Semilir angin membawa semerbak wangi bunga dari taman di depan sebuah bangunan nan megah. Rasanya aku bagaikan berada di negeri dongeng, negeri impian yang pernah hidup di dunia khayalku ketika aku kecil dulu. Aku berdiri di depan gerbang sebuah bangunan menyerupai kastil yang megah bak istana. Lama aku menunggu tapi pintunya tak juga terkuak, tetap kokoh tak bergeming oleh ketukanku. Aku sedih padahal aku sudah menunggu begitu lama. Bukan berhari-hari atau berminggu-minggu tapi bertahun-tahun dengan segenggam asa tentang sebuah janji pertemuan. Janji yang menguatkanku untuk bertahan meski aku tak pernah tahu apakah gerbang kokoh itu akan terbuka untukku. Hingga kurasakan bahwa janji itu semakin buram tertutup oleh debu-debu keraguan. Segudang keyakinan dan kepercayaan yang kurajut bersama mimpi kini hambar ditelan masa. Dan ketika ketidakhadiran mewarnai penantianku dibalik tembok kastil yang angkuh, Aku tergugu sebab janji itu hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang tak pernah aku sadari hingga suara dentang jam menyadarkanku akan sebuah kenyataan. Rupanya aku telah bangun kesiangan tepat pada saat jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang.
Aku mencoba berlari ke arah jendela. Di luar sana matahari terik menusuk-nusuk. Kulihat beberapa perempuan sebayaku berjalan beriringan sambil membawa payung berenda. Tapi mengapa mereka berjalan manjauh dari rumahnya sambil mengendarai kereta berkuda? Mengapa perempuan-perempuan itu membawa buntalan- buntalan besar berwarna-warni? Kemanakah mereka pergi? Aku terus bartanya-tanya dalam hati sambil memandangi punggung mereka yang makin menjauh. Aku juga ingin bartanya mengapa perempuan-perempuan itu selalu tersenyum seakan mereka berjalan menyongsong sebuah kebahagiaan. Kulihat rumahku sepi, tak ada siapa-siapa. Dari jauh kudengar suara ibuku terbatuk-batuk. Aku mencari sumber suara itu tapi aku tak menemukannya. Kemanakah mereka? Kemana juga kedua saudara perempuanku? Aku mencoba melongokkan kepala ke dalam kamar adik perempuanku itu. Disitu kulihat sebuah payung berenda dan buntalan besar berwarna merah muda. Aku bertanya-tanya, apakah adikku juga akan pergi membawa buntalan itu seperti perempuan-perempuan yang kulihat barusan. Aku berlari mencari-cari di setiap sudut rumahku. Lama aku mencari tapi aku tak juga menemukan siapa-siapa. Yang terdengar hanyalah mendengar suara dentam langkah kakiku yang memantul pada dinding-dinding rumahku. Lamat-lamat aku mendengar suara ayah dan ibuku yang memanggil namaku lirih. Sepertinya mereka sedih melihatku kebingungan seperti itu. Aku juga mendengar suara kedua saudara perempuanku yang sedang bersenda gurau. Aku makin bingung, dimanakah mereka?
Aku berlari menghambur keluar rumah tapi aku tak juga menemukan mereka disana. Yang kulihat hanyalah wajah sumringah seorang ibu setengah baya yang melambaikan tangan dari pintu rumahnya. Perempuan itu melepas kepergian anaknya dengan senyuman. Kulihat seorang perempuan muda berangkat dengan mengendarai kereta berkuda bersama seseorang. Kembali aku berlari dalam kebingungan. Kali ini langkahku menuju ke halaman rumahku. Hatiku bertanya-tanya kemana kereta kayu yang biasa mangkal di depan rumahku. Yang selalu bernaung di bawah pohon yang tumbuh tepat disamping kamarku. Yang kusirnya selalu mendongakkan kepala ke arah jendela kamarku seakan berharap aku membuka jendela dan tersenyum padanya. Aku bertanya tentang keanehan di rumahku pada seseorang yang kebetulan lewat di depan rumahku. Perempuan itu terdiam mendengar pertanyaanku dan kalimat yang keluar dari mulut perempuan tua itu cukup membuatku terkejut. Rupanya para pemilik kereta berkuda itu telah pergi satu-satu ketika aku tak juga bangun dari tidurku yang panjang. Mereka lelah sebab aku tak pernah membuka jendela kamarku hanya untuk melihatnya apalagi menyapanya.
Rasa bersalah tiba-tiba menghinggapi hatiku. Kenapa aku tak pernah mengindahkan nasehat ibu yang memintaku untuk membuka sedikit jendela kamarku agar udara pagi membangunkanku dari mimpi-mimpiku. Aku tersenyum getir. Rupanya tidur panjangku membuatku kehilangan kesempatan untuk menghirup udara pagi. Mimpi indahku tentang janji-pertemuan itu lmembuatku terlelap hingga aku bangun kesiangan tepat pada saat jam dinding bertentang dua belas kali. Aku pasrah ketika aku tak juga menemukan orang tuaku dan kedua saudara perempuanku. Tiba-tiba aku dilanda rasa khawatir yang amat sangat. Aku takut tinggal sendirian di rumah yang sunyi itu. Hingga kuputuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu tanpa tahu kemana tujuanku tanpa kereta, payung berenda apalagi buntalan besar warna-warni yang biasa dibawa oleh perempuan-perempuan sebayaku. Juga tanpa senyum sumringah dari orang tuaku. Tatapanku tiba-tiba kabur oleh pedihnya air mata ketika kusadari jalan yang kulalui teramat sepi. Aku takut berjalan dalam kebingungan seperti ini, sendiri tanpa siapa-siapa.
Aku mencoba berlari ke arah jendela. Di luar sana matahari terik menusuk-nusuk. Kulihat beberapa perempuan sebayaku berjalan beriringan sambil membawa payung berenda. Tapi mengapa mereka berjalan manjauh dari rumahnya sambil mengendarai kereta berkuda? Mengapa perempuan-perempuan itu membawa buntalan- buntalan besar berwarna-warni? Kemanakah mereka pergi? Aku terus bartanya-tanya dalam hati sambil memandangi punggung mereka yang makin menjauh. Aku juga ingin bartanya mengapa perempuan-perempuan itu selalu tersenyum seakan mereka berjalan menyongsong sebuah kebahagiaan. Kulihat rumahku sepi, tak ada siapa-siapa. Dari jauh kudengar suara ibuku terbatuk-batuk. Aku mencari sumber suara itu tapi aku tak menemukannya. Kemanakah mereka? Kemana juga kedua saudara perempuanku? Aku mencoba melongokkan kepala ke dalam kamar adik perempuanku itu. Disitu kulihat sebuah payung berenda dan buntalan besar berwarna merah muda. Aku bertanya-tanya, apakah adikku juga akan pergi membawa buntalan itu seperti perempuan-perempuan yang kulihat barusan. Aku berlari mencari-cari di setiap sudut rumahku. Lama aku mencari tapi aku tak juga menemukan siapa-siapa. Yang terdengar hanyalah mendengar suara dentam langkah kakiku yang memantul pada dinding-dinding rumahku. Lamat-lamat aku mendengar suara ayah dan ibuku yang memanggil namaku lirih. Sepertinya mereka sedih melihatku kebingungan seperti itu. Aku juga mendengar suara kedua saudara perempuanku yang sedang bersenda gurau. Aku makin bingung, dimanakah mereka?
Aku berlari menghambur keluar rumah tapi aku tak juga menemukan mereka disana. Yang kulihat hanyalah wajah sumringah seorang ibu setengah baya yang melambaikan tangan dari pintu rumahnya. Perempuan itu melepas kepergian anaknya dengan senyuman. Kulihat seorang perempuan muda berangkat dengan mengendarai kereta berkuda bersama seseorang. Kembali aku berlari dalam kebingungan. Kali ini langkahku menuju ke halaman rumahku. Hatiku bertanya-tanya kemana kereta kayu yang biasa mangkal di depan rumahku. Yang selalu bernaung di bawah pohon yang tumbuh tepat disamping kamarku. Yang kusirnya selalu mendongakkan kepala ke arah jendela kamarku seakan berharap aku membuka jendela dan tersenyum padanya. Aku bertanya tentang keanehan di rumahku pada seseorang yang kebetulan lewat di depan rumahku. Perempuan itu terdiam mendengar pertanyaanku dan kalimat yang keluar dari mulut perempuan tua itu cukup membuatku terkejut. Rupanya para pemilik kereta berkuda itu telah pergi satu-satu ketika aku tak juga bangun dari tidurku yang panjang. Mereka lelah sebab aku tak pernah membuka jendela kamarku hanya untuk melihatnya apalagi menyapanya.
Rasa bersalah tiba-tiba menghinggapi hatiku. Kenapa aku tak pernah mengindahkan nasehat ibu yang memintaku untuk membuka sedikit jendela kamarku agar udara pagi membangunkanku dari mimpi-mimpiku. Aku tersenyum getir. Rupanya tidur panjangku membuatku kehilangan kesempatan untuk menghirup udara pagi. Mimpi indahku tentang janji-pertemuan itu lmembuatku terlelap hingga aku bangun kesiangan tepat pada saat jam dinding bertentang dua belas kali. Aku pasrah ketika aku tak juga menemukan orang tuaku dan kedua saudara perempuanku. Tiba-tiba aku dilanda rasa khawatir yang amat sangat. Aku takut tinggal sendirian di rumah yang sunyi itu. Hingga kuputuskan untuk melangkahkan kaki meninggalkan rumah itu tanpa tahu kemana tujuanku tanpa kereta, payung berenda apalagi buntalan besar warna-warni yang biasa dibawa oleh perempuan-perempuan sebayaku. Juga tanpa senyum sumringah dari orang tuaku. Tatapanku tiba-tiba kabur oleh pedihnya air mata ketika kusadari jalan yang kulalui teramat sepi. Aku takut berjalan dalam kebingungan seperti ini, sendiri tanpa siapa-siapa.
2 komentar:
Jika kita merasa semua pintu sudah tertutup untuk kita..
jika kita merasa sendirian tanpa ada orang lain yang mau menemani kita....
mengapa harus takut???
bukankah kita datang sendiri, dan nantinya akan pergi sendirian pula???
jangan menoleh lagi kearah pintu yang tertutup....
karena yang bisa membuat pintu itu terbuka lagi hanya pemilik hati...
kenapa tidak coba mengetuk pintu yang selalu terbuka untuk manusia lemah seperti kita.....
pintu yang pemiliknya selalu memiliki kasih sayang tulus tanpa pamrih kepada kita....
seraya berdoa semoga kelak akan ada kereta yang membawa kita
ke gerbang kebahagiaan.
yah...semoga kereta itu akan datang menjemput kita
Posting Komentar