Gerimis masih saja turun sejak sore tadi. Langit kelam menyambut datangnya senja. Angin dingin yang merasuk tulang memaksaku masuk ke dalam kamar untuk mengambil sweeter biruku. Setelah merasa hangat aku kembali ke teras rumah, tempatku duduk sejak sore tadi. Kubuka kembali lembar demi lembar album foto ditanganku. Kembali terkuak dalam ingatanku betapa aku merindukan masa itu. Saat–saat terindah dalam hidupku, masa kecil yang begitu bahagia hingga membuatku tumbuh menjadi sosok yang percaya diri. Aku memang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuaku. Mungkin karena aku anak tunggal hingga aku selalu diperlakukan seperti itu. Tapi kini...ah entahlah. Hatiku sedih memikirkan semua itu terlebih karena beberapa hari lagi aku akan ujian meja.
Hari ini adalah hari istimewaku tetapi tidak dengan hatiku yang kurasakan sangat hambar. Toga yang kukenakan tidak membuatku bahagia sedikit pun seperti hari–hari kemarin ketika aku memikirkan bahwa sebentar lagi aku akan wisuda. Aku sebagai salah seorang wisudawan harus menahan keharuan melihat kursi VIP yang sedianya untuk orang tuaku itu harus kosong dan kepedihan bertambah tatkala mataku tertumbuk pada sosok temanku yang membimbing orang tuanya untuk duduk dibangku tamu. Aku yang masih berdiri dipojok gedung hanya menatapnya nanar karena aku disini tanpa pendamping. Tidak oleh temanku apalagi orang tuaku. Orang yang paling kucintai dalam hidupku tidak akan pernah hadir di tempat ini karena alam telah merenggut mereka dan membawanya pergi entah kemana. Yah….alam telah memporak-porandakan kampung halamanku, kota kecil yang selalu menjadi kebanggaanku. Aku memang terlahir sebagai anak Aceh dan kini aku harus bisa menahan getir melihat kota itu seperti kota mati tanpa penghuni. Ratusan jiwa melayang dalam sekejap mata dan orang–orang yang tesisa hanya bisa menatap tempat tinggalnya yang telah rata dengan tanah. Hampir semua orang meratapi kejadian itu dan banyak pula yang kehilangan orang–orang terkasih. Ayahku memang kembali bertugas ke kampung halaman sejak setahun yang lalu setelah lima tahun bertugas di kota daeng dan aku enggan meninggalkan kota ini karena aku sementara menyelesaikan tugas akhir. Kabar tentang bencana yang melanda tempat itu sempat membuatku shok. Aku tak mampu berkata–kata ketika kutahu rumahku ambruk diterjang badai. Mengapa…mengapa harus kota kecilku, kota yang dijuluki Serambi Mekah itu. Lamunku terputus ketika kudengar suara dekan fakultasku yang memintaku naik ke podium sebagai perwakilan lulusan terbaik universitas.
Sebulan sudah acara pengukuhanku sebagai sarjana. Kini aku memasuki dunia yang sangat asing bagiku dan orang menyebutnya dunia pengangguran. Dulu, pernyataan seperti itu selalu kutolak mentah–mentah dengan berbagai dalih dan kukatakan pada mereka hanya orang yang tidak berusaha saja yang akan jadi pengangguran. Tapi kini aku harus menelan ucapan itu kembali karena aku sadar betapa besar usahaku untuk mendapatkan pekerjaan tapi sampai saat ini aku tak berhasil sama sekali. Dan waktu yang memporak–porandakan hidupku membuatku pesimis. Tak ada lagi segudang percaya diriku seperti dulu ketika aku masih aktif di bangku kuliah. Aku telah kehilangan pijakanku. Kakiku seakan tak mampu menahan bobot tubuhku karena aku sadar aku telah kehilangan para motivator terbaikku.
Sungguh, aku selalu menyesali takdirku. Hal yang selama ini tidak pernah kulakukan karena aku selalu dibekali ketabahan dan kesabaran buah dari bimbingan orang tuaku. Hingga kini tiga bulan sesudah tragedi itu, aku masih tetap bersabar menyaksikan sisa puing–puing dari kota itu. Masih kuingat ketika pertama kali kudengar berita itu, aku langsung terbang ke kampung halamanku walaupun agak kesulitan karena jalur utama transportasi mengalami kerusakan. Aku menyaksikan betapa kotaku yang indah dulu kini seperti kota yang penuh dengan tumpukan sampah yang menggunung. Kubiarkan diriku menjelajah dari barak ke barak mencari sosok yang kukenal diantara puluhan bahkan ratusan pengungsi yang masih menyisakan trauma. Dan walaupun tindakan itu mungkin bisa dibilang nekat karena aku mencari diantara para tim evakuasi yang bertugas disana, aku tetap menyusuri semua tenda–tenda darurat. Aku tak peduli dengan isu penyakit yang mulai beredar di tempat itu. Dalam pencarianku yang tak kunjung berhasil itu aku memutuskan untuk kembali ke Makassar karena aku tak juga menemukan mereka. Aku harus menyelesaikan sisa skripsiku yang telah kutinggalkan. Hal yang selalu kulakukan setelah itu adalah mengikuti salah satu acara di sebuah stasiun televisi swasta yang selalu menampilkan berita terbaru tentang bencana itu. Sejak tragedi Desember lalu aku tak henti–hentinya menatap layar kaca itu. Aku memang telah kehilangan harapan tapi aku masih ingin menyaksikan sisa–sisa masa laluku disana juga orang–orang yang mungkin kukenali dengan menyaksikan siaran televisi itu. Kucoba mengenali tiap sosok yang tampil dalam acara itu tapi aku sadar aku tak mengenali orang–orang itu.
Hingga kini dalam statusku yang bukan mahasiswa lagi dan dalam keadaanku yang entah seperti apa, aku masih mengharapkan dapat melanjutkan studiku seperti rencanaku semula. Tapi rupanya aku harus mengubur cita–citaku karena semua itu mejadi sesuatu yang mustahil bagiku. Pernah aku mengajukan permohonan beasiswa tapi sampai saat ini aku tidak medapatkan informasi atau mungkin berkas–berkas itu sudah menjadi bagian dari tumpukan sampah. Ah …. aku tak tahu. Perjuangan melawan getirnya hidup terus kujalani karena aku harus terus melangkah meskipun dengan tertatih dan dengan bermodalkan ijazah aku terus merambah ke dunia yang sungguh asing bagiku. Dunia baru yang membuka mataku bahwa hidup tidak sekedar dengan kata–kata tetapi sebuah sikap yang bermotifkan doa dan usaha. Aku sadar aku salah karena sejak tragedi itu aku sudah jarang berdoa.
Dering telepon membuatku terhenyak. Aku beranjak dari keasyikanku menonton acara wawancara korban tsunami yang disiarkan langsung dari tempat kejadian. Dan gagang telepon ditanganku hampir terlepas ketika orang di seberang itu mengatakan bahwa aku mendapatkan kehormatan untuk melanjutkan studi di Australia, hadiah yang diberikan oleh almamaterku kepada lulusan terbaik universitas. Dalam pandanganku yang kabur oleh pedihnya air mata, kulihat sebentuk sosok dilayar kaca, wajah seseorang yang sangat kukenal dan tiba–tiba aku histeris.
“Ibuuu……..”
“Ibuuu……..”
Pernah dipublikasikan oleh Penerbitan Kampus Identitas Unhas
0 komentar:
Posting Komentar