulis surat untuknya toh aku bisa mengungkapkannya langsung lewat lisanku meski dengan wajah memerah menahan malu. Harusnya aku tersenyum untuknya sambil menatap matanya yang teduh. Sekali lagi, harusnya aku bahagia akan kedatangannya karena itulah yang aku tunggu selama ini. Namun ternyata aku harus mampu menahan pandanganku tatkala melihatnya duduk termenung tanpa kehadiranku tentunya sebab seminggu yang lalu, tanpa sepengetahuanku laki-laki itu telah menikahi saudara kandungku sendiri.

Selengkapnya.....

Pagi bisu beranjak naik ditemani gerimis penghujung musim. Sang waktu memaksa langkahku untuk menyusuri koridor kampus yang masih sunyi. Tak kudapati sosok-sosok yang biasanya menghuni tempat ini. Kulirik Seiko dipergelangan tanganku. Pukul 10.00 teng. Mataku terasa pedih menyisakan kantuk karena kurang tidur. Kulirik setumpuk kertas di kepitan tanganku. Mudah-mudahan bisa lolos, doaku dalam hati. Cepat kunaiki tangga menuju salah satu ruangan pada gedung berlantai tiga itu. Kuberanikan diri mengetuk pintu yang tertutup dan terdengar sebuah suara dari dalam yang menyuruhku masuk.
“Ada apa ?” tanyanya
“Eh…ini pak perbaikan skripsi saya yang kemarin” jawabku gugup
“Maaf, saya sedang sibuk”
“Apakah…apakah saya boleh datang ke rumah bapak ?” tanyaku perlahan
“Tidak bisa. Ini masalah akademik dan itu artinya harus diselesaikan disini” bentaknya marah.
“Ma…maaf pak, permisi” kataku tergagap sambil beranjak dari ruangan itu. Kuhempaskan tubuhku di bangku panjang koridor. Aku tak habis pikir apa maunya orang tua itu padahal tadi malam aku sudah menghubunginya untuk memastikan kesiapannya hari ini dan ia setuju untuk asistensi. Aku tak mengerti mengapa Ia menyambutku begitu dingin. Seandainya kejadiannya baru sekali ini mungkin tidak jadi masalah bagiku tapi peristiwa seperti ini sudah sering kurasakan. Kejadian seperti ini selalu berulang dengan berbagai alasan. Seharusnya sebagai dosen pembimbing ia mengarahkan dan membimbingku menyelesaikan tugas akhir ini. Tapi kenyataannya jauh dari apa yang kuharapkan. Orang itu begitu sibuk dengan kegiatannya diluar kampus bahkan jadwal mengajarnya pun kadang terhambat dan pada akhirnya mencari waktu lain utnuk mengganti jadwal kuliah yang ketinggalan. Dia juga selalu memasang wajah dingin setiap kali melihatku masuk ke dalam ruangannya bahkan paling sering Ia tidak mau melihat mukaku. Aku tak mengerti, sama sekali tak mengerti. Aku selalu mengikuti semua perintahnya bahkan harus betah mendengarkan semua petuah-petuanya kalau lagi baikan. Masih kuingat kejadian minggu lalu. Bapak itu menyuruhku men-translate sebuah buku yang tebalnya seratus halaman. Padahal isinya sama sekali tak ada hubungannya dengan skripsiku. Dengan susah payah kukerahkan seluruh tenagaku untuk membujuk teman-temanku agar mau membantu menyelesaikannya. Ingin rasanya aku melawan tapi aku sadar aku tak boleh seperti itu. Aku tak mau studiku yang sudah enam tahun ini harus berakhir dengan sebuah skandal yang toh pada akhirnya aku pula yang rugi. Kejadian kemarin juga membuat wajahku merah padam. Bagaimana tidak, aku datang dengan sopan santun yang luar biasa tapi ia menyambutku dengan sinis. Aku tak tahu aku salah apa yang jelas dia mengusirku dengan alasan Dia tidak suka melihatku asistensi dengan rambut gondrong seperti ini padahal aku tak merasa kalau rambutku gondrong. Lagipula apa sih hubungannya skripsi dengan rambut gondrong toh otakku yang bekerja bukan rambutku yang katanya gondrong ini

“Braakk…” kutendang kursi yang ada di depanku. Kesabaranku habis kini. Skripsi di tanganku kulempar begitu saja. Ingin rasanya kumaki orang yang tidak punya perasaan itu. Proyek. Sebuah kata yang paling kubenci dan paling sering membuatku jatuh bangun. Penelitian yang kulakukan hampir setahun ini berantakan hanya gara-gara proyek. Bayangkan, aku yang harusnya seminar hari ini harus menahan getir mendengar kabar bahwa pembimbingku itu keluar kota karena ada proyek dadakan. Kemarin aku sudah mengingatkannya beberapa kali. Dan hari ini ? Kepalaku menjadi pusing memikirkan semuanya. Seandainya dosen itu memberitahukan keberangkatannya, mungkin aku bisa membuat surat pelimpahan pada pembimbingku yang satu. Tapi orang itu sama sekali tak memberikan informasi. Ia pergi begitu saja dan setelah aku mencoba menghubunginya, Ia hanya mengatakan bahwa Ia sama sekali tidak ingat kalau ada seorang mahasiswa bimbingannya yang akan seminar hasil. Aku hanya diam mengenang kegagalanku dan tinggallah aku disini sendiri menatap para peserta seminar yang keluar satu-satu. Mungkin sudah saatnya para birokrat kampus memperbaiki stafnya bukan hanya pada kualitas keilmuan tetapi juga keimanan sebagai landasan yang kuat untuk pelaksanaan sebuah tanggungjawab. Sebuah fenomena yang sangat umum memang ketika mahasiswa dituntut untuk menjadi seorang yang penurut. Bahkan retorika pun tak dapat mengalahkan mereka ketika hak-hak mahasiswa terabaikan hanya karena tuntutan ekonomi. Dan salah satu mahasiswa itu adalah aku. Sebagai mahasiswa aku merasa tersinggung diperlakukan seperti itu. Aku merasa hak-hakku terinjak-injak. Tapi lagi-lagi aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Aku harus membuang harga diriku hanya untuk sebuah gelar. Dan aku tak mau ayahku yang feodalis itu menjadi malu karena putra sulungnya keluar dengan status DO. Maka jadilah aku si penurut yang setia.

Azan mengalun indah dari masjid kampus. Sebuah moment yang mengharukan tatkala kelulusanku dinyatakan dan ditutup dengan suara panggilan suci itu. Aku sangat terharu, pun ketika saat ujian sidang tadi. Pembimbing yang selama ini ku cap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab ternyata sangat membantu. Bapak itu selalu mengarahkan aku bila aku terdiam tak menjawab pertanyaan dosen penguji yang berbelit-belit itu. Sosoknya yang sangat kebapakan membuatku melupakan segala kelakuannya selama ini. Dan kebencianku menguap seketika saat Ia menjabat tanganku hangat memberi ucapan selamat padaku. Masih kuingat ucapan sesalnya yang diluar dugaan itu,
”Nak..maafkan Bapak. Bukan maksud Bapak untuk tidak ramah padamu. Itu semua karena kau mengingatkan Aku pada putraku”
”Maksud Bapak ?” tanyaku tak mengerti
”Yah...terlalu egois memang karena aku telah melibatkanmu” Aku masih tak mengerti tapi kemudian Ia melanjutkan ucapannya,
”Wajahmu selalu membuatku tersiksa karena kau begitu mirip dengan putra tunggalku yang meninggal setahun lalu” jelasnya sendu. Aku melongo. Ternyata itulah penyebab semuanya. Alasan yang tidak logis memang tapi cukup membuatku terkejut. Ah...aku juga minta maaf Pak, aku telah berburuk sangka padamu, batinku


Selengkapnya.....

Penghujung Malam,

Ibu, aku bukan gadis kecilmu lagi. Bukan lagi anak manis yang selalu kau belai tiap kali kurebahkan tubuh kecilku di pangkuanmu. Kini aku telah menjelma menjadi seorang entah akan menjadi apa nantinya. Jiwaku sudah terlalu jauh dari siraman rohani hingga membuatku mengubur cita-citaku yang pernah kugantung tinggi mencapai langit biru. Tak ada lagi puisi-puisi manis menghiasi lembar-lembar kertas yang ada di buku harian ini juga setumpuk buku biografi orang-orang ternama dunia, bacaan kesukaanku sejak aku mengenal mereka karena kejeniusan yang dimiliki oleh orang-orang itu. Meja yang dulu banyak dipenuhi dengan buku ketika pertama kali pengukuhanku sebagai mahasiswa kini entah disebut apa, mungkin lebih tepat disebut kapal pecah yang hampir karam.

Kututup buku harian bersampul biru itu. Meskipun aku tidak seperti dulu lagi tetapi kebiasaanku menulis buku harian tak bisa kubuang. Bukan karena aku terlalu cengeng tapi itulah satu-satunya yang kuanggap bisa mengerti aku dan menjadi temanku disaat aku merasa sumpek oleh berbagai masalah yang tak bosan-bosannya menghampiriku.

Aku memang seorang wanita tapi tidak dengan jiwaku yang telah kaku dan jauh dari figur wanita yang keibuan. Dan dikamar kecil inilah tempatku berdiam diri dengan ditemani sebungkus rokok untuk menghabiskan malamku. Benda yang pernah kubenci setengah mati itu telah menjadi teman dekatku sejak tiga tahun silam. Sejak aku terusir dari kehidupan yang kujalani hingga usiaku genap dua puluh tahun. Waktu itu entah kenapa tiba-tiba aku ingin pulang kampung setelah sebelumnya aku bermimpi, mimpi yang menyesakkan dada. Aku berada ditaman kamboja. Aku tidak mengerti itu firasat apa. Yang kutahu air mataku bersimbah membasahi pipiku ketika kudapati wanita yang kukasihi terbujur kaku ditengah luapan tangisan yang menggores pilu. Aku tak tahu harus berbuat apa ketika itu. Yang jelas aku sangat merasa kehilangan. Seorang perempuan yang sangat berarti dalam hidupku meskipun darahnya tidak pernah mengalir dalam tubuhku karena aku memang anak angkatnya. Aku tak pernah tahu siapa orang tua yang melahirkanku. Aku hanya mengenal diriku sebagai anak angkat dari pasangan pengusaha yang tidak dikaruniai anak. Perempuan paruh baya itu telah pergi menyusul suaminya yang terlebih dulu berpulang setahun yang lalu. Saat aku terpekur dengan lamunanku mengenang kebersamaan itu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Tanpa permisi Om Hans yang saudara ipar Ibu langsung menyeretku keluar. Aku tak tahu kenapa, namun lelaki itu langsung berkata :
“Melly, kau tahu bagaimana posisimu sekarang ?” keningku berkerut tak mengerti apa yang baru dikatakan lelaki setengah baya itu. Aku baru menyadari ketika ia melanjutkan ucapannya
“Kau tak punya siapa-siapa lagi sekarang. Jadi aku harap kau tahu diri. Kopormu sudah menunggu diluar sana dan aku harap kau tak usah kembali lagi kesini” aku terhenyak mendengar perkataan lelaki itu. Bagaimana tidak , aku sudah dua puluh tahun menjadi bagian dari keluarga ini dan kini aku dipaksa meninggalkan semuanya. Hatiku memberontak tapi aku tak kuasa melawan. Hanya tetesan air mata yang terus mengalir mengiringi langkahku menjauh dari tempat itu. Itulah keluarga Ibu, mereka menginginkan ketidakhadiranku. Itu semata karena mereka takut kekayaan ibu akan jatuh ke tanganku. Aku memang tak sedarah dengan Ibu tapi rupanya pengakuannya tak mampu mempertahankan hakku sebagai seorang anak angkat.

Malam ini aku kembali meneruskan pekerjaanku ditemani dengan kepulan asap rokok yang kian memenuhi ruangan. Tanganku mulai menggores kanvas dengan warna kelabu membentuk seraut wajah dingin dibalik jeruji. Om Hans. Orang yang telah menukar kehidupanku dengan penderitaan. Penderitaan yang membuatku merangkak meniti hari-hari yang penuh liku. Lukisan itulah yang menjadi penghasilanku. Aku hanya bisa bekerja dengan tanganku. Aku memang telah menjadi pelukis liar, dimana orang membutuhkanku maka disitulah aku berada. Hidupku memang bergantung pada goresan tanganku karena itulah satu-satunya cara untuk berjuang melawan getirnya hidup. Lukisan-lukisan itulah yang membuatku bernafas hingga detik ini. Uang tabungan peninggalan ibu telah lama habis dan aku harus bisa menafkahi diriku sendiri. Aku tak punya apa-apa lagi. Aku hanya punya kuas dan kanvas sebagai modalku. Kuliahku semakin berantakan tapi aku tak peduli karena aku butuh uang untuk bertahan. Teman-teman pada menjauhiku. Mungkin karena penampilanku yang berantakan atau mungkin aku tidak lagi bertampang sebagai mahasiswa. Aku sangat memakluminya, mereka tak pernah mengenal siapa diriku.

***

Sudah seminggu gedung kesenian itu terlihat ramai. Pameran lukisan tingkat nasional yang diadakan di kota ini menyebabkan gedung itu padat dipenuhi oleh pengunjung. Aku berdiri tidak jauh dari tempat itu. Lukisan-lukisan yang tergantung rapi pada dinding-dinding gedung membuatku pesimis. Bagaimana tidak, lukisan-lukisan itu karya orang-orang ternama. Tidak seperti lukisanku yang menggantung kesepian dipojok ruangan tanpa satu pengunjungpun sudi melihatnya. Mungkin terlalu sederhana dibandingkan dengan lukisan yang lain. Aku tak butuh lukisanku mendapat predikat terbaik tapi yang aku inginkan hanya agar orang melihat lukisan sederhana itu. Lukisan yang menyiratkan penderitan bocah pencari kayu bakar tak berbaju. Mungkin seperti itulah gambaran diriku sebenarnya.

Hari ini adalah hari terakhir dari acara pameran lukisan yang diadakan di pusat kota itu. Suara dari mikrofon sedang membacakan nilai dari lukisan-lukisan terbaik karya anak negeri yang sudah beberapa hari dipajang. Kakiku melangkah menjauh dari ruangan itu. Samar-samar kudengar namaku disebut. Aku tidak mengerti. Aku hampir tak percaya ketika lukisanku dinyatakan sebagai lukisan terbaik. Kucoba bangkit dari ketidakpercayaanku dan tanpa sadar aku telah bersujud. Ya Allah, ampunilah aku yang telah lama mengabaikan keberadaanMu.

Pernah dipublikasikan oleh Penerbitan Kampus Identitas Unhas
Selengkapnya.....


Gerimis masih saja turun sejak sore tadi. Langit kelam menyambut datangnya senja. Angin dingin yang merasuk tulang memaksaku masuk ke dalam kamar untuk mengambil sweeter biruku. Setelah merasa hangat aku kembali ke teras rumah, tempatku duduk sejak sore tadi. Kubuka kembali lembar demi lembar album foto ditanganku. Kembali terkuak dalam ingatanku betapa aku merindukan masa itu. Saat–saat terindah dalam hidupku, masa kecil yang begitu bahagia hingga membuatku tumbuh menjadi sosok yang percaya diri. Aku memang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuaku. Mungkin karena aku anak tunggal hingga aku selalu diperlakukan seperti itu. Tapi kini...ah entahlah. Hatiku sedih memikirkan semua itu terlebih karena beberapa hari lagi aku akan ujian meja.

Hari ini adalah hari istimewaku tetapi tidak dengan hatiku yang kurasakan sangat hambar. Toga yang kukenakan tidak membuatku bahagia sedikit pun seperti hari–hari kemarin ketika aku memikirkan bahwa sebentar lagi aku akan wisuda. Aku sebagai salah seorang wisudawan harus menahan keharuan melihat kursi VIP yang sedianya untuk orang tuaku itu harus kosong dan kepedihan bertambah tatkala mataku tertumbuk pada sosok temanku yang membimbing orang tuanya untuk duduk dibangku tamu. Aku yang masih berdiri dipojok gedung hanya menatapnya nanar karena aku disini tanpa pendamping. Tidak oleh temanku apalagi orang tuaku. Orang yang paling kucintai dalam hidupku tidak akan pernah hadir di tempat ini karena alam telah merenggut mereka dan membawanya pergi entah kemana. Yah….alam telah memporak-porandakan kampung halamanku, kota kecil yang selalu menjadi kebanggaanku. Aku memang terlahir sebagai anak Aceh dan kini aku harus bisa menahan getir melihat kota itu seperti kota mati tanpa penghuni. Ratusan jiwa melayang dalam sekejap mata dan orang–orang yang tesisa hanya bisa menatap tempat tinggalnya yang telah rata dengan tanah. Hampir semua orang meratapi kejadian itu dan banyak pula yang kehilangan orang–orang terkasih. Ayahku memang kembali bertugas ke kampung halaman sejak setahun yang lalu setelah lima tahun bertugas di kota daeng dan aku enggan meninggalkan kota ini karena aku sementara menyelesaikan tugas akhir. Kabar tentang bencana yang melanda tempat itu sempat membuatku shok. Aku tak mampu berkata–kata ketika kutahu rumahku ambruk diterjang badai. Mengapa…mengapa harus kota kecilku, kota yang dijuluki Serambi Mekah itu. Lamunku terputus ketika kudengar suara dekan fakultasku yang memintaku naik ke podium sebagai perwakilan lulusan terbaik universitas.

Sebulan sudah acara pengukuhanku sebagai sarjana. Kini aku memasuki dunia yang sangat asing bagiku dan orang menyebutnya dunia pengangguran. Dulu, pernyataan seperti itu selalu kutolak mentah–mentah dengan berbagai dalih dan kukatakan pada mereka hanya orang yang tidak berusaha saja yang akan jadi pengangguran. Tapi kini aku harus menelan ucapan itu kembali karena aku sadar betapa besar usahaku untuk mendapatkan pekerjaan tapi sampai saat ini aku tak berhasil sama sekali. Dan waktu yang memporak–porandakan hidupku membuatku pesimis. Tak ada lagi segudang percaya diriku seperti dulu ketika aku masih aktif di bangku kuliah. Aku telah kehilangan pijakanku. Kakiku seakan tak mampu menahan bobot tubuhku karena aku sadar aku telah kehilangan para motivator terbaikku.

Sungguh, aku selalu menyesali takdirku. Hal yang selama ini tidak pernah kulakukan karena aku selalu dibekali ketabahan dan kesabaran buah dari bimbingan orang tuaku. Hingga kini tiga bulan sesudah tragedi itu, aku masih tetap bersabar menyaksikan sisa puing–puing dari kota itu. Masih kuingat ketika pertama kali kudengar berita itu, aku langsung terbang ke kampung halamanku walaupun agak kesulitan karena jalur utama transportasi mengalami kerusakan. Aku menyaksikan betapa kotaku yang indah dulu kini seperti kota yang penuh dengan tumpukan sampah yang menggunung. Kubiarkan diriku menjelajah dari barak ke barak mencari sosok yang kukenal diantara puluhan bahkan ratusan pengungsi yang masih menyisakan trauma. Dan walaupun tindakan itu mungkin bisa dibilang nekat karena aku mencari diantara para tim evakuasi yang bertugas disana, aku tetap menyusuri semua tenda–tenda darurat. Aku tak peduli dengan isu penyakit yang mulai beredar di tempat itu. Dalam pencarianku yang tak kunjung berhasil itu aku memutuskan untuk kembali ke Makassar karena aku tak juga menemukan mereka. Aku harus menyelesaikan sisa skripsiku yang telah kutinggalkan. Hal yang selalu kulakukan setelah itu adalah mengikuti salah satu acara di sebuah stasiun televisi swasta yang selalu menampilkan berita terbaru tentang bencana itu. Sejak tragedi Desember lalu aku tak henti–hentinya menatap layar kaca itu. Aku memang telah kehilangan harapan tapi aku masih ingin menyaksikan sisa–sisa masa laluku disana juga orang–orang yang mungkin kukenali dengan menyaksikan siaran televisi itu. Kucoba mengenali tiap sosok yang tampil dalam acara itu tapi aku sadar aku tak mengenali orang–orang itu.

Hingga kini dalam statusku yang bukan mahasiswa lagi dan dalam keadaanku yang entah seperti apa, aku masih mengharapkan dapat melanjutkan studiku seperti rencanaku semula. Tapi rupanya aku harus mengubur cita–citaku karena semua itu mejadi sesuatu yang mustahil bagiku. Pernah aku mengajukan permohonan beasiswa tapi sampai saat ini aku tidak medapatkan informasi atau mungkin berkas–berkas itu sudah menjadi bagian dari tumpukan sampah. Ah …. aku tak tahu. Perjuangan melawan getirnya hidup terus kujalani karena aku harus terus melangkah meskipun dengan tertatih dan dengan bermodalkan ijazah aku terus merambah ke dunia yang sungguh asing bagiku. Dunia baru yang membuka mataku bahwa hidup tidak sekedar dengan kata–kata tetapi sebuah sikap yang bermotifkan doa dan usaha. Aku sadar aku salah karena sejak tragedi itu aku sudah jarang berdoa.

Dering telepon membuatku terhenyak. Aku beranjak dari keasyikanku menonton acara wawancara korban tsunami yang disiarkan langsung dari tempat kejadian. Dan gagang telepon ditanganku hampir terlepas ketika orang di seberang itu mengatakan bahwa aku mendapatkan kehormatan untuk melanjutkan studi di Australia, hadiah yang diberikan oleh almamaterku kepada lulusan terbaik universitas. Dalam pandanganku yang kabur oleh pedihnya air mata, kulihat sebentuk sosok dilayar kaca, wajah seseorang yang sangat kukenal dan tiba–tiba aku histeris.
“Ibuuu……..”

Pernah dipublikasikan oleh Penerbitan Kampus Identitas Unhas

Selengkapnya.....