Menelusuri jejak peninggalan kesultanan Buton, kita akan menemukan sebuah benteng yang terletak pada ketinggian kota Bau-Bau. Sebuah benteng yang mengelilingi pusat pemerintahan kesultanan Buton yang dibangun pada tahun 1632. Benteng ini memiliki panjang 2.740 m dengan ketebalan 1-2 m dan tinggi mencapai 2-3 m. Benteng keraton memiliki 12 pintu (lawa) yang diberi nama sesuai dengan nama atau gelar pengawas pintu-pintu tersebut. Sebagai sebuah benteng yang berfungsi sebagai tempat perlindungan, benteng keraton dilengkapi dengan puluhan meriam yang terdapat pada setiap pintu.


Di kawasan benteng ini terdapat pemukiman penduduk yang merupakan pewaris dari keluarga bangsawan keraton Buton masa lalu. Rumah-rumah panggung yang sederhana tetap di pertahankan keasliannya. Itulah sebabnya mengapa jika memasuki kawasan benteng ini kita merasakan seakan berada di masa lampau.


Banyak obyek menarik yang terdapat di dalam benteng Kraton ini. Ada batu Popaua (batu pelantikan), Masjid Agung Keraton, Makam Sultan I Buton, Tiang Bendera dan meriam-meriam kuno. Masjid agung kraton merupakan bangunan pusat kegiatan lembaga kesultanan di bidang keagamaan. Masjid ini berukuran 21 x 22 meter dan memiliki 12 pintu seperti pada benteng Kraton. Nuansa islami ditunjukkan oleh bentuk pemerintahan kesultanan dengan bahasa resmi yaitu bahasa Wolio yang tertulis dengan aksara Wolio menggunakan huruf hijahiyah Arab. Warisan lainnya adalah Keanekaragaman bahasa yang dimiliki oleh masyarakat Buton hingga mencapai puluhan jenis bahasa dengan dialek tersendiri. Namun bahasa Woliolah yang menjadi pemersatu dari keanekaragaman bahasa tersebut.



Salah satu bagian benteng tertua adalah tiang bendera ’ Kasulana Tombi’. Tiang bendera ini berdiri sejak abad 17 dan sampai sekarang tiang bendera ini masih terpancang meski harus disanggah oleh empat tonggak karena sudah termakan usia. Konon bendera ini pernah mengibarkan banyak bendera antara lain bendera Kraton Buton, Belanda, Jepang dan yang terakhir Sang Saka Merah putih.



Tak jauh dari Masjid Agung Kraton terdapat makam raja yang sekaligus Sultan I Buton. Murhum adalah raja pertama yang menganut ajaran islam. Sejak itu sistem pemerintahan yang mulanya kerajaan berubah menjadi kesultanan yang sarat akan ajaran islam.


Obyek menarik lainnya yang bisa ditemukan di dalam benteng ini adalah Batu Popaua. Batu ini merupakan batu pelantikan raja yang akan berkuasa. Permukaan batu Popaua ini hampir sama rata dengan tanah namun mempunyai lelukan yang berukuran hampir sama dengan dengan telapak kaki manusia. Di lekukan itulah Sang Raja menginjakkan kaki kanannya sambil mengucapkan sumpah jabatan sebagai raja dibawah payung yang diputar sebanyak tujuh kali.






4 komentar:

Anonim mengatakan...

banyak potensi yang dimiliki, namun sampai saat ini bagai polpen yang tak bertinta. wolioku sejarah yang terlupakan oleh modernisasi...mampir juga di http://wolio.wordpress.com

Jamil Ali @ Ladewaka mengatakan...

Tahniah kepada anda kerana dapat membuka minda pembaca. Sebagai anak Keturunan Buton, Kec. Liya, Desa Liya Mawi, Kab. Wakatobi, walau lahir dan duduk diNegara Malaysia, Negeri Sabah Daerah Semporna saya merasa bangga dengan kehebatan adek asma. Teruskan krier anda. kirim khabar buat anak buton disini.
jalurmas64@yahoo.com.my
Malaysia.

Jamil Ali @ Ladewaka mengatakan...

minta adek kirim YM kalau ada agar dapat berbicara secara langsung dengan adek dan dapat khabar terus sebab saya berniat besar untuk kesana sebab dari lahir belum pernah lihat kampung ayah dan nenek moyang sendiri.

Jamil Ali @ Ladewaka mengatakan...

Bercerita mengenai Jejak Kesultanan Buton, sebagai sebahagian dari keturunan suku bangsa yang berasal dari Desa Liya mengharapkan agar penjejakan ini tidak berunsur kepentingan diri. Biarlah jejak itu punya kebenaran dengan fakta sejarah yang tidak berubah sepanjang zaman. Perlu kita ingat Sejarah Kesultanan Buton amat berharga bagi kita kalangan suku Buton walau mereka berada dimana sekali pun.