Banyak orang bilang rumahku adalah surgaku. Pepatah yang mempunyai makna yang sangat dalam sebab di dalam rumahlah ditemukan ketenangan dan kedamaian nan indah. Di dalam rumah pula hidup seorang ratu bagi istana kecil dunia. Pun didalamnya hadir kesejukan dengan memandang bocah-bocah kecil yang lugu hingga hilanglah kerpenatan selama di luar rumah. Demikianlah sepotong kisah tentang indahnya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Tiga kata yang menjadi penggalan doa setiap orang ketika akad berkumandang. Seperti itulah gambaran yang dapat kusimpulkan dari pernikahan Kania, seorang perempuan muda yang tinggal tepat disamping rumahku. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri karena aku begitu dekat dengannya. Seorang perempuan cantik yang sangat bersahaja dan memiliki seorang pendamping hidup yang sepadan dengannya. Laki-laki yang baik tentunya. Dan perempuan itu pula yang selalu mengatakan padaku bahwa rumah adalah surga karena di rumahlah tempat terbahagia di dunia.
Rumahnya adalah madrasah ilmu bagi kedua anaknya yang masih kecil itu. Sebab dari lisan mungil mereka keluar lantunan kepatuhan akan ajaran sang Bunda. Sedang ayah dan ibunya adalah guru bagi keduanya. Hal yang paling menarik adalah rumah yang mereka tempati. Entah siapa yang mendesain rumah itu hingga tampak memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Aku bisa menjamin hampir semua orang yang lewat di depan rumah itu pasti akan menoleh karenanya sebab rumah mungil itu selalu tampak asri dengan taman bunga beraneka warna. Batu-batu kali yang ditata begitu apik membuat rumah itu terlihat anggun bersanding dengan sebatang pohon palem yang tumbuh menyepi di sudut taman lengkap dengan tanaman rambat yang berlomba menjulurkan daunnya mengambil tempat sepanjang pagar. Bagiku itu adalah rumah idaman. Terlalu sederhana memang tapi menurutku itu sudah cukup mewakili istana kecil dalam khayalanku. Tak pernah lelah mataku memandang rumah itu karena penghuninya tak pernah membiarkan seonggok sampah singgah di halaman rumahnya. Tangannya yang cekatan sigap merapikan tangkai-tangkai tanaman yang tumbuh liar sepanjang taman.
Untuk kesekian kalinya aku kembali memandang rumah itu dari jendela kamarku namun tatapan kekagumanku seketika berubah sendu. Samar-samar aku mendengar tangisan seorang perempuan. Ia terisak-isak. Meski aku tak melihatnya tapi aku mengenal suaranya. Itu suara Kania. Belakangan aku sering mendengar Ia menangis entah apa sebabnya. Rupanya ketenangan di dalam rumah itu pelan-pelan terkikis. Hingga usia pernikahan Kania genap delapan tahun aku mulai melihat perubahan itu. Tak kudengar lagi senandung ayat-ayat suci Al Quran yang selalu berkumandang merdu di rumahnya hingga menembus dinding-dinding kamarku.
Hari beranjak sore ketika tiba-tiba pintu rumahku diketuk orang dengan sedikit tergesa-gesa. Aku terkejut melihat Kania meghambur dalam pelukanku. Perempuan itu menangis sesenggukan. Napasnya satu-satu seakan menahan perasaan yang teramat berat dipikulnya. Wajahnya kuyu menyiratkan duka yang dalam. Ia mengungkapkan semua kepedihan jiwanya yang disimpannya sejak lama. Hatiku miris mendengarnya. Sesuatu telah merubah perangai laki-laki yang dinikahinya itu. Memang tak jarang aku mendengar ia membentak istrinya yang sabar itu dengan kata-kata yang sungguh tidak pantas ditujukan kepada siapapun. Dan bukan rahasia lagi ketika dalam keadaan mabuk ia sering memukul Kania hingga menyisakan lebam di wajah teduhnya. Pergaulan telah banyak merubahnya dan jabatan sebagai orang penting membuatnya lupa diri, lupa akan anak dan istrinya. Tanpa rasa sungkan laki-laki itu menyatukan diri dalam pergaulan malam bersama rekan-rekan kerjanya. Ia mulai menggemari minuman keras dan memilih kesenangan diluar rumah. Kesenangan yang dibeli dengan kekuasaan dan uang tentunya. Tidak jarang ia membawa perempuan lain ke dalam rumahnya sendiri dan di depan istrinya ia mengakui bahwa perempuan itu adalah simpanannya.Astaghfirullah.
Penderitaan yang lama disimpannya membuat kesehatan Kania semakin menurun. Aku tak menyangka kalau ia mengidap penyakit kronis. Penyakit yang bertambah-tambah seiring keresahannya menghadapi tingkah laku suaminya yang makin menggila. Entah setan apa yang sudah merasuki pikiran laki-laki itu hingga merubah sosoknya yang begitu berwibawa dan penyayang itu menjadi sosok yang entah masih pantas disebut manusia atau tidak. Dan di senja yang dingin perempuan itu menutup mata selamanya diatas pangkuanku. Hatiku pilu mengenang penderitaannya. Aku tak bisa menahan keharuanku tatkala kedua bocah yang ditinggalkannya membelai rambut ibunya seakan turut merasakan penderitaan itu. Aku tak mampu menahan air mata ketika memandang mata lugu mereka. Kurengkuh kedua anak itu.
***
Rumahku adalah surgaku. Pepatah singkat yang sarat akan makna tentang indahnya dunia. Namun kini tak kutemukan lagi pada sosok bangunan disamping rumahku sebab rumah itu sudah lama kosong. Hanya debu dan rayap yang jadi penghuninya. Aku hanya bisa menatap taman yang meranggas dari balik jendela kamarku. Sejak kematian Kania rumah itu sudah tak terurus lagi. Kedua anak Kania diasuh oleh neneknya di kampung. Dan suaminya, laki-laki brengsek yang menjadikan rumahnya sendiri sebagai tempat maksiat itu entah ada dimana. Mungkin dia sudah ditelan bumi sebab sampai kini tak ada kabar tentangnya. Sayup-sayup kudengar lantunan Surah Al Jaatsiyah : 23 mengalun merdu.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat
berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan
hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? maka siapakah
Yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?
1 komentar:
hati manusia ini cenderung labil.Mudah goyah dengan segala godaan.Apalagi sekarang himpitan ekonomi semakin terasa.Segala-gala di nilai dengan materi.Sjujurnya sy berpendapat di dunia ini ga ada laki-laki yang baik. kalaupun itu ada,ia terselip di antara triliun laki-laki brengsek
Posting Komentar