Hikmah dan Qudrah takkan sempurna melainkan dengan menciptakan lawannya agar masing-masing diketahui dari pasangannya. Cahaya diketahui dengan adanya kegelapan, ilmu diketahui dengan adanya kebodohan, kebaikan diketahui dengan adanya keburukan, kemanfaatan diketahui dengan adanya kemudharatan dan rasa manis dikatahui dengan adanya rasa pahit

Itulah penggalan nasehat yang diberikan oleh perempuan setengah baya yang sejak tadi duduk disampingku. Entah kenapa perempuan itu begitu perhatian padaku padahal aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah seorang pendatang yang baru saja bekerja ditempat itu. Mungkin Ia prihatin dengan keadaanku yang sampai kini masih sendiri sedang umurku sudah tidak muda lagi. Nalurinya sebagai seorang Ibu membuatnya memperlakukanku seperti putrinya sendiri. Aku tak tahu banyak tentang dirinya namun kedekatanku dengannya membuatku terbuka untuk menceritakan kisah hidupku sesungguhnya. Karena itulah Ia begitu rajin memberikan nasehat-nasehatnya padaku. Nasehat yang intinya bahwa aku tak boleh mengabaikan sebuah pernikahan apapun alasannya. Ia juga memaparkan kalau islam menganjurkan agar seseorang segera mengakhiri kesendiriannya dengan menyempurnakan sebagian agamanya dengan jalan menikah. Aku sangat paham akan hal itu, hanya saja kegagalanku tempo hari membuatku pesimis apalagi mengingat usiaku yang kini sudah kepala tiga.

Masih kuingat kejadian lima tahun silam ketika seseorang menemui ayahku untuk melamarku. Ayah menerimanya dengan senang hati karena Ia begitu mengenalnya. Bagi ayah dialah orang yang pantas bersanding denganku. Seorang laki-laki yang baik dan berpendidikan. Aku setuju dengan keputusan ayah karena aku ridha dengan ahlak dan agamanya. Hari yang kunantikan pun tiba. Janur kuning melengkung menghiasi gapura rumahku dengan dekorasi yang bagiku sangat sempurna hingga menjadikan rumahku bak istana kecil di negeri dongeng. Para undangan mulai berdatangan ingin menyaksikan akad nikah yang sebentar lagi akan berlangsung. Dalam penantian itu, aku dikejutkan oleh berita yang membuat duniaku seakan runtuh. Laki-laki yang sebentar lagi menjadi suamiku itu tak akan pernah hadir ditempat itu. Sebuah truk dengan kecepatan tinggi menghantam mobil yang ditumpanginya hingga Ia menghembuskan napasnya yang terakhir tepat pada saat jarum jam menunjukkan waktu dimulainya prosesi akad nikah. Hatiku hancur karenanya, benar-benar hancur. Dan Ayahku shock dibuatnya. Penyakit jantung yang dideritanya sejak beberapa tahun lalu membuatnya tak sadarkan diri hingga ajal menjemputnya. Dua orang yang kukasihi meninggalkanku bersamaan tanpa memberi kesempatan padaku untuk menyempurnakan kebahagiaan keduanya.

Sejak saat itu aku tak pernah lagi berpikir untuk menikah karena kupikir jodohku sudah mati. Sebuah pemikiran yang bodoh tentunya tapi aku tak peduli karena orang kuharapkan telah meninggalkanku. Kesibukanku melanjutkan kuliah sambil bekerja membuatku lupa akan sunah rasul itu hingga umurku genap tiga puluh lima tahun. Usia yang makin bertambah menyadarkanku akan fitrah sebagai mahluk Tuhan yang beragama. Dan kehadiran perempuan paruh baya teman sekantorku itu cukup merubah pandanganku tentang arti sebuah pernikahan. Bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan dan tiap orang punya jodohnya masing-masing. Bisa jadi Tuhan mengambil laki-laki yang kupikir jodohku itu tapi sudah mempersiapkan rencana lain dengan menggantinya dengan seorang yang jauh lebih baik. Dengan keyakinan itulah aku mencoba membuka diri meskipun mungkin sudah sangat terlambat. Hingga suatu hari seorang teman mengenalkanku pada seorang laki-laki pendiam itu. Aku terkesima...bukan karena wajahnya tapi karena tutur katanya yang halus dan sikapnya yang sopan. Sepertinya Ia seorang yang cerdas karena Ia memiliki wawasan yang sangat luas.

Aku bukanlah orang yang gampang menyukai sesuatu. Apalagi pada sesesorang yang baru kukenal seperti pada laki-laki pendiam itu. Meskipun tampangnya diatas rata-rata dan sudah mapan tapi aku belum mampu membuka hatiku sepenuhnya untuk seseorang yang baru kukenal. Desakan ibulah yang membuatku tak berpikir panjang dan memutuskan untuk menerima pinangannya. Dan tentu saja usiaku yang memantapkan hatiku untuk menerimanya. Ibu begitu antusias menyambut hari pernikahanku. Sakit yang dideritanya belakangan ini mendadak sembuh begitu saja. Aku tersenyum melihat rona bahagia diwajah Ibu. Aku sangat memahami perasaannya. Sebagai seorang Ibu, Ia sangat khawatir anak perempuan satu-satunya belum juga berkeluarga, ditambah gunjingan para tetangga yang membuat Ibu tertekan.

Waktu menjadi saksi akan hari bersejarah itu. Sinar matahari pagi mulai memanggang dahan-dahan ranting yang masih diselimuti sisa embun semalam. Ketika ijab qabul akan terucap, tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dari arah luar. Seorang perempuan masuk dan bersujud di depanku. Aku terkejut. Dengan terisak-isak Ia mengatakan bahwa laki-laki yang akan menikahiku itu adalah suaminya. Laki-laki yang meninggalkannya ketika usia kandungannya genap enam bulan. Tulangku seakan lepas satu persatu, mataku seakan tak bisa melihat dan napasku seakan lepas dari ragaku mengetahui kenyataan itu. Dengan suara serak aku meminta pada semuanya untuk membatalkan pernikahan itu. Aku tak mau membangun kebahagiaan diatas penderitaan orang lain. Dalam tangisku aku melihat laki-laki itu berdiri dengan wajah memerah menahan marah dan malu. Dengan kasar ditariknya perempuan yang tengah hamil itu. Ia berlalu diiringi tatapan tak percaya dari setiap orang yang ada ditempat itu. Kulihat Ibu jatuh tak sadarkan diri. Aku panik menyaksikan Ibu yang terbaring lemas disisiku. Aku tak mau kegagalanku kali ini kembali merenggut nyawa orang yang kuncintai. Hatiku hancur untuk yang kedua kalinya. Tuhan telah mengujiku dengan ujian yang betul-betul sungguh aku tak sanggup untuk melewatinya. Rasanya aku ingin menghilang pergi ketempat yang sangat jauh hingga tak seorangpun menemukanku.

Dalam himpitan perasaan yang teramat sangat aku menemukan diriku berada dalam rangkulan seorang perempuan separuh baya yang berusaha menenangkanku. Matanya berkaca-kaca seolah ikut merasakan kepedihan yang kualami. Dengan sayang Ia membelai rambutku lalu mengatakan kalau Tuhan itu Maha Pengasih dan Dia tidak akan membebani hambaNya diluar batas kemampuannya. Dan aku percaya itu hanya saja aku belum bisa berpikir jernih dan belum bisa menerima kenyataan yang ada. Dengan sisa tangis yang tertahan, wanita itu mengajakku memasuki kembali ruangan yang tadi kutinggalkan. Aku tak mengerti mengapa Ia memintaku kembali ke tempat itu padahal aku sudah meminta untuk membatalkan semuanya. Aku heran menyaksikan pemandangan di ruangan itu. Disitu duduk seorang wali nikah, saksi dan seorang laki-laki berkopiah. Tidak hanya itu, para undangan yang kusangka sudah membubarkan diri ternyata masih ada disitu. Aku seakan tak percaya melihat Ibu yang tersenyum sumringah melihat kedatanganku. Perempuan yang tadi menuntunku membisikkan sesuatu padaku. Aku terkejut, bagaimana mungkin dalam waktu singkat takdir berubah seratus delapan puluh derajat. Tuhan Maha Besar, Dia memperlihatkan kekuasaanNya dengan membalik kenyataan yang tadinya kacau balau menjadi tenang kembali hanya dalam hitungan menit saja. Aku seakan terhipnotis oleh suasana yang sungguh diluar dugaanku. Baru ku tahu kalau laki-laki berkopiah itu adalah anak dari perempuan yang belakangan ini dekat denganku. Aku sama sekali tak mengenalnya jadi bagaimana mungkin aku akan menikah dengan seseorang yang baru pertama kali kulihat. Aku pasrah. Pasrah pada skenario Tuhan yang tengah kulakoni. Kulihat laki-laki berkopiah itu tersenyum menatapku. Aku teringat sesuatu. Dia...dia adalah laki-laki bercahaya bak malaikat yang masuk ke dalam rumahku dalam mimpiku semalam. Mimpi yang terjadi berulangkali menjelang azan subuh sejak beberapa hari yang lalu. Dan subhanallah...Dia ada disini duduk tepat disampingku. Aku hampir tak percaya ketika laki-laki itu memanggilku lembut dengan sebutan : Istriku.

1 komentar:

irafpikunhalu mengatakan...

yah smoga cerita itu ga terjadi dalam dunia nyata. Trlalu tragis n menyentuh tp sedikit lega karena "happy ending"