Panji kebesaran orientasi berkibar megah di setiap sudut kampus merah Universitas Hasanuddin. Fakultas Teknik menggelar arena orientasi dengan sebutan POZMA, Sospol dengan MIMBAR, Fakultas Sastra dengan istilah ZAMAN, Hukum dengan SOMASI-nya, Perikanan dengan AROWANA dan Kelautan dengan Orientasi Mahasiswa Baru Kelautan yang dikenal dengan nama OMBAK. Ombak itu sendiri bagaikan garis start yang hampir semua orang pernah melewatinya. Sebuah babak awal dalam perjalanan kemahasiswaan yang dikenal melalui prosesi sakral Ospek, Studentday dan OPL. Rangkaian prosesi ini hidup dan berkembang hingga kini meski kualitas dan kuantitasnya telah jauh berbeda dari keasliannya yang pernah tumbuh subur di awal tahun sembilan puluhan. Dan laut menjadi saksi bisu bahwa hampir semua mahasiswa baru pernah menjadi penghuni sesaat pada pulau-pulau kosong yang indah dan penuh misteri.

Barrang Lompo adalah nama sebuah Pulau yang pertama kali kukunjungi sejak pengukuhanku sebagai seorang mahasiswa. Sebuah Marine Station Berdiri di sisi timur pulau. Marine Station itu didukung oleh beberapa fasilitas seperti Hatchery, peralatan selam, asrama, laboratorium, ruang kuliah dan sebuah aula. Keberadaan kami di tempat itu sebagai rangkaian pengenalan lapangan. Pengenalan tentang kondisi perkuliahan yang akan ditempuh nantinya karena sebagian besar mata kuliahnya akan bersentuhan langsung dengan laut. Meskipun sekedar pengenalan tapi tetap saja menjadi bagian dari orientasi mahasiswa seperti pada umumnya yang selalu diwarnai bentakan dan kekerasan. Hukuman berupa push up sebanyak 22 kali menjadi rutinitas ketika seorang maba melakukan kesalahan. Dan satu kesalahan menjadi milik bersama yang artinya hukuman akan dikenakan kepada seluruh peserta orientasi.

Ombak tak pernah sepi dari hukuman, cacian juga guyonan. Beberapa teman menjadi obyek lelucon. Tabung gas, sinchan, bo bo ho, tembelek, panjang, komeng dan lain-lain menjadi panggilan akrab yang melekat pada beberapa orang berdasarkan karakter masing-masing. Mereka dijadikan orang-orang pilihan sebagai obyek guyonan hingga menjadi hiburan tersendiri bagi para senior ketika sang korban beraksi hingga tampak seperti orang bodoh. Meskipun ada perasaan kasihan melihat keadaan kawan-kawan yang menjadi bahan permainan itu namun tak bisa dipungkiri bahwa kami semua menikmati lelucon itu. Tentu saja dengan berusaha mati-matian menahan tawa sekuat tenaga. Aku bisa menjamin beberapa orang bahkan menggigit bibirnya sendiri hingga terluka karena sadar segaris senyum saja terbentuk maka tamparan akan mendarat telak di pipi.

Ombak belum juga berakhir tapi telah menyisakan lelah yang amat sangat. Bukan apa-apa, itu karena setiap selesai kuliah MKU dan TPB selalu dilanjutkan dengan acara kumpul bersama di lapangan depan kampus Kelautan. Seorang senior gondrong memulai wejangannya dengan didahului salam penghormatan berupa yel-yel masing-masing kelompok. Ia mengeluarkan buku catatannya dan mulai mengabsen kami satu persatu-satu. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka teman-teman yang memiliki riwayat penyakit tertentu diminta untuk memisahkan diri. Hasilnya ada yang menderita hepatitis, tipes, maag akut, sinusitis dan malaria. Ketika semua peserta sedang menyimak pengarahan itu, tiba-tiba seorang teman berkata kalau dia menderita penyakit berbahaya. Wajahnya pias ketika ditanya apa nama penyakit yang dideritanya. Ia menunduk seakan menyesal telah memberitahukan kalau dia mengidap suatu penyakit. Semua yang hadir di tempat itu pun jadi bingung dibuatnya. Dalam diamnya kulihat matanya berkaca-kaca seakan menahan sesuatu yang teramat berat. Semua orang penasaran karena sikapnya itu. Parahkah sakit yang dideritanya hingga ia tak mampu mengatakannya? Didahului oleh bentakan senior akhirnya laki-laki itu berkata dengan terbata-bata,

”Sa..saya menderita sakit berat Kak. Nama penyakit saya adalah pa.....nu” Kontan semua tertawa terbahak-bahak tidak senior apalagi kami, mahasiswa baru. Sungguh pengakuannya itu membuat kami mendapat hukuman karena tak bisa menahan tawa. Aku tak habis pikir mengapa ia mau mengakui penyakit itu sebagai penyakit berat padahal itu hanyalah penyakit kulit meskipun sedikit memalukan. Belakangan kutahu kalau Ia dipaksa oleh seorang senior jahil untuk mengakui penyakit kulit itu.

Pagi masih menyisakan embun tapi aku dan kawan-kawan sudah berkumpul di lapangan itu. Kami begitu gugup, bukan karena akan mendapat hukuman lagi tapi karena hari itu akan menjadi hari paling bersejarah dalam perjalanan kami sebagai mahasiswa yang tidak jauh dari aroma laut. Aku begitu takut membayangkan bahwa sebentar lagi kami akan berenang menuju sebuah pulau asing yang tidak kami kenali. Pulau itulah yang menjadi tempat tujuan kami untuk beberapa hari. Semua peralatan sudah disiapkan dan sebagian telah diangkut ke sebuah truk yang sejak tadi menunggu. Sesampainya di dermaga seluruh maba diperintahkan untuk naik ke atas kapal angkatan laut. Kapal itu berlayar selama empat jam dan berhenti di tengah laut di depan sebuah pulau. Aku semakin gugup menyaksikan panglima Kamri yang megap-megap karena tak bisa berenang. Wajahnya memerah pertanda Ia juga ketakutan sampai-sampai menelan banyak air laut. Seorang teman yang bernama Chun menangis pasrah sambil memegang tanganku. Kurasakan tangannya begitu dingin sedingin hatiku yang dilanda rasa panik luar biasa. Ingin rasanya aku melarikan diri dari tempat itu namun aku tak kuasa begitupun dengan teman-teman seperjuanganku yang tampak pasrah sambil berdoa memohon keselamatan. Rescuer team yang mengawal kelompokku sudah menunggu dibawah sana. Kakiku seakan tak mampu bergerak ketika dengan pasrah aku menceburkan diri ke dalam laut biru itu. Sungguh, itu merupakan pengalaman yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupku. Berenang sepanjang kurang lebih tujuh ratus meter selama lima jam membuat kami seakan kehabisan nafas. Belum lagi arus yang cukup deras membuat masing-masing kelompok terpisah amat jauh. Seorang pendamping cewek yang tergabung dalam tim rescue mulai memaksa kami untuk bernyanyi. Parahnya lagu itu haruslah lagu dangdut. Alhasil meluncurlah sebuah lagu dangdut dari seorang teman yang akrab dipanggil mati Y. Aku sempat jengkel pada senior itu tapi melihat ekspresi wajah Riny yang serius berdangdutria, aku tak bisa menahan senyumku. Dengan usaha yang cukup gigih akhirnya kami tiba di pulau itu. Pulau Lanyukang namanya. Pulau paling cantik yang belum pernah kulihat sebelumnya. Orang bilang pulau itu adalah pulau kutukan dan hanya orang-orang tertentu saja yang tinggal di tempat itu. Dan kami benar-benar menyaksikan keanehan mengapa pulau itu disebut dengan pulau kutukan namun bagi kami itu tidaklah penting sebab kami harus memikirkan nasib selanjutnya yang akan menjadi korban pembantaian senior. Belum hilang rasa lelah itu, kami sudah disambut oleh salam selamat datang pulau berupa layangan fins yang menghantam tubuh letih kami. Benar-benar tega, kami semua diperlakukan bagaikan narapidana yang ketahuan melarikan diri dari pulau pengasingan.

Hari kedua OPL kami dibangunkan oleh suara kokok ayam yang terdengar berisik dari balik tenda. Suara itu tak juga berhenti setelah sekian lama berkokok. Dan anehnya suara kokok ayam itu berpindah-pindah dari tenda yang satu ke tenda lainnya. Bagaimana mungkin ada ayam seperti itu. Dengan wajah kusut aku mencoba melongokkan kepala keluar tenda. Kulihat Yandri sang Bo Bo Ho sedang menirukan suara ayam berkokok. Kami sama sekali tak mengira kalau itu adalah suara Yandri, teman kelompokku yang sejak tadi menghilang. Aku tak bisa menahan tawa melihatnya bertingkah seperti ayam jantan berkokok. Dasar senior suka sekali menjahili orang.

Malam begitu gelap ketika acara diskusi itu berlangsung. Beberapa orang teman tampak terkantuk-kantuk begitu pula denganku. Sorotan cahaya senter tiba-tiba mengarah ke wajahku hingga membuat mataku silau karenanya. Dan itu artinya aku harus meninggalkan tempat untuk membuang rasa kantukku dengan cara menceburkan diri ke laut yang dingin. Aku adalah orang kesekian yang mendapatkan hukuman itu. Meski aku sudah mati-matian berusaha menahan kantuk namun tetap saja aku tak bisa melawan rasa kantukku yang makin bertambah-tambah seiring berlalunya malam dan rasa dingin yang menusuk-nusuk. Malam semakin larut ketika seorang seksi acara berteriak lantang melihat kami yang sudah tidak konsentrasi menerima materi. Dengan sangarnya Ia menyuruh kami untuk menceburkan diri ke laut dan harus kembali dalam hitungan ketiga. Semua panik karenanya dan saking paniknya seorang teman yang bernama Ardi langsung berlari secepat mungkin dan melompat begitu saja. Ia mengira posisi lompatannya sudah betul tapi malang nasibnya karena tubuhnya tidak mengenai air tapi malah membentur pasir. Alhasil ia mendapat hukuman karena terlambat beberapa detik.

Hari ketiga OPL dimulai dengan sarapan pagi dengan menu ubi rebus dan 3 gelas teh yang harus dibagi tujuh. Kami yang tidak mampu menghabiskan sarapan setengah matang itu terpaksa menguburnya ke dalam pasir. Tentu saja tanpa sepengetahuan senior. Bukannya kami tak menyukai makanan itu tapi karena tenggorokan kami yang kering kerontang tak mampu menerima makanan yang mengandung banyak karbohidrat itu. Siang harinya kami menerima materi yang berbeda dari masing-masing posko. Diskusi lepas dengan para pemateri cukup membuat kami sedikit lega setidaknya karena tidak ada kontak fisik dalam sesi diskusi kali ini. Setelah beberapa kali rolling posko, seluruh maba dikejutkan oleh teriakan seseorang. Laki-laki itu menyuruh kami untuk mencari sampel biota laut. Ada yang mendapat sampel makroalga, lamun, gastropoda, bivalvia dan beberapa biota lainnya. Aku sendiri mendapatkan sampel sebongkah karang mati. Aku terkejut karena ternyata sampel-sampel itu harus dimasukkan ke dalam mulut dan tentu saja aku menjadi bahan tertawaan karena hanya aku yang mengigit sampel batu karang. Dalam keadaan seperti itu kami harus melewati posko yang menamakan dirinya sebagai posko bayangan. Posko yang mengandung unsur kekerasan ini mencoba menghadang kami. Aku dan teman-teman harus merangkak melewati potongan-potongan kayu yang menjorok ke laut. Tamparan dan tendangan berhasil mendarat tepat di tubuh kami. Beberapa senior cewek berdiri menunggu diujung sana. Dan tamparan mereka pun melayang meninggalkan bekas lima jari di pipi kananku. Rasanya pipiku seolah terbakar bukan oleh teriknya matahari tapi karena perihnya tamparan yang datang bertubi-tubi. Seorang senior cowok datang menghampiri dan dengan ramahnya dia menawarkan sebotol air mineral. Kami yang sedang kehausan langsung menyambut botol itu. Seorang teman langsung meminumnya namun ia memuntahkannya kembali karena ternyata itu adalah air asin yang sengaja disimpan di dalam botol. Melihat itu, senior tadi langsung tertawa terbahak-bahak sambil berlalu dari tempat itu.

Langit cerah menghiasi pulau Lanyukang. Langit memang cerah tapi tidak dengan hatiku yang selalu mendung. Sungguh prosesi itu sangat menyiksa dan melelahkan karena hampir tak ada waktu untuk istirahat. Baju yang kami kenakanpun selalu kering di badan dan hanya diganti pada saat menunaikan shalat lima waktu dan saat tidur saja. Selebihnya pakaian yang kami kenakan itu selalu basah dan kering begitu saja. Senam pagi yang selalu dilakukan di laut, makan siang sambil berendam di dalam air belum lagi jika tiba-tiba mendapat hukuman di tengah malam buta membuat pakaian yang kami kenakan tak pernah benar-benar kering. Betapa berada empat hari di pulau serasa empat tahun. Bagaimana tidak, empat hari kami lalui dengan penuh ketegangan yang menyisakan lelah dan bekas tamparan di pipi. Pipiku seakan terasa tebal karena hampir setiap saat menerima tamparan dari para senior yang tidak punya perasaan itu. Seperti kejadian barusan, seseorang kembali melayangkan tamparannya ke arahku hanya karena aku kehilangan salah satu atributku. Seorang senior usil telah menyembunyikannya entah dimana. Rasanya aku tak tahan untuk tidak menangis mengingat beban perasaan yang makin menghimpit selama beberapa hari di pulau itu dan semakin aku tahan, air mataku semakin deras mengalir. Hasilnya aku menjadi bulan-bulanan para senior yang sadis itu. Melihat tampangku yang tak karuan seperti itu, Dicki teman kelompokku yang sok gagah dan cerewet malah menyeringai. Dengan cueknya ia menyebutku gadis cengeng. Huh...rasanya aku ingin sekali menjitak kepala anak itu.

Malam itu adalah malam terakhir di pulau Lanyukang. Seluruh peserta mulai merasa tenang karena sebentar lagi semua aksi kontak fisik akan dihentikan. Belum sempat kami bernafas dengan lega, sebuah insiden terjadi di tempat itu. Seorang laki-laki yang tergolong super senior tampil di depan maba. Ia mulai menceramahi kami dan mengatakan bahwa kami adalah orang-orang bodoh yang mau saja digembleng oleh senior. Dengan suara serak tiba-tiba Ia mengusir seorang teman keluar dari barisan entah karena kesalahan apa. Kami semua dilanda panik luar biasa karena laki-laki itu mengatakan bahwa seluruh maba akan dipulangkan saat itu juga. Semua panik mendengar pernyataan itu. Dari jauh kulihat sebuah kapal mulai merapat ke pulau. Mungkin itulah kapal yang akan membawa kami pulang ke Makassar, pikirku. Bagaimana mungkin kami akan pulang di tengah malam buta seperti itu sedang jarak ke Makassar harus ditempuh dalam waktu empat jam. Rintik hujan yang mulai turun semakin membuat kami menggigil kedinginan bercampur ketakutan hingga tanpa sadar kami membentuk lingkaran sebagai aksi protes atas rencana pemulangan itu. Beberapa orang tiba-tiba pingsan entah karena rasa takut atau karena rasa dingin yang menggigit kulit. Melihat itu, para senior pendamping mulai mendekati maba dan menyuruh anggota kelompoknya untuk menutup mata menggunakan sehelai scarf. Senior yang bertugas sebagai penunjuk jalan mulai menuntun kami berjalan berputar-putar di dalam hutan terus ke pantai dan kembali ke semak-semak yang tajam sambil sesekali menunduk dan melompat menghindari potongan-potongan kayu. Setelah sekian lama berjalan akhirnya kami berhenti di suatu tempat yang agak lapang. Ada hawa panas yang sangat menyengat di depan sana. Rupanya kami telah sampai di suatu tempat dimana terdapat api unggun yang sangat besar. Meski sempat terjadi tragedi lampu badai yang membuat beberapa senior terluka namun kurasa pengukuhan itu berjalan dengan lancar. Kami diminta untuk membuka scarf yang menutup mata dan sambil menyanyikan lagu ikhlas, semua senior bergantian menyalami kami. Dendam dan sakit hati menguap begitu saja seakan terbawa oleh hembusan angin pagi yang dingin. Dalam bayangan malam, mataku mencari-cari sosok seseorang yang sejak semalam tak kulihat. Aku ingin sekali tersenyum padanya dan bilang kalau aku telah berhasil melewati prosesi ini dengan sukses. :-)

Tulisan ini kupersembahkan buat teman-teman alumni KLA ’00. I miss U all...

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Setahun bersama teman2 di ombak memang waktu yang sangat singkat tapi ombak 2000 tidak akan pernah habis untuk diceritakan, jujur suasana seperti di kla 00 tidak akan bisa saya dapatkan di tempat lain. seminggu setelah pulang dari pulau lanyukang telingaku masih berdengung karna ena tappe finsnya senior sama kemasukan pasir he3 kasianku deh!

Anonim mengatakan...

OMBAK... UNHAS...
It's Unforgotten Moment...

Dari zaman saya (97) sampai 00 (cerita diatas) selalu saja sama... tetap mengesankan, membaca tulisan diatas sebagai Panitia saat itu sy bersyukur ternyata jerih payah kami tidak sia-sia... :)

OMBAK zaman sekarang bagaimana ya...??


Someone from

KLA-97 UH

Anonim mengatakan...

miss that moment........