Hamparan biru gelap terlihat samar menjadikan laut dan langit bersatu dalam garis horison. Di ufuk barat sana, senja mulai tampak dengan sinar lembayungnya menuntun hari beranjak malam. Angin dingin yang menusuk kulit tak juga membuatku beranjak dari tempat itu. Di geladak kapal yang sunyi tempatku berdiri sejak sore tadi, Aku kembali mengenang apa yang kulewati beberapa hari yang lalu. Dan KM. Kerinci yang kutumpangi saat ini tengah membawaku berlayar mengarungi samudera dengan tujuan pelabuhan Semayang, Balikpapan. Mulanya aku tidak mempunyai keberanian untuk melakukan tindakan nekad seperti ini namun keadaan memaksaku untuk melakukan semuanya. Sungguh, rencana perjodohan yang diinginkan oleh kedua orang tuaku teramat berat untuk kujalani. Mereka memaksaku untuk menikah dengan anak seorang kerabat dekat Ibu. Bagi keluargaku dialah laki-laki yang cocok buatku, sudah mapan katanya. Mapan yang bagi kebanyakan orang tua diukur dengan statusnya sebagai seorang pegawai negeri sipil alias punya NIP padahal NIP tidak bisa menjadi jaminan akan kebahagiaan seseorang. Bayangkan aku harus menikah dengan seseorang yang sangat asing bagiku hanya karena jaminan kemapanan padahal Aku sama sekali tak mengenal orang itu. Jangankan mengenal, melihatnyapun Aku tak pernah jadi bagaimana mungkin aku menjatuhkan pilihan pada orang yang sama sekali asing bagiku. Dan pertemuanku kemarin dengan laki-laki pilihan Ibu membuatku yakin akan keputusanku untuk tidak menerimanya. Bagaimana mungkin aku menikah dengan laki-laki yang hampir seumur dengan ayahku. Apalagi aku tak mengenalnya dan tak tahu akan ahlak dan kualitas keimanannya. Penolakanku akan perjodohan itu membuat Ayah naik pitam. Ia tetap berkeras dengan keinginannya dan aku tak punya pilihan lain selain menikah atau keluar dari rumah. Dan aku memilih keluar dari rumah. Aku tahu aku salah tapi aku tak mungkin menikah karena terpaksa. Yang kutahu Islampun mengajarkan bahwa seorang gadis memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri dalam masalah nikah dan tidak sah pernikahan yang dilangsungkan karena paksaan dan tanpa meminta persetujuan dari calon mempelai. Dengan argumen itu aku mencoba meyakinkan kedua orang tuaku tapi mereka tak peduli maka dengan berat hati aku terpaksa angkat kaki dari rumah.

Kapal mulai merapat perlahan di pelabuhan itu. Buih ombak memutih menari-nari tersapu angin seakan menyambut kedatanganku. Aku menghentikan lamunan dan segera menyatukan diri dengan kerumunan para penumpang yang hendak turun. Dengan bermodalkan secarik kertas yang berisi alamat seorang kerabat jauh dan sepenggal ingatan tentang kota yang pernah kukunjungi sepuluh tahun yang lalu, Aku mulai mencari angkutan dengan jurusan Sepinggan. Hari beranjak senja ketika aku menemukan alamat yang kucari dan Aku hampir tak percaya ketika mendapati rumah itu ternyata telah kosong. Sepertinya rumah itu sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya karena nampak debu yang melekat tebal di kusen jendela. Aku panik dibuatnya kemana aku mencari mereka sedang aku belum menguasai daerah itu. Dan di kota itu, merekalah satu-satunya saudara yang kukenal. Dalam kebingunganku yang teramat sangat tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang yang menyapaku. Seorang perempuan tua yang menjinjing sehelai tikar pandan. Aku menjelaskan tentang kesulitanku padanya, tentang rumah kosong milik kerabatku itu. Perempuan itu tersenyum mendengar penuturanku dan mengatakan kalau penghuni rumah itu sudah pindah sejak tiga bulan yang lalu. Dengan ramah Ia mengajakku untuk ikut dengannya kerumahnya yang berada di pinggiran kota. Aku menurut saja mengikuti langkah perempuan yang tertatih-tatih itu.

Nenek Sani, nama seorang perempuan tua yang telah berbaik hati mau menampungku di rumahnya. Ia tinggal seorang diri di rumah panggung yang luas itu. Tiap hari wanita itu menganyam tikar pandan, pekerjaan yang ditekuninya sejak puluhan tahun silam. Suaminya yang seorang penjaga sekolah telah lama meninggal sejak sepuluh tahun yang lalu sedang anak laki-lakinya yang hanya seorang itu merantau ke Malaysia dan hampir dua puluh tahun tak pernah pulang. Gurat-gurat kerinduan akan anak tunggalnya itu terlihat jelas di wajahnya ketika untuk kesekian kalinya nenek Sani menceritakan anaknya yang tak pernah pulang. Meskipun kerap nenek Sani menerima kiriman dari putranya itu tapi Ia tetap saja tak merasa bahagia. Ia ingin anaknya itu pulang sekedar untuk menawarkan kerinduannya sebagai seorang Ibu. Dan di usianya yang semakin senja Ia sangat mengharapkan pertemuan itu sebelum ajal menjemputnya. Aku terharu mendengar keinginan yang sangat sederhana itu.

Seperti biasa aku kembali duduk di dekat jendela rumah panggung itu sambil menatap bocah-bocah yang tengah bermain di bawah rinai hujan yang semakin deras. Aku tersenyum melihat wajah lugu mereka yang tanpa beban tidak seperti aku yang selalu berwajah muram, begitu kata nenek. Meskipun aku tak semuram ketika seperti kedatanganku pertama kali di tempat ini tapi tetap saja masih terlihat sisa-sisa kesedihanku. Dan untuk menghilangkan kesedihanku, Aku menyibukkan diri membimbing lisan-lisan anak lima tahunan itu dengan belajar sambil bermain di sebuah taman kanak-kanak. Kecintaanku pada anak-anak membuatku betah bersama mereka dan sedikit menghilangkan kesedihanku selama ini. Seperti hari-hari kemarin, setiap kali aku menatap bocah-bocah itu, aku kembali disergap oleh perasaan rindu tanpa mampu ku bendung. Rindu yang semakin mengakar pada orang tuaku, saudara-saudaraku, kampung halamanku dan pada dia yang kini entah seperti apa. Sejak kepergianku tempo hari aku sama sekali tak pernah mendengar kabarnya. Suara nenek yang menyapaku langsung membuyarkan lamunanku yang sedang dihinggap kerinduan. Kebiasaanku duduk di dekat jendela seperti itu membuat nenek menjuluki aku dengan sebutan gadis jendela. Panggilan yang sangat unik tapi aku tahu nenek tak ingin aku benar-benar menjadi seorang gadis jendela yang selalu merenungi nasib dan selalu menutup diri seperti itu.

Senja temaram di belakang kota. Sayup-sayup terdengar lagu sendu yang dilantunkan oleh penyanyi legendaris Ebit G. Ade. Aku kembali menemukan diriku sebagai seorang gadis jendela, duduk termenung seorang diri. Setahun sudah aku tinggal di rumah panggung milik Nenek Sani tapi kali ini aku merasakan suasana yang teramat lain. Ada perih menoreh amat dalam. Rasa sepi yang ada seakan mengurungku dalam jeruji ketidakberdayaan akan takdir Sang Kuasa. Ragaku seakan terpasung dalam ruang kehampaan. Hampa tanpa kehadiran nenek Sani disampingku sebab seminggu yang lalu Nenek telah berpulang sebelum sempat mengobati kerinduannya akan anaknya yang tak kunjung datang. Seperti Nenek Sani, rasa rindu itu kembali menyeruak menembus dinding keterdiamanku. Rasa yang lama ku buang dalam ruang kelupaan itu kini hadir begitu saja. Rindu itu hadir bersamaan dengan rasa sepi yang menusuk-nusuk, hanya saja kini aku tak tahu rindu itu untuk siapa.

0 komentar: