Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan



Ini adalah pengalamanku beberapa bulan yang lalu saat suami mengajakku untuk mengunjungi sebuah tempat wisata di daerah Gowa. Sebenarnya kunjungan itu dalam rangka agenda rapat kantor tempat suami bekerja namun karena suasana yang begitu nyaman, agenda rapatpun berubah menjadi acara refreshing. Suasana teduh dan tenang saat duduk di bawah pohon yang tumbuh lebat membuat niat diskusi menjadi ajang senda gurau. Belum lagi terdapat kolam renang yang seolah memanggil-manggil untuk segera berenang.

Putri kecilku yang saat itu ikut bersamaku langsung sumringah menatap jernihnya air kolam. Dengan rasa tak sabar ia menarik-narik lenganku agar segera membawanya ke dalam kolam. Betapa gembiranya putriku bisa berendam berlama-lama di dalam kolam apalagi banyak anak-anak lainnya yang tengah bermain air. Saat hari menjelang sore, putri kecilku tak mau meninggalkan kolam dan menangis sejadi-jadinya saat aku menggendongnya. Dengan alasan mandi bola di arena bermain akhirnya anakku berhenti menangis dan begitu senangnya dia saat aku membawanya ke tempat bermain. Aneka bentuk permainan ada disitu dan semua anak bisa bermain sepuasnya.

Terlepas dari pengalamanku diatas, potensi wisata kebun Kab. Gowa sangat menjanjikan. Hal ini dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke tempat itu terutama pada saat hari libur. Jika hari-hari biasa pengunjung tak terlalu banyak namun jika hari Sabtu-Minggu atau hari libur nasional tiba, pengunjung seolah tumpah ruah di tempat itu. Para pengunjung berdatangan dengan rombongan anak-anak dan orang tua. Dengan membawa bekal masing-masing, para pengunjung mulai memadati kolam renang dan arena bermain anak. Bapak-bapak yang hobi memancing langsung melangkahkan kakinya menuju tempat pemancingan ikan. Beberapa anak juga mulai menjajaki arena track mini yang tersedia di tempat itu.

Jadi, jika anda menyukai rindangnya pepohonan dan teduhnya taman buah, maka wisata kebun Gowa-lah tempatnya. Daerah wisata ini terletak di jalan poros Malino Kab. Gowa. Tempat satu ini memiliki daya tarik tersendiri dan bisa dijadikan alternatif wisata favorit keluarga.
Tak hanya rindang, wisata kebun ini menyediakan fasilitas berupa arena bermain, kolam renang, tempat memancing, mini track, restoran juga tempat penginapan. Bagi pengunjung yang suka memancing bisa menyalurkan hobinya memancing karena alat pancing dan umpan sudah disediakan di tempat ini.

Seperti namanya, wisata kebun ini banyak ditumbuhi pepohonan dan aneka macam bunga. Buah-buahan seperti rambutan, mangga, nanas, pepaya, jeruk dan lain-lain tumbuh subur di kawasan ini. Berdasarkan keterangan karyawan setempat saat musim buah tiba, pengelola menjualnya kepada para pengunjung yang bisa langsung menikmatinya di tempat itu.

Wisata kebun ini memiliki banyak kelebihan karena menyediakan banyak sarana hiburan. Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 25.000 untuk hari Sabtu-Minggu dan Rp. 15.000 pada hari biasa, kita dapat menikmati fasilitas hiburan sepuasnya. Jika ingin menginap, pengunjung bisa menyewa villa yang tersedia di tempat ini. Disini juga tersedia restoran yang penyajian makanannya sampai pagi jadi bagi wisatawan yang menginap bisa makan sepuasnya.

Banyaknya pengunjung yang datang saat musim libur tiba menjadikan areal wisata ini menjadi sempit karena memadatnya wisatawan. Ada baiknya jika pihak pengelola dan pemerintah setempat bekerja sama dengan memperluas areal wisata agar pengunjung bisa leluasa menikmati sarana hiburan yang ada. Berhubung tempat wisata ini baru beroperasi selama tiga tahun, ada baiknya dilakukan promosi online dan pembuatan brosur wisata agar kebun wisata ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan tapi juga masyarakat Indonesia. Dengan demikian kawasan wisata ini bisa menjadi tempat wisata favorit keluarga.
Selengkapnya.....


Tanjung Bira, sebuah pantai di pesisir selatan pulau Sulawesi yang memiliki pesona pasir putih dengan airnya yang jernih serta pemandangan yang menyejukkan mata. Aroma khas air laut dan pasir basah selalu berhasil memancing keinginan para pengunjung untuk segera menceburkan diri ke laut.

Sejak pertama kali mengunjungi Tanjung Bira, aku merasakan kekaguman yang luar biasa. Pantai berpasir putih nan elok dengan pemandangan yang indah membuat pengunjung merasa 'tak salah pilih' ketika memutuskan untuk mengunjungi tempat itu.

Tidak seperti pantai lainnya, pantai Tanjung Bira ini memiliki partikel pasir yang lebih kecil dengan tekstur yang halus sehingga terasa lembut ketika kita berjalan diatas pasirnya. Kebersihan pantainya pun selalu terjaga sehingga membuat kita enggan untuk membuang sampah sembarangan.

Secara geografis, Tanjung Bira terletak di sebelah selatan provinsi Sulawesi Selatan. Sekitar 40 km dari kota Bulukumba atau 200 km dari kota Makassar. Kawasan wisata Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan mobil dengan waktu tempuh sekitar 4-5 jam dari Makassar. Dapat pula ditempuh dengan menggunakan angkutan umum dari Makassar ke Bulukumba dengan tarif Rp. 40.000. Untuk menuju Tanjung Bira menggunakan mikrolet yang banyak ditemui di Bulukumba dengan tarif Rp. 10.000. Bagi setiap pengunjung dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp. 5.000.

Kawasan wisata Tanjung Bira menyediakan sarana tempat penginapan berupa hotel, villa, bungalow dan restoran. Masing-masing penginapan memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Jadi, pengunjung bisa memilih tempat penginapan sesuai dengan keinginannya. Sarana penunjang seperti telekomunikasi pun tergolong lancar. Di kawasan ini juga tersedia peralatan diving dan snorkling. Bagi para pengunjung yang ingin membersihkan diri setelah berenang di pantai, disediakan air tawar dan kamar mandi umum. Dan bagi wisatawan yang ingin berkeliling sepanjang pantai, tersedia pula penyewaan kapal motor dengan tarif Rp. 65.000.

Tanjung Bira merupakan salah satu aset wisata Sulawesi Selatan yang sangat diandalkan. Daerah ini telah ditata apik sehingga menjadikannya sebagai kawasan wisata yang terkenal di dalam dan luar negeri. Pengujungnya terdiri dari wisatawan domestik dan mancanegara. Tak jarang ditemui wisatawan asing yang menginap selama berhari-hari di daerah wisata ini. Hal ini menandakan bahwa Tanjung Bira memiliki pesona luar biasa hingga membuat pengunjung betah berlama-lama berada di tempat itu.

Untuk mengoptimalkan potensi wisata Tanjung Bira dapat dilakukan dengan cara promosi online, pembuatan brosur wisata ataupun dengan menggelar pameran budaya. Hal ini bertujuan untuk menarik minat pengunjung untuk berwisata di Tanjung Bira. Dengan demikian kawasan wisata Tanjung Bira lebih dikenal lagi oleh masyarakat di dalam dan luar negeri.

Tanjung Bira tidak hanya menyediakan potensi wisata yang sangat besar, masyarakatnya pun turut andil dalam mewujudkan daerah ini sebagai tempat wisata. Kreatifitas masyarakat dapat dilihat dari adanya kerajinan tangan yang terbuat dari aneka kulit kerang, patahan karang dan lain-lain. Aneka bahan yang bersumber dari laut tersebut dikemas begitu rupa hingga membentuk benda aneka rupa. Benda-benda hasil kreasi masyarakat itu kemudian dijual di sepanjang jalan menuju pantai Tanjung Bira. Pengunjung pun menjadikannya sebagai buah tangan yang wajib dibawa pulang sebagai oleh-oleh tanda mata dari Tanjung Bira.

Berjalan diatas pasir putih Tanjung Bira sambil menunggu matahari terbenam di ufuk barat merupakan moment yang sangat dinanti oleh para wisatawan. Begitu pula denganku yang tengah mengisi waktu liburan akhir tahun. Lembayung jingga di cakrawala berpadu dengan semilir angin sore dan lembutnya pasir putih, seakan membisikkan kata untuk segera kembali menikmati indahnya pesona Tanjung Bira.

Selengkapnya.....



Menelusuri jejak peninggalan kesultanan Buton, kita akan menemukan sebuah benteng yang terletak pada ketinggian kota Bau-Bau. Sebuah benteng yang mengelilingi pusat pemerintahan kesultanan Buton yang dibangun pada tahun 1632. Benteng ini memiliki panjang 2.740 m dengan ketebalan 1-2 m dan tinggi mencapai 2-3 m. Benteng keraton memiliki 12 pintu (lawa) yang diberi nama sesuai dengan nama atau gelar pengawas pintu-pintu tersebut. Sebagai sebuah benteng yang berfungsi sebagai tempat perlindungan, benteng keraton dilengkapi dengan puluhan meriam yang terdapat pada setiap pintu.


Di kawasan benteng ini terdapat pemukiman penduduk yang merupakan pewaris dari keluarga bangsawan keraton Buton masa lalu. Rumah-rumah panggung yang sederhana tetap di pertahankan keasliannya. Itulah sebabnya mengapa jika memasuki kawasan benteng ini kita merasakan seakan berada di masa lampau.


Banyak obyek menarik yang terdapat di dalam benteng Kraton ini. Ada batu Popaua (batu pelantikan), Masjid Agung Keraton, Makam Sultan I Buton, Tiang Bendera dan meriam-meriam kuno. Masjid agung kraton merupakan bangunan pusat kegiatan lembaga kesultanan di bidang keagamaan. Masjid ini berukuran 21 x 22 meter dan memiliki 12 pintu seperti pada benteng Kraton. Nuansa islami ditunjukkan oleh bentuk pemerintahan kesultanan dengan bahasa resmi yaitu bahasa Wolio yang tertulis dengan aksara Wolio menggunakan huruf hijahiyah Arab. Warisan lainnya adalah Keanekaragaman bahasa yang dimiliki oleh masyarakat Buton hingga mencapai puluhan jenis bahasa dengan dialek tersendiri. Namun bahasa Woliolah yang menjadi pemersatu dari keanekaragaman bahasa tersebut.



Salah satu bagian benteng tertua adalah tiang bendera ’ Kasulana Tombi’. Tiang bendera ini berdiri sejak abad 17 dan sampai sekarang tiang bendera ini masih terpancang meski harus disanggah oleh empat tonggak karena sudah termakan usia. Konon bendera ini pernah mengibarkan banyak bendera antara lain bendera Kraton Buton, Belanda, Jepang dan yang terakhir Sang Saka Merah putih.



Tak jauh dari Masjid Agung Kraton terdapat makam raja yang sekaligus Sultan I Buton. Murhum adalah raja pertama yang menganut ajaran islam. Sejak itu sistem pemerintahan yang mulanya kerajaan berubah menjadi kesultanan yang sarat akan ajaran islam.


Obyek menarik lainnya yang bisa ditemukan di dalam benteng ini adalah Batu Popaua. Batu ini merupakan batu pelantikan raja yang akan berkuasa. Permukaan batu Popaua ini hampir sama rata dengan tanah namun mempunyai lelukan yang berukuran hampir sama dengan dengan telapak kaki manusia. Di lekukan itulah Sang Raja menginjakkan kaki kanannya sambil mengucapkan sumpah jabatan sebagai raja dibawah payung yang diputar sebanyak tujuh kali.






Selengkapnya.....

Maha besar Allah yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya dan segala keindahannya. Panorama laut biru yang memukau dengan alam bawah lautnya semakin menyadarkan kita akan hasil karya sempurna dari Sang Pencipta. Sungguh pesona alam selalu membuat kita tergugah akan keindahannya. Keindahan yang tak mampu dilukiskan oleh pena sang penyair sekalipun.

Pesona alam selalu mengingatkan kita akan tempat-tempat wisata yang cukup memukau. Suatu keindahan yang terpancar dari alam yang selalu dijadikan sebagai sarana hiburan bagi siapa saja yang ingin menikmatinya. Tidak hanya itu alam selalu menjadi inspirasi yang tak pernah habis termakan waktu.

Berbicara tentang pesona alam mungkin sebuah tempat bisa dijadikan referensi tambahan untuk dijadikan sebagai tempat rekreasi. Sebuah kawasan wisata dimana masyarakat setempat menamakannya sebagai Pantai Nirwana. Sebuah pantai yang terletak di sebelah timur kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara dengan panjang garis pantai sekitar 400 m dan jarak tempuh sepanjang 7 km dari pusat kota. Kawasan ini merupakan daerah wisata yang masih terbilang tradisional karena pengelolaannya belum sepenuhnya ditangani oleh pemerintah setempat. Meski demikian pesona nirwana selalu mampu menarik minat pengunjung untuk kembali dan kembali bermain bersama riak ombaknya dan pasir putihnya yang memukau.

Nirwana yang masih tampak primitif


Asyiknya bermain di Nirwana


Menyusuri Nirwana

.

Senja di Pantai Nirwana


Pesona Nirwana dalam temaram senja


Nyiur melambai menambah semaraknya Nirwana

Pasir putih selalu memukau pandangan


Asyiknya bermain bersama ombak Nirwana

Selengkapnya.....