Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Ini adalah kisahku setahun yang lalu, yang jika mengingatnya saja bisa membuat air mataku tumpah. Dan dengan mata berkaca-kaca kutulis pengalaman hidupku ini sekedar berbagi untukmu para wanita.

Memiliki buah hati adalah impian setiap orang yang sudah memasuki jenjang pernikahan. Begitupun denganku, hari-hariku dipenuhi dengan doa agar aku segera mendapat momongan. Dan Allah Maha Besar. Dia mengabulkan doaku karena beberapa lama kemudian aku dinyatakan hamil. Seperti pada umumnya perempuan hamil akan mengalami masa-masa ngidam yang berbeda antara wanita yang satu dengan yang lainnya. Begitupun denganku, meski pengalamanku agak lain. Waktu itu menjelang Hari Raya Idul Fitri dan aku mulai mengalami gejala-gejala layaknya perempuan ngidam. Aku tetap menjalankan ibadah puasa meski hanya sahur dengan ubi dan pisang rebus dan berbuka pun hanya dengan menu itu. Nasi menjadi makanan yang aneh rasanya dilidahku apalagi sayur hijau. Saat itu, dimataku semua jenis sayur terlebih bayam seolah berubah menjadi rumput liar. Melihatnya saja sudah cukup membuatku mual. Jadi tak ada lagi menu nasi dan ikan apalagi sayur hijau.

Sungguh, masa ngidam itu begitu sulit bagiku. Aku hanya bisa berdoa semoga Allah menguatkan hatiku dalam menjalani masa ngidam ini. Tak ada makanan yang benar-benar bisa kumakan dengan tanpa memuntahkannya kembali. Segala jenis aroma selalu membuatku mual, mulai dari aroma ikan goreng, ikan bakar, asap rokok, bau kulkas yang dibuka, bau sampah dan bau parfum juga semua jenis makanan yang enak dilidah seperti sate, ayam, bakso selalu membuat isi perutku ingin keluar semua.

Aku semakin lemah karena makanan pokok tak juga mau berdamai dengan perutku. Alhasil buah menjadi menu pokok harianku. Dari buah jambu air yang jadi menu makan pagi, siang dan malam. Kemudian berganti apel, jambu monyet yang saat itu lagi musim. Berapa hari kemudian aku hanya bisa makan mentimun dan pepaya. Tak lama makan siangku ditemani buah semangka dan mangga muda kemudian cirkaya, seperti itulah keadaanku selama berminggu-minggu dan sungguh semua itu membuatku lemah.

Hari-hari yang sulit itupun kujalani. Jangankan makanan, air putih pun sering membuatku muntah. Entahlah, mengapa aku seperti itu padahal yang kudengar dari cerita orang kalau masa ngidam tidaklah sesulit itu. Aku pasrah, pasrah menjalani semuanya sendiri tanpa suami. Ah, aku lupa aku juga selalu mual jika berdekatan dengan suamiku. Dimataku seluruh badannya itu penuh dengan asap rokok dan dengan hanya menciumnya dari jauh saja sudah membuat kepalaku pusing dan mual. Jadi aku lebih suka kalau ia tinggal saja di Makassar. Tak ada asupan gizi seimbang saat itu, tak ada protein, asam folat, zat besi karena aku sangat membenci minuman yang bernama susu. Susu hanya membuat perutku seperti diobok-obok. Parahnya suamiku tak yakin akan hal itu, Ia terus mengontrol jadwal minum susu dari jauh dan paling sering alasanku pura-pura lupa. Hingga suatu hari badanku yang kurus semakin lemah. Aku tak mampu berdiri apalagi berjalan karena sejak pagi tak ada makanan yang bisa kumakan. Aku merangkak keluar kamar dan terkulai lemas tak sadarkan diri di depan pintu. Seisi rumah histeris melihatku terkulai tak berdaya seperti itu.

Aku semakin kurus, badanku kian melemah dan mataku makin cekung menyisakan tanda hitam di kelopak mata. Itu artinya aku mulai mengalami gejala dehidrasi. Aku hanya mampu berbaring di tempat tidur tanpa mampu berbuat apa-apa. Mataku hanya mampu menatap daun-daun hijau di luar jendela sambil berharap agar semuanya cepat berlalu. Bagiku detik telah berubah menjadi jam dan jam berubah menjadi hari. Betapa lamanya masa ngidam ini berlalu. Satu yang kusyukuri bahwa aku masih mampu menjalankan kewajibanku untuk shalat lima waktu.

Episode ngidam pun berlalu, alhamdulillah aku sudah bisa makan seperti biasanya meskipun tidak semua jenis makanan bisa kujamah. Tapi tak apalah setidaknya aku bisa makan makanan bergizi dan mulai memaksakan diri untuk minum susu. Hingga usia kandunganku memasuki minggu kesekian, aku memutuskan untuk berangkat ke Makassar. Dengan berat hati aku meninggalkan kampungku mengikuti keinginan suami dan keluarga besarnya. Yah aku pasrah, dalam keadaan seperti itu apalagi menghadapi persalinan nanti, aku ingin sekali berada disamping ibuku.


Hari itu aku merasakan gerakan yang amat lincah dari perutku. Gerakan menendang disana sini nampak menonjol dari luar membuat tanganku refleks mengelusnya. Menjelang sore gerakannya melemah hanya berupa geliat-geliat kecil saja. Malamnya aku mulai mendapatkan tanda bercak darah dan itu menandakan waktu persalinan semakin dekat. Tengah malam aku, suami dan mertua perempuanku ke rumah sakit bersalin. Mulanya aku tenang-tenang saja tapi memasuki ruang bersalin aku merasakan sedih luar biasa. Suami dan mertuaku keluar dari kamar bersalin dan aku ditinggal sendirian. Aku berbaring dengan sedikit ketakutan. Seorang bidan datang melakukan pemeriksaan dalam dan dia mengatakan baru pembukaan satu. Kulihat seorang perempuan merintih-rintih kesakitan, disampingnya ada seorang perempuan paruh baya yang membelai rambutnya dengan sayang dan berusaha menenangakan anaknya yang terus merintih kesakitan. Melihat itu tangisku pun meledak. Seorang bidan datang mendekati dan bertanya mengapa aku menangis. Aku menjawabnya dengan terpatah-patah. Aku bilang kalau aku ingat ibuku. Aku ingin ibuku ada disini menemani proses persalinananku, menguatkanku dan menenangkanku menghadapi semuanya. Bidan itu menyarankan agar aku menelpon ibu. Kudengar suara ibuku di seberang sana mencoba menenangkanku. Rencananya ibuku akan datang beberapa hari lagi berhubung kapal yang akan ditumpanginya agak terlambat.

Malam itu aku tak dapat tidur sekejap pun karena wanita di sampingku terus merintih kesakitan. Hingga pagi menjelang aku tak dapat tidur sama sekali terganggu oleh suara rintihannya yang semakin menjadi. Aku keluar kamar bersalin dan berjalan-jalan di koridor rumah sakit itu. Tak lama kudengar tangisan memecah kesunyian pagi itu. Rupanya perempuan itu telah melahirkan walau dengan kondisi payah akibat kekurangan tenaga. Aku mengucap syukur turut bahagia atas kelahiran bayinya. Hingga siang menjelang aku terus berjalan mengelilingi koridor rumah sakit dan hanya duduk beberapa menit saja. Kata bidan duduk tak baik bagi perempuan yang akan melahirkan dan saran itu kupatuhi. Karena capek aku kembali masuk ke ruang bersalin dan melakukan pemeriksaan dalam lagi. Hasilnya masih pembukaan satu. Aku membaringkan diri di ranjang dan tertidur. Aku terbangun mendengar suara gaduh di luar. Rupanya ada pasien yang akan melahirkan, aku bergegas keluar kamar tak tahan mendengar tangis dan rintihan perempuan itu. Begitulah seterusnya setiap kali ada pasien yang akan melahirkan aku akan keluar dari kamar bersalin itu.

Sudah dua hari aku berada di rumah sakit bersalin itu tapi masih belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Para bidan mengatakan kalau aku terlalu cepat ke rumah sakit. Aku tak tahu sebab ini adalah pengalamanku yang pertama. Aku masih saja tinggal di ruang bersalin dan mondar mandir di ruangan itu. Aku merasa risih sebab setiap kali ada pasien, aku harus menggeser tempat tidurku. Ranjang pertama untuk perempuan yang siap melahirkan, kedua untuk perempuan yang sudah pembukaan sekian. Begitu seterusnya. Sebelumnya aku menempati ranjang kedua sebagai pasien kedua yang masuk tapi karena hanya aku yang masih pembukaan satu maka aku menempati ranjang terakhir. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang kualami semakin bertambah-tambah tapi masih saja belum ada perubahan pembukaan. Dan karena seringnya pemeriksaan dalam, aku mengeluarkan banyak darah seperti layaknya wanita yang sedang haid. Aku sempat memberitahu bidan tapi mereka hanya menjawab santai, ah itu sudah biasa.

Hari itu aku begitu lelah karena aku menjadi susah tidur sejak berada di rumah sakit. Rasa sakit yang makin bertambah-tambah membuatku tak bisa tidur. Dengan memaksakan diri aku terus berjalan keliling koridor rumah sakit sambil menghentak-hentakkan kaki, konon katanya berjalan membuat kandungan cepat turun dan mudah terjadi pembukaan. Rasa sakit tak membuatku surut untuk terus berusaha. Keringat terus membasahi baju yang kukenakan. Pagi, siang, malam bahkan subuh pun aku berjalan mengelilingi koridor rumah sakit yang sunyi ditemani oleh suami yang terbaring sendirian di bangku koridor. Orang-orang mulai memperhatikanku dan tak sedikit dari mereka menatapku sambil berbisik-bisik. Seorang ibu yang kasihan melihatku berkata kalau aku tak usah memaksakan diri seperti itu karena berjalan tanpa istrahat hanya membuat badan semakin lemah padahal aku harus kuat menghadapi persalinan nanti.

Setiap kali ada pasien, aku akan keluar dari ruang bersalin dan bersandar di dinding sambil berdoa akan keselamatan ibu dan bayinya. Dan tiap kali mendengar tangisan bayi dadaku menjadi sesak menahan isak. Bagaimana tidak, aku yang sudah dua hari di rumah sakit belum juga melahirkan sedang wanita-wanita itu begitu mudahnya melahirkan tak sampai hitungan jam. Mereka hanya disuruh berjalan 10 menit kemudian masuk ke kamar bersalin dan langsung melahirkan. Ya Allah, ada apa dengan diriku. Mengapa belum ada perubahan padahal aku sudah merasakan sakit yang luar biasa. Dalam sedihku, aku kembali berjalan mengelilingi koridor rumah sakit melewati bangsal dan kamar-kamar pasien. Tak jarang aku mengintip bayi-bayi mungil yang sedang tertidur pulas. Dimana ada kamar dengan pintu terbuka maka disitulah aku berdiri menyaksikan makhluk kecil yang masih memerah dan sungguh, pemandangan itu selalu mampu membuat mataku berkaca-kaca.
Hari itu adalah hari Jumat, hari ketiga aku berada di rumah sakit bersalin itu. Rencananya kami akan pulang saja tapi bidan menyarankan untuk tetap tinggal. Aku menurut saja dan akhirnya kami menempati bangsal kosong yang berdebu. Tak apalah daripada harus berada di ruang bersalin yang semakin membuatku tertekan. Menjelang tengah hari aku dipanggil oleh seorang perawat untuk melakukan pemeriksaan. Untuk kesekian kalinya aku melakukan pemeriksaan dalam yang cukup menyakitkan itu dan hasilnya adalah pembukaan tiga. Aku senang sekali mendengarnya. Kata bidan kalau sudah pembukaan tiga maka pembukaan selanjutnya akan segera menyusul dan itu artinya dalam hitungan beberapa jam aku akan melahirkan. Aku kembali bersemangat dan rasa sedihku pun hilang seketika. Pembukaan bertambah artinya rasa sakit yang kurasakan juga semakin sering dan bertambah sakit. Seorang bidan menyuruhku untuk kembali ke ruang bersalin. Wajahku semakin pucat dan keringat bercucuran menahan rasa sakit yang amat sangat karena makin lama kontraksi itu makin sering dan panjang hanya selang beberapa menit saja. Zikirku makin lama makin lemah. Waktu menunjukkan tepat pukul tiga dan itu saatnya aku harus melakukan pemeriksaan lagi. Dalam keadaan normal pembukaan terus meningkat dalam hitungan jam dan harusnya sudah mencapai pembukaan ketujuh. Tapi apa yang dikatakan bidan setelah pemeriksaan itu membuatku kaget. Hasil pemeriksaan adalah pembukaan dua. Masih pembukaan dua. Ya Allah apa yang terjadi padaku bukankah sebelumnya sudah pembukaan tiga? Mengapa kembali ke pembukaan dua. Aku menangis tak tahu harus berkata apa. Salah seorang kerabat meminta bidan untuk menghubungi dokter dan melaporkan keadaanku. Aku harus menunggu beberapa jam sebelum dokter itu datang. Aku dibawa ke ruang periksa untuk USG dan hasilnya sangat mengejutkan. Dokter mengatakan kalau ada dua lilitan di leher bayiku, itulah sebabnya tidak terjadi pembukaan. Dia menyarankan untuk segera operasi sebab kelahiran normal amat beresiko.

Persiapan operasi pun segera dilakukan. Perutku semakin sakit dengan kontraksi yang makin bertambah kuat. Aku terbaring lemah dalam sakit yang luar biasa. Air mataku menetes mengingat sebentar lagi aku akan menjalani proses operasi. Tak pernah terlintas dibenakku akan hal seperti ini. Persalinan normal itulah harapanku tapi dalam kondisi seperti ini aku tak mampu berbuat apa-apa. Ya Allah, jika semua ini adalah teguranMU karena dosa-dosaku yang lalu, maka ampunilah aku. Kini aku pasrah, pasrah pada kehendakNYA. Dalam sakitku aku teringat berbagai macam petuah-petuah untuk memudahkan persalinan, doa-doa dan ayat-ayat suci yang sering kubaca. Semuanya kulakukan untuk mempermudah persalinanku nantinya dan ternyata aku salah. Allah menunjukkan kebesaranNYA. Petuah, doa-doa dan ayat-ayat suci haruslah Lillahi Ta’ala bukan untuk alasan apapun juga termasuk untuk sebuah persalinan. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, itulah intinya karena hidup dan mati seseorang ada di tangan Allah. La Haula Walaa Quwwata Illa Billah, tiada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Aku merasakan ketenangan ketika menyadari kesalahanku dan memohon ampun padaNYA. Dan ketika aku dibawa ke ruang operasi ketakutanku lenyap sudah. Aku telah menyerahkan semuanya padaNYA. Apapun yang terjadi nantinya, aku pasrah. Dalam keadaan setengah sadar kudengar tangis bayiku yang kencang. Alhamdulillah, anakku telah lahir. Belakangan kutahu kalau lilitan di lehernya bukan hanya dua tapi tiga lilitan dan lilitan itu membuat badannya sedikit membiru saat keluar. Puji syukur padaMU ya Allah atas keselamatan yang Engkau berikan pada kami berdua. Senyumku merekah mencoba melupakan kesulitanku yang lalu. Akulah wanita yang sempat menjadi perhatian semua orang di rumah sakit bersalin itu, pasien kesepuluh yang melahirkan setelah tiga hari berada di rumah sakit dan satu-satunya pasien yang melahirkan dengan proses operasi caesar.

Mengenang setahun kelahiran Siti Nabilah Resky
Selengkapnya.....

Mengurus anak kecil selalu punya cerita tersendiri kadang panik karena mendengar suara tangisnya yang tiba-tiba dan makin menjadi-jadi namun tidak jarang ada hal-hal lucu yang terjadi begitu saja seperti pengalamanku pada minggu-minggu pertama kelahiran anak pertamaku. Seperti pada umumnya, bayi yang berumur dibawah empat puluh hari selalu rewel di malam hari begitu pula dengan bayiku. Alhasil saya dan suami giliran menjaganya. Kejadian lucu selalu terjadi pada malam hari seperti waktu itu, anak saya tiba-tiba menangis. Saya terbangun lalu menggendongnya. Rupanya suami saya juga terbangun dan tanpa membuka mata dia mengambil sebuah bantal lalu menggendongnya sambil diayun-ayun tidak ketinggalan bibirnya ber 'us-us' dengan gaya seperti biasanya. Saya mencoba memberitahu sambil berbisik takut anak kami terbangun.

Untuk beberapa menit lamanya saya hanya bisa menahan tawa sambil menatap ekspresi wajah suamiku yang berusaha menenangkan bayi kami. Menit selanjutnya dia membuka mata dan dengan polosnya bertanya "kenapa bantal yang saya gendong?". Pernah pula suatu malam anak kami tiba-tiba menangis dan karena ngantuk berat akibat semalaman begadang, saya hanya menepuk-nepuk pahanya seperti biasa. Tangisnya tak juga mereda hingga membangunkan suami saya yang sedang terlelap. Tanpa membuka mata dia langsung menepuk-nepuk lenganku dan ternyata sejak tadi saya juga hanya menepuk sebuah bantal hehehee.
Selengkapnya.....

Ibu, dalam bahagiaku kuteringat dirimu. Apa kabarmu hari ini? Masihkah engkau sering duduk termenung di sudut ruang itu? Mencoba membunuh sepi dan mengikis segunung rindu pada anak-anakmu juga putra putri kecil yang engkau sebut cucu?


Ibu, dalam sedihku kuteringat padamu. Perempuan paruh baya yang kini tak tangguh lagi, tak tangkas lagi seperti kau membimbingku waktu kecil dulu.

Ibu, sepi telah merubah rindumu menjadi sakit. Anak-anak yang kau sayangi makin jauh meninggalkanmu ketika batang usiamu semakin meninggi. Semuanya menjauh mengikuti takdir yang bernama jodoh.

Ibu, dalam sepimu engkau merintih. Bukan rintihan kesakitan yang membuatmu lemah tapi rintihan kerinduan dan kehilangan sebagai orang yang ditinggal jauh.

Ibu, kau hanya mampu menatap lama bocah-bocah lugu dalam lembar foto usang, juga foto tiga pernikahan yang membuatmu terharu dan bahagia menjadi satu dan dengan mata berkaca-kaca kau menutup semua album foto itu.

Ibu, meski aku dan dua perempuanmu tak sepenuhnya milikmu lagi, kami akan selalu mendoakanmu dan membagi kabar meski hanya lewat suara.

Ibu, hapuslah air matamu. Jangan biarkan sakit itu menggerogotimu. Bukan maksud hati meninggalkanmu dalam sepi apalagi tak ingin merawatmu.

Ibu, tiga perempuanmu butuh doamu sebab doamu adalah kekuatan bagiku dan dua perempuanmu. Semoga biduk pernikahan ini berjalan tenang dalam lautan kehidupan yang penuh dengan gelombang bersama dengan seorang nahkoda yang aku sebut dengan nama suami.
Selengkapnya.....

Gerimis Desember selalu mengingatkanku tentang sesuatu. Mungkin bisa dibilang itu adalah sebuah masa yang pernah kulewati hingga menyisakan lembar-lembar usang yang bernama masa lalu. Suka, duka, tangis dan awal adalah bagian dari perjalanan panjang dalam meniti kehidupan di dunia fana ini. Sejuta kekhilafan yang kulakukan menjadikanku tak bermakna di mata Sang Khalid. Dan seiring waktu berlalu aku menyadari tentang hakekat manusia sebagai seorang hamba yang kadang menyia-nyiakan waktu padahal tak ada yang tahu seberapa banyak waktu yang tersisa untuk hidup ini. Dan seiring bergantinya tahun kita baru menyadari bahwa kita telah berada pada babak kehidupan yang orang menyebutnya dengan masa kini. Sebuah pendewasaan alamiah tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan waktu merupakan sebuah parameter hidup yang tak pernah kompromi. Ia akan berjalan tanpa menoleh sedikitpun apalagi berhenti. Kita akan menyadari semuanya berlalu ketika waktu telah lewat di belakang kita hingga merubah hari ini menjadi kemarin. Kadang tanpa sadar kita mengatakan seandainya dulu begini.... atau seandainya kemarin begini..... dan masih banyak seandainya yang lain. Adalah tindakan bodoh ketika kita menyesali yang telah berlalu itu dan sangatlah bijaksana jika kita mengambil hikmah dari setiap kejadian yang telah kita lewati. Dan semoga penghujung tahun ini menjadi awal kebaikan untuk kehidupanku selanjutnya. Amin.
Selengkapnya.....






Panji kebesaran orientasi berkibar megah di setiap sudut kampus merah Universitas Hasanuddin. Fakultas Teknik menggelar arena orientasi dengan sebutan POZMA, Sospol dengan MIMBAR, Fakultas Sastra dengan istilah ZAMAN, Hukum dengan SOMASI-nya, Perikanan dengan AROWANA dan Kelautan dengan Orientasi Mahasiswa Baru Kelautan yang dikenal dengan nama OMBAK. Ombak itu sendiri bagaikan garis start yang hampir semua orang pernah melewatinya. Sebuah babak awal dalam perjalanan kemahasiswaan yang dikenal melalui prosesi sakral Ospek, Studentday dan OPL. Rangkaian prosesi ini hidup dan berkembang hingga kini meski kualitas dan kuantitasnya telah jauh berbeda dari keasliannya yang pernah tumbuh subur di awal tahun sembilan puluhan. Dan laut menjadi saksi bisu bahwa hampir semua mahasiswa baru pernah menjadi penghuni sesaat pada pulau-pulau kosong yang indah dan penuh misteri.

Barrang Lompo adalah nama sebuah Pulau yang pertama kali kukunjungi sejak pengukuhanku sebagai seorang mahasiswa. Sebuah Marine Station Berdiri di sisi timur pulau. Marine Station itu didukung oleh beberapa fasilitas seperti Hatchery, peralatan selam, asrama, laboratorium, ruang kuliah dan sebuah aula. Keberadaan kami di tempat itu sebagai rangkaian pengenalan lapangan. Pengenalan tentang kondisi perkuliahan yang akan ditempuh nantinya karena sebagian besar mata kuliahnya akan bersentuhan langsung dengan laut. Meskipun sekedar pengenalan tapi tetap saja menjadi bagian dari orientasi mahasiswa seperti pada umumnya yang selalu diwarnai bentakan dan kekerasan. Hukuman berupa push up sebanyak 22 kali menjadi rutinitas ketika seorang maba melakukan kesalahan. Dan satu kesalahan menjadi milik bersama yang artinya hukuman akan dikenakan kepada seluruh peserta orientasi.

Ombak tak pernah sepi dari hukuman, cacian juga guyonan. Beberapa teman menjadi obyek lelucon. Tabung gas, sinchan, bo bo ho, tembelek, panjang, komeng dan lain-lain menjadi panggilan akrab yang melekat pada beberapa orang berdasarkan karakter masing-masing. Mereka dijadikan orang-orang pilihan sebagai obyek guyonan hingga menjadi hiburan tersendiri bagi para senior ketika sang korban beraksi hingga tampak seperti orang bodoh. Meskipun ada perasaan kasihan melihat keadaan kawan-kawan yang menjadi bahan permainan itu namun tak bisa dipungkiri bahwa kami semua menikmati lelucon itu. Tentu saja dengan berusaha mati-matian menahan tawa sekuat tenaga. Aku bisa menjamin beberapa orang bahkan menggigit bibirnya sendiri hingga terluka karena sadar segaris senyum saja terbentuk maka tamparan akan mendarat telak di pipi.

Ombak belum juga berakhir tapi telah menyisakan lelah yang amat sangat. Bukan apa-apa, itu karena setiap selesai kuliah MKU dan TPB selalu dilanjutkan dengan acara kumpul bersama di lapangan depan kampus Kelautan. Seorang senior gondrong memulai wejangannya dengan didahului salam penghormatan berupa yel-yel masing-masing kelompok. Ia mengeluarkan buku catatannya dan mulai mengabsen kami satu persatu-satu. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka teman-teman yang memiliki riwayat penyakit tertentu diminta untuk memisahkan diri. Hasilnya ada yang menderita hepatitis, tipes, maag akut, sinusitis dan malaria. Ketika semua peserta sedang menyimak pengarahan itu, tiba-tiba seorang teman berkata kalau dia menderita penyakit berbahaya. Wajahnya pias ketika ditanya apa nama penyakit yang dideritanya. Ia menunduk seakan menyesal telah memberitahukan kalau dia mengidap suatu penyakit. Semua yang hadir di tempat itu pun jadi bingung dibuatnya. Dalam diamnya kulihat matanya berkaca-kaca seakan menahan sesuatu yang teramat berat. Semua orang penasaran karena sikapnya itu. Parahkah sakit yang dideritanya hingga ia tak mampu mengatakannya? Didahului oleh bentakan senior akhirnya laki-laki itu berkata dengan terbata-bata,

”Sa..saya menderita sakit berat Kak. Nama penyakit saya adalah pa.....nu” Kontan semua tertawa terbahak-bahak tidak senior apalagi kami, mahasiswa baru. Sungguh pengakuannya itu membuat kami mendapat hukuman karena tak bisa menahan tawa. Aku tak habis pikir mengapa ia mau mengakui penyakit itu sebagai penyakit berat padahal itu hanyalah penyakit kulit meskipun sedikit memalukan. Belakangan kutahu kalau Ia dipaksa oleh seorang senior jahil untuk mengakui penyakit kulit itu.

Pagi masih menyisakan embun tapi aku dan kawan-kawan sudah berkumpul di lapangan itu. Kami begitu gugup, bukan karena akan mendapat hukuman lagi tapi karena hari itu akan menjadi hari paling bersejarah dalam perjalanan kami sebagai mahasiswa yang tidak jauh dari aroma laut. Aku begitu takut membayangkan bahwa sebentar lagi kami akan berenang menuju sebuah pulau asing yang tidak kami kenali. Pulau itulah yang menjadi tempat tujuan kami untuk beberapa hari. Semua peralatan sudah disiapkan dan sebagian telah diangkut ke sebuah truk yang sejak tadi menunggu. Sesampainya di dermaga seluruh maba diperintahkan untuk naik ke atas kapal angkatan laut. Kapal itu berlayar selama empat jam dan berhenti di tengah laut di depan sebuah pulau. Aku semakin gugup menyaksikan panglima Kamri yang megap-megap karena tak bisa berenang. Wajahnya memerah pertanda Ia juga ketakutan sampai-sampai menelan banyak air laut. Seorang teman yang bernama Chun menangis pasrah sambil memegang tanganku. Kurasakan tangannya begitu dingin sedingin hatiku yang dilanda rasa panik luar biasa. Ingin rasanya aku melarikan diri dari tempat itu namun aku tak kuasa begitupun dengan teman-teman seperjuanganku yang tampak pasrah sambil berdoa memohon keselamatan. Rescuer team yang mengawal kelompokku sudah menunggu dibawah sana. Kakiku seakan tak mampu bergerak ketika dengan pasrah aku menceburkan diri ke dalam laut biru itu. Sungguh, itu merupakan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Berenang sepanjang kurang lebih tujuh ratus meter selama lima jam membuat kami seakan kehabisan nafas. Belum lagi arus yang cukup deras membuat masing-masing kelompok terpisah amat jauh. Seorang pendamping cewek yang tergabung dalam tim rescue mulai memaksa kami untuk bernyanyi. Parahnya lagu itu haruslah lagu dangdut. Alhasil meluncurlah sebuah lagu dangdut dari seorang teman yang akrab dipanggil mati Y. Aku sempat jengkel pada senior itu tapi melihat ekspresi wajah Riny yang serius berdangdutria, aku tak bisa menahan senyumku. Dengan usaha yang cukup gigih akhirnya kami tiba di pulau itu. Pulau Lanyukang namanya. Pulau paling cantik yang belum pernah kulihat sebelumnya. Orang bilang pulau itu adalah pulau kutukan dan hanya orang-orang tertentu saja yang tinggal di tempat itu. Dan kami benar-benar menyaksikan keanehan mengapa pulau itu disebut dengan pulau kutukan namun bagi kami itu tidaklah penting sebab kami harus memikirkan nasib selanjutnya yang akan menjadi korban pembantaian senior. Belum hilang rasa lelah itu, kami sudah disambut oleh salam selamat datang pulau berupa layangan fins yang menghantam tubuh letih kami. Benar-benar tega, kami semua diperlakukan bagaikan narapidana yang ketahuan melarikan diri dari pulau pengasingan.

Hari kedua OPL kami dibangunkan oleh suara kokok ayam yang terdengar berisik dari balik tenda. Suara itu tak juga berhenti setelah sekian lama berkokok. Dan anehnya suara kokok ayam itu berpindah-pindah dari tenda yang satu ke tenda lainnya. Bagaimana mungkin ada ayam seperti itu. Dengan wajah kusut aku mencoba melongokkan kepala keluar tenda. Kulihat Yandri sang Bo Bo Ho sedang menirukan suara ayam berkokok. Kami sama sekali tak mengira kalau itu adalah suara Yandri, teman kelompokku yang sejak tadi menghilang. Aku tak bisa menahan tawa melihatnya bertingkah seperti ayam jantan berkokok. Dasar senior suka sekali menjahili orang.

Malam begitu gelap ketika acara diskusi itu berlangsung. Beberapa orang teman tampak terkantuk-kantuk begitu pula denganku. Sorotan cahaya senter tiba-tiba mengarah ke wajahku hingga membuat mataku silau karenanya. Dan itu artinya aku harus meninggalkan tempat untuk membuang rasa kantukku dengan cara menceburkan diri ke laut yang dingin. Aku adalah orang kesekian yang mendapatkan hukuman itu. Meski aku sudah mati-matian berusaha menahan kantuk namun tetap saja aku tak bisa melawan rasa kantukku yang makin bertambah-tambah seiring berlalunya malam dan rasa dingin yang menusuk-nusuk. Malam semakin larut ketika seorang seksi acara berteriak lantang melihat kami yang sudah tidak konsentrasi menerima materi. Dengan sangarnya Ia menyuruh kami untuk menceburkan diri ke laut dan harus kembali dalam hitungan ketiga. Semua panik karenanya dan saking paniknya seorang teman yang bernama Ardi langsung berlari secepat mungkin dan melompat begitu saja. Ia mengira posisi lompatannya sudah betul tapi malang nasibnya karena tubuhnya tidak mengenai air tapi malah membentur pasir. Alhasil ia mendapat hukuman karena terlambat beberapa detik.

Hari ketiga OPL dimulai dengan sarapan pagi dengan menu ubi rebus dan 3 gelas teh yang harus dibagi tujuh. Kami yang tidak mampu menghabiskan sarapan setengah matang itu terpaksa menguburnya ke dalam pasir. Tentu saja tanpa sepengetahuan senior. Bukannya kami tak menyukai makanan itu tapi karena tenggorokan kami yang kering kerontang tak mampu menerima makanan yang mengandung banyak karbohidrat itu. Siang harinya kami menerima materi yang berbeda dari masing-masing posko. Diskusi lepas dengan para pemateri cukup membuat kami sedikit lega setidaknya karena tidak ada kontak fisik dalam sesi diskusi kali ini. Setelah beberapa kali rolling posko, seluruh maba dikejutkan oleh teriakan seseorang. Laki-laki itu menyuruh kami untuk mencari sampel biota laut. Ada yang mendapat sampel makroalga, lamun, gastropoda, bivalvia dan beberapa biota lainnya. Aku sendiri mendapatkan sampel sebongkah karang mati. Aku terkejut karena ternyata sampel-sampel itu harus dimasukkan ke dalam mulut dan tentu saja aku menjadi bahan tertawaan karena hanya aku yang mengigit sampel batu karang. Dalam keadaan seperti itu kami harus melewati posko yang menamakan dirinya sebagai posko bayangan. Posko yang mengandung unsur kekerasan ini mencoba menghadang kami. Aku dan teman-teman harus merangkak melewati potongan-potongan kayu yang menjorok ke laut. Tamparan dan tendangan berhasil mendarat tepat di tubuh kami. Beberapa senior cewek berdiri menunggu diujung sana. Dan tamparan mereka pun melayang meninggalkan bekas lima jari di pipi kananku. Rasanya pipiku seolah terbakar bukan oleh teriknya matahari tapi karena perihnya tamparan yang datang bertubi-tubi. Seorang senior cowok datang menghampiri dan dengan ramahnya dia menawarkan sebotol air mineral. Kami yang sedang kehausan langsung menyambut botol itu. Seorang teman langsung meminumnya namun ia memuntahkannya kembali karena ternyata itu adalah air asin yang sengaja disimpan di dalam botol. Melihat itu, senior tadi langsung tertawa terbahak-bahak sambil berlalu dari tempat itu.

Langit cerah menghiasi pulau Lanyukang. Langit memang cerah tapi tidak dengan hatiku yang selalu mendung. Sungguh prosesi itu sangat menyiksa dan melelahkan karena hampir tak ada waktu untuk istirahat. Baju yang kami kenakanpun selalu kering di badan dan hanya diganti pada saat menunaikan shalat lima waktu dan saat tidur saja. Selebihnya pakaian yang kami kenakan itu selalu basah dan kering begitu saja. Senam pagi yang selalu dilakukan di laut, makan siang sambil berendam di dalam air belum lagi jika tiba-tiba mendapat hukuman di tengah malam buta membuat pakaian yang kami kenakan tak pernah benar-benar kering. Betapa berada empat hari di pulau serasa empat tahun. Bagaimana tidak, empat hari kami lalui dengan penuh ketegangan yang menyisakan lelah dan bekas tamparan di pipi. Pipiku seakan terasa tebal karena hampir setiap saat menerima tamparan dari para senior yang tidak punya perasaan itu. Seperti kejadian barusan, seseorang kembali melayangkan tamparannya ke arahku hanya karena aku kehilangan salah satu atributku. Seorang senior usil telah menyembunyikannya entah dimana. Rasanya aku tak tahan untuk tidak menangis mengingat beban perasaan yang makin menghimpit selama beberapa hari di pulau itu dan semakin aku tahan, air mataku semakin deras mengalir. Hasilnya aku menjadi bulan-bulanan para senior yang sadis itu. Melihat tampangku yang tak karuan seperti itu, Dicki teman kelompokku yang sok gagah dan cerewet malah menyeringai. Dengan cueknya ia menyebutku gadis cengeng. Huh...rasanya aku ingin sekali menjitak kepala anak itu.

Malam itu adalah malam terakhir di pulau Lanyukang. Seluruh peserta mulai merasa tenang karena sebentar lagi semua aksi kontak fisik akan dihentikan. Belum sempat kami bernafas dengan lega, sebuah insiden terjadi di tempat itu. Seorang laki-laki yang tergolong super senior tampil di depan maba. Ia mulai menceramahi kami dan mengatakan bahwa kami adalah orang-orang bodoh yang mau saja digembleng oleh senior. Dengan suara serak tiba-tiba Ia mengusir seorang teman keluar dari barisan entah karena kesalahan apa. Kami semua dilanda panik luar biasa karena laki-laki itu mengatakan bahwa seluruh maba akan dipulangkan saat itu juga. Semua panik mendengar pernyataan itu. Dari jauh kulihat sebuah kapal mulai merapat ke pulau. Mungkin itulah kapal yang akan membawa kami pulang ke Makassar, pikirku. Bagaimana mungkin kami akan pulang di tengah malam buta seperti itu sedang jarak ke Makassar harus ditempuh dalam waktu empat jam. Rintik hujan yang mulai turun semakin membuat kami menggigil kedinginan bercampur ketakutan hingga tanpa sadar kami membentuk lingkaran sebagai aksi protes atas rencana pemulangan itu. Beberapa orang tiba-tiba pingsan entah karena rasa takut atau karena rasa dingin yang menggigit kulit. Melihat itu, para senior pendamping mulai mendekati maba dan menyuruh anggota kelompoknya untuk menutup mata menggunakan sehelai scarf. Senior yang bertugas sebagai penunjuk jalan mulai menuntun kami berjalan berputar-putar di dalam hutan terus ke pantai dan kembali ke semak-semak yang tajam sambil sesekali menunduk dan melompat menghindari potongan-potongan kayu. Setelah sekian lama berjalan akhirnya kami berhenti di suatu tempat yang agak lapang. Ada hawa panas yang sangat menyengat di depan sana. Rupanya kami telah sampai di suatu tempat dimana terdapat api unggun yang sangat besar. Meski sempat terjadi tragedi lampu badai yang membuat beberapa senior terluka namun kurasa pengukuhan itu berjalan dengan lancar. Kami diminta untuk membuka scarf yang menutup mata dan sambil menyanyikan lagu ikhlas, semua senior bergantian menyalami kami. Dendam dan sakit hati menguap begitu saja seakan terbawa oleh hembusan angin pagi yang dingin. Dalam bayangan malam, mataku mencari-cari sosok seseorang yang sejak semalam tak kulihat. Aku ingin sekali tersenyum padanya dan bilang kalau aku telah berhasil melewati prosesi ini dengan sukses. :-)

Tulisan ini kupersembahkan buat teman-teman alumni KLA ’00. I miss U all...

Selengkapnya.....


Malam begitu gelap ketika aku duduk di beranda rumahku yang sepi. Ingatanku kembali pada masa delapan tahun silam saat-saat pertama pengukuhanku sebagai seorang mahasiswa. Sebuah ritual tahunan yang orang menyebutnya sebagai orientasi mahasiswa baru kelautan atau dikenal dengan nama OMBAK. Pagi begitu dingin ketika aku melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa menuju kampus biru yang sudah tak sepi itu. Tak kuhiraukan lagi tampang kusut karena kurang tidur semalam juga kepangan rambutku yang terasa semakin gatal. Dengan semangat empat lima kupercepat langkahku hingga peluhpun membasahi kemeja putih yang kukenakan. Dari jauh kulihat segerombolan wajah-wajah lugu berseragam putih biru dengan dasi aneka warna dan kaos kaki bola yang dipadu dengan sepatu kets warna putih. Kacamata hitam yang bertengger pada wajah-wajah itu membuat mereka terlihat seperti rombongan sirkus yang siap aksi. Aku ingin sekali tertawa melihatnya tapi aku sadar akupun bertampang seperti mereka. Tampang badut-badut kampus yang siap ditonton.

Dengan langkah gontai aku menyatukan diri dengan barisan itu setelah terlebih dahulu mendapat bentakan yang membuatku keringat dingin. Aku dihukum karena terlambat dan hukumannya adalah push-up sebanyak dua puluh dua kali. Dua puluh dua. Angka keramat yang menjadi simbol mahasiswa kelautan. Angka itu juga yang membuat mahasiswa baru jatuh bangun. Bayangkan setiap kali hukuman harus dilakukan sebanyak dua puluh dua kali. Kami yang mengetahui tradisi aneh itu hanya bisa pasrah. Apalah arti sebuah perlawanan kalau toh pada akhirnya setiap kesalahan akan tetap ditimpakan pada mahasiswa baru sekalipun mahasiswa itu tidak bersalah seperti yang tercantum dalam undang-undang aneh yang berlaku di dunia orientasi yang berbunyi :
Pasal 1 : Senior tidak pernah bersalah
Pasal 2 : Jika senior bersalah maka kembali ke pasal 1

Suara gelegar membuatku tersadar dari keasyikanku memperhatikan ekspresi teman-teman seperjuanganku. Seorang senior berpenampilan sangar membentak seseorang. Laki-laki gondrong itu berjalan menuju barisan kelompok lima. Ia menyuruh seorang maba yang bernama Udin untuk maju ke depan barisan. Dasi merah dan kacamata hitam membuat penampilannya seperti seorang eksekutif muda walaupun lebih mirip seorang sales.
” Hei kamu...belum pernah pakai kacamata ya ?” tanya seksi acara yang mirip Ahmad Dani itu lantang
” Su...sudah pernah Kak” jawab mahasiswa baru itu dengan sedikit ketakutan
” Kalau begitu kenapa seperti itu memakai kacamata, seperti kakek-kakek saja ” kata senior itu sambil memperhatikan kacamata Udin yang memang agak melorot kehidung
” Eh...anu kak, kacamata saya kebesaran ” jawab Udin spontan. Karena tak percaya dengan pengakuan Udin, dengan sedikit memaksa senior itu menyuruh Udin untuk melepas kacamatanya. Alhasil dia harus mendapatkan hukuman karena ternyata kacamata itu bukan kacamata rayban biasa tapi kacamata yang sengaja dicat hitam. Ia terpaksa mencat kacamata itu karena tak menemukan kacamata raybannya yang hilang entah kemana. Aku dan teman-teman hanya bisa menahan tawa karena memang sejak tadi Udin hanya bisa celingak celinguk karena tidak bisa melihat :-)

Selengkapnya.....

Waktu telah mempertemukanku dengannya pada suatu pagi yang dingin delapan tahun silam saat sang surya belum sempat menampakkan sinarnya di ufuk timur kota Makassar. Sebuah senyuman tersungging sebagai isyarat salam perkenalan ketika untuk pertama kalinya aku melihatmu sedang duduk termenung dalam keadaan menahan kantuk menunggu antrian untuk berwudhu. Kamarmu yang bersebelahan dengan kamarku menjadi awal dari kebersamaan yang terbangun hingga meninggalkan cerita yang teramat manis untuk dikenang. Sebuah babak baru pada awal perjalananku sebagai seorang mahasiswa perantauan yang menetap di rumah tua yang orang menyebutnya sebagai padepokan satria, nama sebuah tempat kost dimana aku dinobatkan sebagai seorang penghuni baru. Kedua saudara kita sudah terlebih dahulu membina persaudaraan dan mewariskannya pada kita. Persahabatan itu begitu erat membentuk pertalian nurani melebihi persaudaraan sedarah. Terlalu banyak kisah yang kulewati hingga menyisakan ingatan yang mengharu biru ketika kusadari kini hanya tinggal kenangan. Kebersamaan yang terbangun menjadikanku sebagai bagian dari kehidupanmu dan kau menjadi bagian dari hidupku. Perbedaan karakter yang ada justru membentuk kombinasi sifat yang membuat kita semakin kompak dalam menjalani kehidupan sebagai seorang yang baru mengecap dunia kemahasiswaan.

Masih jelas dalam ingatanku akan kebiasaanmu yang selalu ngambek jika aku tak sempat pamitan ketika aku keluar kota untuk melakukan praktek lapangan ke sebuah pulau selama beberapa hari. Kau juga akan protes jika aku tak mengunjungimu atau sekedar mengetuk pintu kamarmu untuk memberitahukan tentang kepulanganku dari bepergian. Kadang-kadang kau berubah menjadi orang yang sangat cerewet sedang memarahi anaknya yang sering telat makan seperti yang kau lakukan padaku. Namun kebanyakan akulah yang mengambil alih peran sebagai ibu ketika melihatmu gundah akan beban dalam hatimu. Saling menasehati dengan bahasa sederhana ketika hati kita rapuh saat menghadapi suatu masalah sudah menjadi tradisi dari kebersamaan itu. Sakitmu menjadi bagian dari sakitku dan sedihku adalah sedihmu juga. Kita sama-sama tak pernah membiarkan salah satu diantara kita menangis, tidak untuk masalah apapun kecuali cinta, cinta yang bagi kita merupakan hal yang paling misteri untukku juga untukmu.


Orang bilang kita adalah saudara dimana ada aku maka disitu juga ada kamu begitu pula sebaliknya. Masih jelas dalam ingatanku ketika suatu malam aku mengenakan masker diwajahku dan kau tertidur pulas di sampingku hingga tiba-tiba kau terbangun dan berteriak ketakutan melihat wajahku yang putih terbalut masker dan parahnya kau menyebutku pocong. Astagfirullah, seseram itukah wajahku hingga kau menyebutku dengan nama hantu yang sangat menakutkan itu? Sungguh aku tak bisa menahan tawaku melihat ekspresimu wajahmu yang ketakutan seperti itu dan tentu saja kaupun ikut tertawa menyadari semuanya hingga kesunyian malampun terusik oleh suara cekikikan kita yang berisik. Pernah suatu hari ketika akan menyeberangi jalan perintis yang cukup ramai, aku dikejutkan oleh kenyataan yang membuatku keringat dingin. Sebuah bis besar tiba-tiba sudah ada di belakang dan tinggal sejengkal saja kendaraan itu akan menabrak tubuh kita yang menggigil ketakutan. Aku mencoba memperingatkanmu dan kau berusaha menyelamatkanku hingga kita sama-sama terjebak dalam situasi yang teramat genting. Dalam ketakutan yang luar biasa tanpa sadar kita berpelukan sambil menangis pasrah akan musibah yang akan menimpa. Suara klakson yang beruntun menyadarkan bahwa kita selamat dari musibah itu.

Semua orang bilang kita adalah saudara dan memang itulah kenyataannya, saudara meski tak sedarah. Masih kuingat kebiasaan kita yang terbilang unik setiap malam minggu, malam yang bagi sebagian orang dimanfaatkan untuk acara ritual mojok alias pacaran. Kita memanfaatkan moment itu untuk berbagi cerita alias curhat sampai larut malam ditemani lagu-lagu melankolisnya Erick Clapton, Bryan Adam, The Beatles, Pance Pondaa, Betharia Sonata dan tentu saja Panbers. Lagu-lagu merekalah yang menjadi soundtrack dari acara curhat edisi malam minggu yang seakan sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. Dan suara kokok ayamlah yang selalu menjadi pertanda bahwa acara begadang itu harus usai.

Terlalu banyak kisah yang kulalui bersamamu meski tak sempat kutulis disini. Semuanya tertanam tajam dalam sejarah ingatanku tentang indahnya sebuah persahabatan. Dan kini meskipun aku sangat merasa kehilangan karena akhirnya kau mengganti kedudukanku dengan seorang laki-laki yang siap mendampingimu lahir dan batin, menemanimu dalam suka dukamu dan menjagamu lebih dari ketika aku menjagamu, aku akan tetap selalu ada untukmu walau aku akan sangat jauh berdiri di sudut kehidupanmu, sendiri sambil menunggu kiriman Tuhan sebagai penggantimu untuk mendampingiku lahir dan batin, menemaniku dalam suka dan duka serta menjagaku lebih dari ketika kau menjagaku.

Special to : Sahabatku Velma Karyani. Selamat menempuh hidup baru moga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.amin

Selengkapnya.....