Pagi bisu beranjak naik ditemani gerimis penghujung musim. Sang waktu memaksa langkahku untuk menyusuri koridor kampus yang masih sunyi. Tak kudapati sosok-sosok yang biasanya menghuni tempat ini. Kulirik Seiko dipergelangan tanganku. Pukul 10.00 teng. Mataku terasa pedih menyisakan kantuk karena kurang tidur. Kulirik setumpuk kertas di kepitan tanganku. Mudah-mudahan bisa lolos, doaku dalam hati. Cepat kunaiki tangga menuju salah satu ruangan pada gedung berlantai tiga itu. Kuberanikan diri mengetuk pintu yang tertutup dan terdengar sebuah suara dari dalam yang menyuruhku masuk.
“Ada apa ?” tanyanya
“Eh…ini pak perbaikan skripsi saya yang kemarin” jawabku gugup
“Maaf, saya sedang sibuk”
“Apakah…apakah saya boleh datang ke rumah bapak ?” tanyaku perlahan
“Tidak bisa. Ini masalah akademik dan itu artinya harus diselesaikan disini” bentaknya marah.
“Ma…maaf pak, permisi” kataku tergagap sambil beranjak dari ruangan itu. Kuhempaskan tubuhku di bangku panjang koridor. Aku tak habis pikir apa maunya orang tua itu padahal tadi malam aku sudah menghubunginya untuk memastikan kesiapannya hari ini dan ia setuju untuk asistensi. Aku tak mengerti mengapa Ia menyambutku begitu dingin. Seandainya kejadiannya baru sekali ini mungkin tidak jadi masalah bagiku tapi peristiwa seperti ini sudah sering kurasakan. Kejadian seperti ini selalu berulang dengan berbagai alasan. Seharusnya sebagai dosen pembimbing ia mengarahkan dan membimbingku menyelesaikan tugas akhir ini. Tapi kenyataannya jauh dari apa yang kuharapkan. Orang itu begitu sibuk dengan kegiatannya diluar kampus bahkan jadwal mengajarnya pun kadang terhambat dan pada akhirnya mencari waktu lain utnuk mengganti jadwal kuliah yang ketinggalan. Dia juga selalu memasang wajah dingin setiap kali melihatku masuk ke dalam ruangannya bahkan paling sering Ia tidak mau melihat mukaku. Aku tak mengerti, sama sekali tak mengerti. Aku selalu mengikuti semua perintahnya bahkan harus betah mendengarkan semua petuah-petuanya kalau lagi baikan. Masih kuingat kejadian minggu lalu. Bapak itu menyuruhku men-translate sebuah buku yang tebalnya seratus halaman. Padahal isinya sama sekali tak ada hubungannya dengan skripsiku. Dengan susah payah kukerahkan seluruh tenagaku untuk membujuk teman-temanku agar mau membantu menyelesaikannya. Ingin rasanya aku melawan tapi aku sadar aku tak boleh seperti itu. Aku tak mau studiku yang sudah enam tahun ini harus berakhir dengan sebuah skandal yang toh pada akhirnya aku pula yang rugi. Kejadian kemarin juga membuat wajahku merah padam. Bagaimana tidak, aku datang dengan sopan santun yang luar biasa tapi ia menyambutku dengan sinis. Aku tak tahu aku salah apa yang jelas dia mengusirku dengan alasan Dia tidak suka melihatku asistensi dengan rambut gondrong seperti ini padahal aku tak merasa kalau rambutku gondrong. Lagipula apa sih hubungannya skripsi dengan rambut gondrong toh otakku yang bekerja bukan rambutku yang katanya gondrong ini
“Braakk…” kutendang kursi yang ada di depanku. Kesabaranku habis kini. Skripsi di tanganku kulempar begitu saja. Ingin rasanya kumaki orang yang tidak punya perasaan itu. Proyek. Sebuah kata yang paling kubenci dan paling sering membuatku jatuh bangun. Penelitian yang kulakukan hampir setahun ini berantakan hanya gara-gara proyek. Bayangkan, aku yang harusnya seminar hari ini harus menahan getir mendengar kabar bahwa pembimbingku itu keluar kota karena ada proyek dadakan. Kemarin aku sudah mengingatkannya beberapa kali. Dan hari ini ? Kepalaku menjadi pusing memikirkan semuanya. Seandainya dosen itu memberitahukan keberangkatannya, mungkin aku bisa membuat surat pelimpahan pada pembimbingku yang satu. Tapi orang itu sama sekali tak memberikan informasi. Ia pergi begitu saja dan setelah aku mencoba menghubunginya, Ia hanya mengatakan bahwa Ia sama sekali tidak ingat kalau ada seorang mahasiswa bimbingannya yang akan seminar hasil. Aku hanya diam mengenang kegagalanku dan tinggallah aku disini sendiri menatap para peserta seminar yang keluar satu-satu. Mungkin sudah saatnya para birokrat kampus memperbaiki stafnya bukan hanya pada kualitas keilmuan tetapi juga keimanan sebagai landasan yang kuat untuk pelaksanaan sebuah tanggungjawab. Sebuah fenomena yang sangat umum memang ketika mahasiswa dituntut untuk menjadi seorang yang penurut. Bahkan retorika pun tak dapat mengalahkan mereka ketika hak-hak mahasiswa terabaikan hanya karena tuntutan ekonomi. Dan salah satu mahasiswa itu adalah aku. Sebagai mahasiswa aku merasa tersinggung diperlakukan seperti itu. Aku merasa hak-hakku terinjak-injak. Tapi lagi-lagi aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Aku harus membuang harga diriku hanya untuk sebuah gelar. Dan aku tak mau ayahku yang feodalis itu menjadi malu karena putra sulungnya keluar dengan status DO. Maka jadilah aku si penurut yang setia.
Azan mengalun indah dari masjid kampus. Sebuah moment yang mengharukan tatkala kelulusanku dinyatakan dan ditutup dengan suara panggilan suci itu. Aku sangat terharu, pun ketika saat ujian sidang tadi. Pembimbing yang selama ini ku cap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab ternyata sangat membantu. Bapak itu selalu mengarahkan aku bila aku terdiam tak menjawab pertanyaan dosen penguji yang berbelit-belit itu. Sosoknya yang sangat kebapakan membuatku melupakan segala kelakuannya selama ini. Dan kebencianku menguap seketika saat Ia menjabat tanganku hangat memberi ucapan selamat padaku. Masih kuingat ucapan sesalnya yang diluar dugaan itu,
”Nak..maafkan Bapak. Bukan maksud Bapak untuk tidak ramah padamu. Itu semua karena kau mengingatkan Aku pada putraku”
”Maksud Bapak ?” tanyaku tak mengerti
”Yah...terlalu egois memang karena aku telah melibatkanmu” Aku masih tak mengerti tapi kemudian Ia melanjutkan ucapannya,
”Wajahmu selalu membuatku tersiksa karena kau begitu mirip dengan putra tunggalku yang meninggal setahun lalu” jelasnya sendu. Aku melongo. Ternyata itulah penyebab semuanya. Alasan yang tidak logis memang tapi cukup membuatku terkejut. Ah...aku juga minta maaf Pak, aku telah berburuk sangka padamu, batinku
“Ada apa ?” tanyanya
“Eh…ini pak perbaikan skripsi saya yang kemarin” jawabku gugup
“Maaf, saya sedang sibuk”
“Apakah…apakah saya boleh datang ke rumah bapak ?” tanyaku perlahan
“Tidak bisa. Ini masalah akademik dan itu artinya harus diselesaikan disini” bentaknya marah.
“Ma…maaf pak, permisi” kataku tergagap sambil beranjak dari ruangan itu. Kuhempaskan tubuhku di bangku panjang koridor. Aku tak habis pikir apa maunya orang tua itu padahal tadi malam aku sudah menghubunginya untuk memastikan kesiapannya hari ini dan ia setuju untuk asistensi. Aku tak mengerti mengapa Ia menyambutku begitu dingin. Seandainya kejadiannya baru sekali ini mungkin tidak jadi masalah bagiku tapi peristiwa seperti ini sudah sering kurasakan. Kejadian seperti ini selalu berulang dengan berbagai alasan. Seharusnya sebagai dosen pembimbing ia mengarahkan dan membimbingku menyelesaikan tugas akhir ini. Tapi kenyataannya jauh dari apa yang kuharapkan. Orang itu begitu sibuk dengan kegiatannya diluar kampus bahkan jadwal mengajarnya pun kadang terhambat dan pada akhirnya mencari waktu lain utnuk mengganti jadwal kuliah yang ketinggalan. Dia juga selalu memasang wajah dingin setiap kali melihatku masuk ke dalam ruangannya bahkan paling sering Ia tidak mau melihat mukaku. Aku tak mengerti, sama sekali tak mengerti. Aku selalu mengikuti semua perintahnya bahkan harus betah mendengarkan semua petuah-petuanya kalau lagi baikan. Masih kuingat kejadian minggu lalu. Bapak itu menyuruhku men-translate sebuah buku yang tebalnya seratus halaman. Padahal isinya sama sekali tak ada hubungannya dengan skripsiku. Dengan susah payah kukerahkan seluruh tenagaku untuk membujuk teman-temanku agar mau membantu menyelesaikannya. Ingin rasanya aku melawan tapi aku sadar aku tak boleh seperti itu. Aku tak mau studiku yang sudah enam tahun ini harus berakhir dengan sebuah skandal yang toh pada akhirnya aku pula yang rugi. Kejadian kemarin juga membuat wajahku merah padam. Bagaimana tidak, aku datang dengan sopan santun yang luar biasa tapi ia menyambutku dengan sinis. Aku tak tahu aku salah apa yang jelas dia mengusirku dengan alasan Dia tidak suka melihatku asistensi dengan rambut gondrong seperti ini padahal aku tak merasa kalau rambutku gondrong. Lagipula apa sih hubungannya skripsi dengan rambut gondrong toh otakku yang bekerja bukan rambutku yang katanya gondrong ini
“Braakk…” kutendang kursi yang ada di depanku. Kesabaranku habis kini. Skripsi di tanganku kulempar begitu saja. Ingin rasanya kumaki orang yang tidak punya perasaan itu. Proyek. Sebuah kata yang paling kubenci dan paling sering membuatku jatuh bangun. Penelitian yang kulakukan hampir setahun ini berantakan hanya gara-gara proyek. Bayangkan, aku yang harusnya seminar hari ini harus menahan getir mendengar kabar bahwa pembimbingku itu keluar kota karena ada proyek dadakan. Kemarin aku sudah mengingatkannya beberapa kali. Dan hari ini ? Kepalaku menjadi pusing memikirkan semuanya. Seandainya dosen itu memberitahukan keberangkatannya, mungkin aku bisa membuat surat pelimpahan pada pembimbingku yang satu. Tapi orang itu sama sekali tak memberikan informasi. Ia pergi begitu saja dan setelah aku mencoba menghubunginya, Ia hanya mengatakan bahwa Ia sama sekali tidak ingat kalau ada seorang mahasiswa bimbingannya yang akan seminar hasil. Aku hanya diam mengenang kegagalanku dan tinggallah aku disini sendiri menatap para peserta seminar yang keluar satu-satu. Mungkin sudah saatnya para birokrat kampus memperbaiki stafnya bukan hanya pada kualitas keilmuan tetapi juga keimanan sebagai landasan yang kuat untuk pelaksanaan sebuah tanggungjawab. Sebuah fenomena yang sangat umum memang ketika mahasiswa dituntut untuk menjadi seorang yang penurut. Bahkan retorika pun tak dapat mengalahkan mereka ketika hak-hak mahasiswa terabaikan hanya karena tuntutan ekonomi. Dan salah satu mahasiswa itu adalah aku. Sebagai mahasiswa aku merasa tersinggung diperlakukan seperti itu. Aku merasa hak-hakku terinjak-injak. Tapi lagi-lagi aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Aku harus membuang harga diriku hanya untuk sebuah gelar. Dan aku tak mau ayahku yang feodalis itu menjadi malu karena putra sulungnya keluar dengan status DO. Maka jadilah aku si penurut yang setia.
Azan mengalun indah dari masjid kampus. Sebuah moment yang mengharukan tatkala kelulusanku dinyatakan dan ditutup dengan suara panggilan suci itu. Aku sangat terharu, pun ketika saat ujian sidang tadi. Pembimbing yang selama ini ku cap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab ternyata sangat membantu. Bapak itu selalu mengarahkan aku bila aku terdiam tak menjawab pertanyaan dosen penguji yang berbelit-belit itu. Sosoknya yang sangat kebapakan membuatku melupakan segala kelakuannya selama ini. Dan kebencianku menguap seketika saat Ia menjabat tanganku hangat memberi ucapan selamat padaku. Masih kuingat ucapan sesalnya yang diluar dugaan itu,
”Nak..maafkan Bapak. Bukan maksud Bapak untuk tidak ramah padamu. Itu semua karena kau mengingatkan Aku pada putraku”
”Maksud Bapak ?” tanyaku tak mengerti
”Yah...terlalu egois memang karena aku telah melibatkanmu” Aku masih tak mengerti tapi kemudian Ia melanjutkan ucapannya,
”Wajahmu selalu membuatku tersiksa karena kau begitu mirip dengan putra tunggalku yang meninggal setahun lalu” jelasnya sendu. Aku melongo. Ternyata itulah penyebab semuanya. Alasan yang tidak logis memang tapi cukup membuatku terkejut. Ah...aku juga minta maaf Pak, aku telah berburuk sangka padamu, batinku
0 komentar:
Posting Komentar