


Banyak obyek menarik yang terdapat di dalam benteng Kraton ini. Ada batu Popaua (batu pelantikan), Masjid Agung Keraton, Makam Sultan I Buton, Tiang Bendera dan meriam-meriam kuno. Masjid agung kraton merupakan bangunan pusat kegiatan lembaga kesultanan di bidang keagamaan. Masjid ini berukuran 21 x 22 meter dan memiliki 12 pintu seperti pada benteng Kraton. Nuansa islami ditunjukkan oleh bentuk pemerintahan kesultanan dengan bahasa resmi yaitu bahasa Wolio yang tertulis dengan aksara Wolio menggunakan huruf hijahiyah Arab. Warisan lainnya adalah Keanekaragaman bahasa yang dimiliki oleh masyarakat Buton hingga mencapai puluhan jenis bahasa dengan dialek tersendiri. Namun bahasa Woliolah yang menjadi pemersatu dari keanekaragaman bahasa tersebut.

Salah satu bagian benteng tertua adalah tiang bendera ’ Kasulana Tombi’. Tiang bendera ini berdiri sejak abad 17 dan sampai sekarang tiang bendera ini masih terpancang meski harus disanggah oleh empat tonggak karena sudah termakan usia. Konon bendera ini pernah mengibarkan banyak bendera antara lain bendera Kraton Buton, Belanda, Jepang dan yang terakhir Sang Saka Merah putih.

Maha besar Allah yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya dan segala keindahannya. Panorama laut biru yang memukau dengan alam bawah lautnya semakin menyadarkan kita akan hasil karya sempurna dari Sang Pencipta. Sungguh pesona alam selalu membuat kita tergugah akan keindahannya. Keindahan yang tak mampu dilukiskan oleh pena sang penyair sekalipun.
Pesona alam selalu mengingatkan kita akan tempat-tempat wisata yang cukup memukau. Suatu keindahan yang terpancar dari alam yang selalu dijadikan sebagai sarana hiburan bagi siapa saja yang ingin menikmatinya. Tidak hanya itu alam selalu menjadi inspirasi yang tak pernah habis termakan waktu.
Berbicara tentang pesona alam mungkin sebuah tempat bisa dijadikan referensi tambahan untuk dijadikan sebagai tempat rekreasi. Sebuah kawasan wisata dimana masyarakat setempat menamakannya sebagai Pantai Nirwana. Sebuah pantai yang terletak di sebelah timur kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara dengan panjang garis pantai sekitar 400 m dan jarak tempuh sepanjang 7 km dari pusat kota. Kawasan ini merupakan daerah wisata yang masih terbilang tradisional karena pengelolaannya belum sepenuhnya ditangani oleh pemerintah setempat. Meski demikian pesona nirwana selalu mampu menarik minat pengunjung untuk kembali dan kembali bermain bersama riak ombaknya dan pasir putihnya yang memukau.
Nirwana yang masih tampak primitif
Asyiknya bermain di Nirwana.
Pesona Nirwana dalam temaram senja
Nyiur melambai menambah semaraknya Nirwana
Pasir putih selalu memukau pandangan
Asyiknya bermain bersama ombak NirwanaSelengkapnya.....







