Penghujung Malam,

Ibu, aku bukan gadis kecilmu lagi. Bukan lagi anak manis yang selalu kau belai tiap kali kurebahkan tubuh kecilku di pangkuanmu. Kini aku telah menjelma menjadi seorang entah akan menjadi apa nantinya. Jiwaku sudah terlalu jauh dari siraman rohani hingga membuatku mengubur cita-citaku yang pernah kugantung tinggi mencapai langit biru. Tak ada lagi puisi-puisi manis menghiasi lembar-lembar kertas yang ada di buku harian ini juga setumpuk buku biografi orang-orang ternama dunia, bacaan kesukaanku sejak aku mengenal mereka karena kejeniusan yang dimiliki oleh orang-orang itu. Meja yang dulu banyak dipenuhi dengan buku ketika pertama kali pengukuhanku sebagai mahasiswa kini entah disebut apa, mungkin lebih tepat disebut kapal pecah yang hampir karam.

Kututup buku harian bersampul biru itu. Meskipun aku tidak seperti dulu lagi tetapi kebiasaanku menulis buku harian tak bisa kubuang. Bukan karena aku terlalu cengeng tapi itulah satu-satunya yang kuanggap bisa mengerti aku dan menjadi temanku disaat aku merasa sumpek oleh berbagai masalah yang tak bosan-bosannya menghampiriku.

Aku memang seorang wanita tapi tidak dengan jiwaku yang telah kaku dan jauh dari figur wanita yang keibuan. Dan dikamar kecil inilah tempatku berdiam diri dengan ditemani sebungkus rokok untuk menghabiskan malamku. Benda yang pernah kubenci setengah mati itu telah menjadi teman dekatku sejak tiga tahun silam. Sejak aku terusir dari kehidupan yang kujalani hingga usiaku genap dua puluh tahun. Waktu itu entah kenapa tiba-tiba aku ingin pulang kampung setelah sebelumnya aku bermimpi, mimpi yang menyesakkan dada. Aku berada ditaman kamboja. Aku tidak mengerti itu firasat apa. Yang kutahu air mataku bersimbah membasahi pipiku ketika kudapati wanita yang kukasihi terbujur kaku ditengah luapan tangisan yang menggores pilu. Aku tak tahu harus berbuat apa ketika itu. Yang jelas aku sangat merasa kehilangan. Seorang perempuan yang sangat berarti dalam hidupku meskipun darahnya tidak pernah mengalir dalam tubuhku karena aku memang anak angkatnya. Aku tak pernah tahu siapa orang tua yang melahirkanku. Aku hanya mengenal diriku sebagai anak angkat dari pasangan pengusaha yang tidak dikaruniai anak. Perempuan paruh baya itu telah pergi menyusul suaminya yang terlebih dulu berpulang setahun yang lalu. Saat aku terpekur dengan lamunanku mengenang kebersamaan itu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Tanpa permisi Om Hans yang saudara ipar Ibu langsung menyeretku keluar. Aku tak tahu kenapa, namun lelaki itu langsung berkata :
“Melly, kau tahu bagaimana posisimu sekarang ?” keningku berkerut tak mengerti apa yang baru dikatakan lelaki setengah baya itu. Aku baru menyadari ketika ia melanjutkan ucapannya
“Kau tak punya siapa-siapa lagi sekarang. Jadi aku harap kau tahu diri. Kopormu sudah menunggu diluar sana dan aku harap kau tak usah kembali lagi kesini” aku terhenyak mendengar perkataan lelaki itu. Bagaimana tidak , aku sudah dua puluh tahun menjadi bagian dari keluarga ini dan kini aku dipaksa meninggalkan semuanya. Hatiku memberontak tapi aku tak kuasa melawan. Hanya tetesan air mata yang terus mengalir mengiringi langkahku menjauh dari tempat itu. Itulah keluarga Ibu, mereka menginginkan ketidakhadiranku. Itu semata karena mereka takut kekayaan ibu akan jatuh ke tanganku. Aku memang tak sedarah dengan Ibu tapi rupanya pengakuannya tak mampu mempertahankan hakku sebagai seorang anak angkat.

Malam ini aku kembali meneruskan pekerjaanku ditemani dengan kepulan asap rokok yang kian memenuhi ruangan. Tanganku mulai menggores kanvas dengan warna kelabu membentuk seraut wajah dingin dibalik jeruji. Om Hans. Orang yang telah menukar kehidupanku dengan penderitaan. Penderitaan yang membuatku merangkak meniti hari-hari yang penuh liku. Lukisan itulah yang menjadi penghasilanku. Aku hanya bisa bekerja dengan tanganku. Aku memang telah menjadi pelukis liar, dimana orang membutuhkanku maka disitulah aku berada. Hidupku memang bergantung pada goresan tanganku karena itulah satu-satunya cara untuk berjuang melawan getirnya hidup. Lukisan-lukisan itulah yang membuatku bernafas hingga detik ini. Uang tabungan peninggalan ibu telah lama habis dan aku harus bisa menafkahi diriku sendiri. Aku tak punya apa-apa lagi. Aku hanya punya kuas dan kanvas sebagai modalku. Kuliahku semakin berantakan tapi aku tak peduli karena aku butuh uang untuk bertahan. Teman-teman pada menjauhiku. Mungkin karena penampilanku yang berantakan atau mungkin aku tidak lagi bertampang sebagai mahasiswa. Aku sangat memakluminya, mereka tak pernah mengenal siapa diriku.

***

Sudah seminggu gedung kesenian itu terlihat ramai. Pameran lukisan tingkat nasional yang diadakan di kota ini menyebabkan gedung itu padat dipenuhi oleh pengunjung. Aku berdiri tidak jauh dari tempat itu. Lukisan-lukisan yang tergantung rapi pada dinding-dinding gedung membuatku pesimis. Bagaimana tidak, lukisan-lukisan itu karya orang-orang ternama. Tidak seperti lukisanku yang menggantung kesepian dipojok ruangan tanpa satu pengunjungpun sudi melihatnya. Mungkin terlalu sederhana dibandingkan dengan lukisan yang lain. Aku tak butuh lukisanku mendapat predikat terbaik tapi yang aku inginkan hanya agar orang melihat lukisan sederhana itu. Lukisan yang menyiratkan penderitan bocah pencari kayu bakar tak berbaju. Mungkin seperti itulah gambaran diriku sebenarnya.

Hari ini adalah hari terakhir dari acara pameran lukisan yang diadakan di pusat kota itu. Suara dari mikrofon sedang membacakan nilai dari lukisan-lukisan terbaik karya anak negeri yang sudah beberapa hari dipajang. Kakiku melangkah menjauh dari ruangan itu. Samar-samar kudengar namaku disebut. Aku tidak mengerti. Aku hampir tak percaya ketika lukisanku dinyatakan sebagai lukisan terbaik. Kucoba bangkit dari ketidakpercayaanku dan tanpa sadar aku telah bersujud. Ya Allah, ampunilah aku yang telah lama mengabaikan keberadaanMu.

Pernah dipublikasikan oleh Penerbitan Kampus Identitas Unhas

0 komentar: