Angin bertiup perlahan meninggalkan riak-riak kecil diatas air. Laut yang semula tenang kini membentuk segulung ombak yang menggapai-gapai seolah menahan kepergian sang angin,
Ombak : Mengapa kau ingin meninggalkanku padahal kita sudah lama bersama?
Angin : Maafkan aku...aku tak ingin lagi membuatmu menjadi badai
Ombak : Aku tahu...kau tak pernah bermaksud memporak-porandakan negeri diatas air ini. awan hitam itulah yang selalu mengejekmu hingga kau tak bisa menahan amarahmu
Angin : Tapi kita tetap tak bisa bersama. lihatlah di pulau sana, banyak bangkai kapal yang karam ditelan badai. itu karena apa? karena keegoisan kita yang tak pernah mau mengalah. kita selalu saja terhasut oleh bujukan awan hitam untuk saling mengalahkan
Ombak terdiam mendengar perkataan angin. ia merasa bersalah karenanya
Ombak : Jadi kau akan kemana?
Angin : Aku akan pergi ke tempat yang jauh dimana kehadiranku tak membebani siapa-siapa
Ombak : Bolehkah aku mengunjungimu jika suatu saat nanti aku merindukanmu?
Angin : Tidak....kau tak boleh mengunjungiku. kedatanganmu hanya akan memporak-porandakan tempat tinggalku karena kau harus menjelma menjadi air bah dan itu artinya bencana bagi negeri baruku
Ombak : Negeri barumu? seperti apakah itu?
Angin tersenyum mendengar pertanyaan ombak itu
Angin : Negeri baruku adalah hutan-hutan, padang rumput yang hijau dan kaki bukit yang rimbun
Ombak : Mengapa kau memilih tempat seperti itu padahal kau sudah terbiasa berlari diatas samudera yang luas
Angin : Aku tahu...tapi aku ingin berada di tempat dimana orang lain mengharapkan kehadiranku. selama ini tak ada yang membutuhkanku di tengah laut terlebih para nelayan itu, mereka tak pernah mengharapkan kehadiranku
Ombak tertunduk sedih mendengarkan penuturan sang angin. ia sangat mengerti perasaan sang angin yang selalu kesepian di tengah samudera. memang tak ada yang benar-benar mengharapkan kehadirannya. hanya ombaklah yang menemaninya berkejaran hingga menyisakan buih putih diatas air. tiba-tiba ombak merasakan kehilangan yang amat sangat. tatapannya nanar ketika mendengar desau sang angin
"Jika kau merindukanku tataplah langit diatas sana. carilah bintang yang paling terang sebab aku berada jauh dibawahnya. nikmati sedihnya kerinduanmu, resapi perihnya rasa kehilanganmu namun jangan kau teteskan air matamu karena rasa rindumu yang membuncah. yakinlah, aku akan datang dalam kesepianmu, membelaimu hingga terlelap dan membangunkanmu ketika kau benar-benar telah melupakan segala kerinduanmu padaku"
Ombak : Mengapa kau ingin meninggalkanku padahal kita sudah lama bersama?
Angin : Maafkan aku...aku tak ingin lagi membuatmu menjadi badai
Ombak : Aku tahu...kau tak pernah bermaksud memporak-porandakan negeri diatas air ini. awan hitam itulah yang selalu mengejekmu hingga kau tak bisa menahan amarahmu
Angin : Tapi kita tetap tak bisa bersama. lihatlah di pulau sana, banyak bangkai kapal yang karam ditelan badai. itu karena apa? karena keegoisan kita yang tak pernah mau mengalah. kita selalu saja terhasut oleh bujukan awan hitam untuk saling mengalahkan
Ombak terdiam mendengar perkataan angin. ia merasa bersalah karenanya
Ombak : Jadi kau akan kemana?
Angin : Aku akan pergi ke tempat yang jauh dimana kehadiranku tak membebani siapa-siapa
Ombak : Bolehkah aku mengunjungimu jika suatu saat nanti aku merindukanmu?
Angin : Tidak....kau tak boleh mengunjungiku. kedatanganmu hanya akan memporak-porandakan tempat tinggalku karena kau harus menjelma menjadi air bah dan itu artinya bencana bagi negeri baruku
Ombak : Negeri barumu? seperti apakah itu?
Angin tersenyum mendengar pertanyaan ombak itu
Angin : Negeri baruku adalah hutan-hutan, padang rumput yang hijau dan kaki bukit yang rimbun
Ombak : Mengapa kau memilih tempat seperti itu padahal kau sudah terbiasa berlari diatas samudera yang luas
Angin : Aku tahu...tapi aku ingin berada di tempat dimana orang lain mengharapkan kehadiranku. selama ini tak ada yang membutuhkanku di tengah laut terlebih para nelayan itu, mereka tak pernah mengharapkan kehadiranku
Ombak tertunduk sedih mendengarkan penuturan sang angin. ia sangat mengerti perasaan sang angin yang selalu kesepian di tengah samudera. memang tak ada yang benar-benar mengharapkan kehadirannya. hanya ombaklah yang menemaninya berkejaran hingga menyisakan buih putih diatas air. tiba-tiba ombak merasakan kehilangan yang amat sangat. tatapannya nanar ketika mendengar desau sang angin
"Jika kau merindukanku tataplah langit diatas sana. carilah bintang yang paling terang sebab aku berada jauh dibawahnya. nikmati sedihnya kerinduanmu, resapi perihnya rasa kehilanganmu namun jangan kau teteskan air matamu karena rasa rindumu yang membuncah. yakinlah, aku akan datang dalam kesepianmu, membelaimu hingga terlelap dan membangunkanmu ketika kau benar-benar telah melupakan segala kerinduanmu padaku"
0 komentar:
Posting Komentar