Waktu telah mempertemukanku dengannya pada suatu pagi yang dingin delapan tahun silam saat sang surya belum sempat menampakkan sinarnya di ufuk timur kota Makassar. Sebuah senyuman tersungging sebagai isyarat salam perkenalan ketika untuk pertama kalinya aku melihatmu sedang duduk termenung dalam keadaan menahan kantuk menunggu antrian untuk berwudhu. Kamarmu yang bersebelahan dengan kamarku menjadi awal dari kebersamaan yang terbangun hingga meninggalkan cerita yang teramat manis untuk dikenang. Sebuah babak baru pada awal perjalananku sebagai seorang mahasiswa perantauan yang menetap di rumah tua yang orang menyebutnya sebagai padepokan satria, nama sebuah tempat kost dimana aku dinobatkan sebagai seorang penghuni baru. Kedua saudara kita sudah terlebih dahulu membina persaudaraan dan mewariskannya pada kita. Persahabatan itu begitu erat membentuk pertalian nurani melebihi persaudaraan sedarah. Terlalu banyak kisah yang kulewati hingga menyisakan ingatan yang mengharu biru ketika kusadari kini hanya tinggal kenangan. Kebersamaan yang terbangun menjadikanku sebagai bagian dari kehidupanmu dan kau menjadi bagian dari hidupku. Perbedaan karakter yang ada justru membentuk kombinasi sifat yang membuat kita semakin kompak dalam menjalani kehidupan sebagai seorang yang baru mengecap dunia kemahasiswaan.

Masih jelas dalam ingatanku akan kebiasaanmu yang selalu ngambek jika aku tak sempat pamitan ketika aku keluar kota untuk melakukan praktek lapangan ke sebuah pulau selama beberapa hari. Kau juga akan protes jika aku tak mengunjungimu atau sekedar mengetuk pintu kamarmu untuk memberitahukan tentang kepulanganku dari bepergian. Kadang-kadang kau berubah menjadi orang yang sangat cerewet sedang memarahi anaknya yang sering telat makan seperti yang kau lakukan padaku. Namun kebanyakan akulah yang mengambil alih peran sebagai ibu ketika melihatmu gundah akan beban dalam hatimu. Saling menasehati dengan bahasa sederhana ketika hati kita rapuh saat menghadapi suatu masalah sudah menjadi tradisi dari kebersamaan itu. Sakitmu menjadi bagian dari sakitku dan sedihku adalah sedihmu juga. Kita sama-sama tak pernah membiarkan salah satu diantara kita menangis, tidak untuk masalah apapun kecuali cinta, cinta yang bagi kita merupakan hal yang paling misteri untukku juga untukmu.


Orang bilang kita adalah saudara dimana ada aku maka disitu juga ada kamu begitu pula sebaliknya. Masih jelas dalam ingatanku ketika suatu malam aku mengenakan masker diwajahku dan kau tertidur pulas di sampingku hingga tiba-tiba kau terbangun dan berteriak ketakutan melihat wajahku yang putih terbalut masker dan parahnya kau menyebutku pocong. Astagfirullah, seseram itukah wajahku hingga kau menyebutku dengan nama hantu yang sangat menakutkan itu? Sungguh aku tak bisa menahan tawaku melihat ekspresimu wajahmu yang ketakutan seperti itu dan tentu saja kaupun ikut tertawa menyadari semuanya hingga kesunyian malampun terusik oleh suara cekikikan kita yang berisik. Pernah suatu hari ketika akan menyeberangi jalan perintis yang cukup ramai, aku dikejutkan oleh kenyataan yang membuatku keringat dingin. Sebuah bis besar tiba-tiba sudah ada di belakang dan tinggal sejengkal saja kendaraan itu akan menabrak tubuh kita yang menggigil ketakutan. Aku mencoba memperingatkanmu dan kau berusaha menyelamatkanku hingga kita sama-sama terjebak dalam situasi yang teramat genting. Dalam ketakutan yang luar biasa tanpa sadar kita berpelukan sambil menangis pasrah akan musibah yang akan menimpa. Suara klakson yang beruntun menyadarkan bahwa kita selamat dari musibah itu.

Semua orang bilang kita adalah saudara dan memang itulah kenyataannya, saudara meski tak sedarah. Masih kuingat kebiasaan kita yang terbilang unik setiap malam minggu, malam yang bagi sebagian orang dimanfaatkan untuk acara ritual mojok alias pacaran. Kita memanfaatkan moment itu untuk berbagi cerita alias curhat sampai larut malam ditemani lagu-lagu melankolisnya Erick Clapton, Bryan Adam, The Beatles, Pance Pondaa, Betharia Sonata dan tentu saja Panbers. Lagu-lagu merekalah yang menjadi soundtrack dari acara curhat edisi malam minggu yang seakan sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. Dan suara kokok ayamlah yang selalu menjadi pertanda bahwa acara begadang itu harus usai.

Terlalu banyak kisah yang kulalui bersamamu meski tak sempat kutulis disini. Semuanya tertanam tajam dalam sejarah ingatanku tentang indahnya sebuah persahabatan. Dan kini meskipun aku sangat merasa kehilangan karena akhirnya kau mengganti kedudukanku dengan seorang laki-laki yang siap mendampingimu lahir dan batin, menemanimu dalam suka dukamu dan menjagamu lebih dari ketika aku menjagamu, aku akan tetap selalu ada untukmu walau aku akan sangat jauh berdiri di sudut kehidupanmu, sendiri sambil menunggu kiriman Tuhan sebagai penggantimu untuk mendampingiku lahir dan batin, menemaniku dalam suka dan duka serta menjagaku lebih dari ketika kau menjagaku.

Special to : Sahabatku Velma Karyani. Selamat menempuh hidup baru moga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.amin

5 komentar:

Anonim mengatakan...

ternyata... kita juga suka dengar eric clapton, bryan adam rupanya... kalo pance and panbers ketahuanji ^_^

persahabatan kalian, mungkin hanya jarak, kota dan status yang berubah...

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Anonim mengatakan...

lagu2nya asik sih :-)

irafpikunhalu mengatakan...

Smoga cepat juga nyusul sahabatnya dpt pendamping hidup yah...yah..yah...
"Persahatan itu seperti daun teh.kadarx akan terlihat setelah di masukan ke dalam air panas".persahabatan akan bermakna setelah melaui banyak suka dan duka kehidupan.Dia akan selalu mendukung & mensuport kita. Bersyukurlah orang-orang yang mempunyai sahabat sejati

asma aziz mengatakan...

amin...