Tampilkan postingan dengan label Kisah Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Mini. Tampilkan semua postingan

Semilir angin membawa semerbak wangi bunga dari taman di depan sebuah bangunan nan megah. Rasanya aku bagaikan berada di negeri dongeng, negeri impian yang pernah hidup di dunia khayalku ketika aku kecil dulu. Aku berdiri di depan gerbang sebuah bangunan menyerupai kastil yang megah bak istana. Lama aku menunggu tapi pintunya tak juga terkuak, tetap kokoh tak bergeming oleh ketukanku. Aku sedih padahal aku sudah menunggu begitu lama. Bukan berhari-hari atau berminggu-minggu tapi bertahun-tahun dengan segenggam asa tentang sebuah janji pertemuan. Janji yang menguatkanku untuk bertahan meski aku tak pernah tahu apakah gerbang kokoh itu akan terbuka untukku. Hingga kurasakan bahwa janji itu semakin buram tertutup oleh debu-debu keraguan. Segudang keyakinan dan kepercayaan yang kurajut bersama mimpi kini hambar ditelan masa. Dan ketika ketidakhadiran mewarnai penantianku dibalik tembok kastil yang angkuh, Aku tergugu sebab janji itu hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang tak pernah aku sadari hingga suara dentang jam menyadarkanku akan sebuah kenyataan. Rupanya aku telah bangun kesiangan tepat pada saat jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang.

Aku mencoba berlari ke arah jendela. Di luar sana matahari terik menusuk-nusuk. Kulihat beberapa perempuan sebayaku berjalan beriringan sambil membawa payung berenda. Tapi mengapa mereka berjalan manjauh dari rumahnya sambil mengendarai kereta berkuda? Mengapa perempuan-perempuan itu membawa buntalan- buntalan besar berwarna-warni? Kemanakah mereka pergi? Aku terus bartanya-tanya dalam hati sambil memandangi punggung mereka yang makin menjauh. Aku juga ingin bartanya mengapa perempuan-perempuan itu selalu tersenyum seakan mereka berjalan menyongsong sebuah kebahagiaan. Kulihat rumahku sepi, tak ada siapa-siapa. Dari jauh kudengar suara ibuku terbatuk-batuk. Aku mencari sumber suara itu tapi aku tak menemukannya. Kemanakah mereka? Kemana juga kedua saudara perempuanku? Aku mencoba melongokkan kepala ke dalam kamar adik perempuanku itu. Disitu kulihat sebuah payung berenda dan buntalan besar berwarna merah muda. Aku bertanya-tanya, apakah adikku juga akan pergi membawa buntalan itu seperti perempuan-perempuan yang kulihat barusan. Aku berlari mencari-cari di setiap sudut rumahku. Lama aku mencari tapi aku tak juga menemukan siapa-siapa. Yang terdengar hanyalah mendengar suara dentam langkah kakiku yang memantul pada dinding-dinding rumahku. Lamat-lamat aku mendengar suara ayah dan ibuku yang memanggil namaku lirih. Sepertinya mereka sedih melihatku kebingungan seperti itu. Aku juga mendengar suara kedua saudara perempuanku yang sedang bersenda gurau. Aku makin bingung, dimanakah mereka?


Aku berlari menghambur keluar rumah tapi aku tak juga menemukan mereka disana. Yang kulihat hanyalah wajah sumringah seorang ibu setengah baya yang melambaikan tangan dari pintu rumahnya. Perempuan itu melepas kepergian anaknya dengan senyuman. Kulihat seorang perempuan muda berangkat dengan mengendarai kereta berkuda bersama seseorang. Kembali aku berlari dalam kebingungan. Kali ini langkahku menuju ke halaman rumahku. Hatiku bertanya-tanya kemana kereta kayu yang biasa mangkal di depan rumahku. Yang selalu bernaung di bawah pohon yang tumbuh tepat disamping kamarku. Yang kusirnya selalu mendongakkan kepala ke arah jendela kamarku seakan berharap aku membuka jendela dan tersenyum padanya. Aku bertanya tentang keanehan di rumahku pada seseorang yang kebetulan lewat di depan rumahku. Perempuan itu terdiam mendengar pertanyaanku dan kalimat yang keluar dari mulut perempuan tua itu cukup membuatku terkejut. Rupanya para pemilik kereta berkuda itu telah pergi satu-satu ketika aku tak juga bangun dari tidurku yang panjang. Mereka lelah sebab aku tak pernah membuka jendela kamarku hanya untuk melihatnya apalagi menyapanya.

Rasa bersalah tiba-tiba menghinggapi hatiku. Kenapa aku tak pernah mengindahkan nasehat ibu yang memintaku untuk membuka sedikit jendela kamarku agar udara pagi membangunkanku dari mimpi-mimpiku. Aku tersenyum getir. Rupanya tidur panjangku membuatku kehilangan kesempatan untuk menghirup udara pagi. Mimpi indahku tentang janji-pertemuan itu lmembuatku terlelap hingga aku bangun kesiangan tepat pada saat jam dinding bertentang dua belas kali. Aku pasrah ketika aku tak juga menemukan orang tuaku dan kedua saudara perempuanku. Tiba-tiba aku dilanda rasa khawatir yang amat sangat. Aku takut tinggal sendirian di rumah yang sunyi itu. Hingga kuputuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu tanpa tahu kemana tujuanku tanpa kereta, payung berenda apalagi buntalan besar warna-warni yang biasa dibawa oleh perempuan-perempuan sebayaku. Juga tanpa senyum sumringah dari orang tuaku. Tatapanku tiba-tiba kabur oleh pedihnya air mata ketika kusadari jalan yang kulalui teramat sepi. Aku takut berjalan dalam kebingungan seperti ini, sendiri tanpa siapa-siapa.
Selengkapnya.....

Angin bertiup perlahan meninggalkan riak-riak kecil diatas air. Laut yang semula tenang kini membentuk segulung ombak yang menggapai-gapai seolah menahan kepergian sang angin,

Ombak : Mengapa kau ingin meninggalkanku padahal kita sudah lama bersama?

Angin : Maafkan aku...aku tak ingin lagi membuatmu menjadi badai

Ombak : Aku tahu...kau tak pernah bermaksud memporak-porandakan negeri diatas air ini. awan hitam itulah yang selalu mengejekmu hingga kau tak bisa menahan amarahmu

Angin : Tapi kita tetap tak bisa bersama. lihatlah di pulau sana, banyak bangkai kapal yang karam ditelan badai. itu karena apa? karena keegoisan kita yang tak pernah mau mengalah. kita selalu saja terhasut oleh bujukan awan hitam untuk saling mengalahkan

Ombak terdiam mendengar perkataan angin. ia merasa bersalah karenanya

Ombak : Jadi kau akan kemana?

Angin : Aku akan pergi ke tempat yang jauh dimana kehadiranku tak membebani siapa-siapa

Ombak : Bolehkah aku mengunjungimu jika suatu saat nanti aku merindukanmu?

Angin : Tidak....kau tak boleh mengunjungiku. kedatanganmu hanya akan memporak-porandakan tempat tinggalku karena kau harus menjelma menjadi air bah dan itu artinya bencana bagi negeri baruku

Ombak : Negeri barumu? seperti apakah itu?

Angin tersenyum mendengar pertanyaan ombak itu

Angin : Negeri baruku adalah hutan-hutan, padang rumput yang hijau dan kaki bukit yang rimbun

Ombak : Mengapa kau memilih tempat seperti itu padahal kau sudah terbiasa berlari diatas samudera yang luas

Angin : Aku tahu...tapi aku ingin berada di tempat dimana orang lain mengharapkan kehadiranku. selama ini tak ada yang membutuhkanku di tengah laut terlebih para nelayan itu, mereka tak pernah mengharapkan kehadiranku

Ombak tertunduk sedih mendengarkan penuturan sang angin. ia sangat mengerti perasaan sang angin yang selalu kesepian di tengah samudera. memang tak ada yang benar-benar mengharapkan kehadirannya. hanya ombaklah yang menemaninya berkejaran hingga menyisakan buih putih diatas air. tiba-tiba ombak merasakan kehilangan yang amat sangat. tatapannya nanar ketika mendengar desau sang angin

"Jika kau merindukanku tataplah langit diatas sana. carilah bintang yang paling terang sebab aku berada jauh dibawahnya. nikmati sedihnya kerinduanmu, resapi perihnya rasa kehilanganmu namun jangan kau teteskan air matamu karena rasa rindumu yang membuncah. yakinlah, aku akan datang dalam kesepianmu, membelaimu hingga terlelap dan membangunkanmu ketika kau benar-benar telah melupakan segala kerinduanmu padaku"


Selengkapnya.....